477
A. Adib Amrullah |

Apakah Diterima Puasa Orang yang Meninggalkan Shalat?

Gambar masrawy.com

Oleh Syeikh Dr. Ali Jum’ah

___________________________________________________

Terjemah padat (ringkas) oleh A. Adib Amrullah* dari kumpulan fatwa Syeikh Dr. Ali Jum’ah yang diterbitkan dengan judul al-Bayân al-Qawîm li Tashhîh Ba’d al-Mafâhîm dari halaman 130.

____________________________________________________

Pertanyaan:

Diterimakah puasa orang yang meninggalkan shalat?

Jawaban:

Tidak sepatutnya bagi seorang muslim meninggalkan ataupun meremehkan sholat, karena Allah dan Rasulnya sangat tegas sekali dalam memberikan ancaman sanksi dalam masalah ini. Nabi bersabda:

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر

“Perbedaan antara kita (orang-orang muslim) dan mereka (orang orang kafir) adalah shalat, maka siapapun yang meninggalkannya maka kufurlah ia.[1]

Seyogyanya setiap muslim melaksanakan shalat agar tidak termasuk golongan orang orang yang disebut Allah dalam al-Qur’an:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 85)

Adapun masalah diterima dan tidaknya puasa orang yang meninggalkan shalat adalah perkara yang belum pernah dibahas oleh para ulama, karena perkara seperti ini adalah perkara “yang dipasrahkan” kepada Allah.

Kita tentunya mengharapkan Allah menerima puasa setiap orang yang berpuasa, namun jika dilihat, orang yang berpuasa tanpa meninggalkan shalat lebih mempunyai “kemungkinan diterima” daripada orang berpuasa yang meninggalkan shalat.

Terkait dengan sah dan tidaknya puasa orang tersebut, walaupun ia sedang melakukan sesuatu yang sangat riskan dalam agama—meninggalkan shalat—namun puasanya tetap dianggap sah, karena untuk memenuhi syarat sah puasa, mendirikan shalat tidak termasuk di dalamnya, tetapi perlu dicatat bahwa meninggalkan shalat tanpa udzur syar’i termasuk dosa besar, dan bagi siapapun orang Islam yang sengaja melakukannya maka hendaknya ia segera mengambil jalur taubat kepada Allah.

Wallahu a’lam

ُEndnote:

[1] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, juz 5, hlm 356, Imam Tirmidzi dalam kitab Sunannya, juz 5, hlm 13, Imam al-Nasa’i dalam kitab Sunannya, juz 1, hlm 231, dan Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak, juz 1, hlm 48

*****

Berikut foto scan kitab dan halaman yang diterjemahkan:

__________________________________

Syeikh Dr. Ali Jum’ah, Ulama asal Mesir yang menguasai berbagai disiplin ilmu agama. Beliau menjadi Mufti Mesir dari 28 September 2003-11 Februari 2013. Beliau menulis lebih dari delapan puluh buku yang membahas berbagai disiplin ilmu agama: akidah, fikih, tasawuf, ushul fikih, hadis, dan lain sebagainya. Sampai saat ini beliau masih aktif mengajar di Universitas al-Azhar dan berbagai halaqah keilmuan.

___________________________________

*) A. Adib Amrullah, Alumnus Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebuman dan Penulis Buku “Sajak Dua Puluh Lima Nabi”


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending