345
Redaksi |

Anekdot Sufi: Etika Menunggang Keledai

Patung Nasruddin di Ankara (wikipedia.org)

Suatu waktu para pelajar mengunjungi Syekh Nasruddin Hoja untuk memintanya mengisi kajian di tempat mereka. Syekh Nasruddin setuju. Kemudian mereka bersama-sama menuju tempat kajian akan diadakan. Para pelajar berjalan di belakang Syekh Nasruddin, sedangkan Syekh Nasruddin mengunggangi keledainya dengan posisi duduk terbalik, wajahnya menghadap ekornya.

Banyak orang menatap mereka dan berbisik-bisik. Tidak sedikit dari mereka yang mengatakan si penunggang keledai itu pasti orang bodoh, tapi orang-orang yang mengikutinya jauh lebih bodoh.

Beberapa saat kemudian, para pelajar itu mulai gelisah, salah satu dari mereka berkata kepada Syekh Nasruddin.

“Syekh, orang-orang melihat kita. Kenapa Syekh menunggangi keledai dengan cara seperti ini?”

Syekh Nasruddin mengerutkan keningnya. “Kenapa kalian lebih memikirkan apa yang dikatakan dan dipikirkan orang lain daripada memikirkan makna dari apa yang kita lakukan ini,” katanya di atas keledainya. “Aku akan menjelaskannya. Begini, jika kalian berjalan di depanku, itu menunjukkan tidak hormat kepadaku, karena kalian memunggungiku. Jika aku berjalan di belakang kalian, sama saja. Jika aku menunggang keledai dengan menghadap ke depan, tidak dengan cara seperti ini, itu menunjukkan tidak hormat kepada kalian, karena aku memunggungi kalian. Ini adalah satu-satunya cara untuk melakukannya.”


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending