434
A. Adib Amrullah |

Apakah Rasulullah Cahaya?

Foto media.almasryalyoum.com

Oleh Syeikh Dr. Ali Jum’ah

___________________________________________________

Terjemah padat (ringkas) oleh A. Adib Amrullah* dari kumpulan fatwa Syeikh Dr. Ali Jum’ah yang diterbitkan dengan judul al-Bayân al-Qawîm li Tashhîh Ba’d al-Mafâhîm dari halaman 8-9.

____________________________________________________

Pertanyaan :

Apakah Rasulullah SAW adalah cahaya, ataukah manusia biasa sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an?

Jawaban :

Benar, Nabi Muhammad SAW adalah cahaya. Allah SWT berfirman :

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

“Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.” (Q.S. al-Maidah: 15)

Allah juga berfirman :

وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

“Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (Q.S a;-Ahzab: 46)

Jadi memang benar bahwasanya Rasulullah SAW adalah cahaya dan menerangi, dan sangat tidak salah jika kita menyebutnya sebagai cahaya, karena Allah pun telah menamainya cahaya.

Diriwayatkan dari para sahabat yang mengatakan:

إنّه وجهه صلي عليه وسلم كالقمر

“Sesungguhnya wajah Rasulullah SAW seperti rembulan.”[1]

Di riwayat lain, ketika ibu Rasulullah (Sayyidah Aminah) mengandungnya, dikatakan bahwa:

رأت نورا أضاء لها قصور بصري من أرض الشام

“Dia melihat cahaya meneranginya hingga dapat melihat istana Basra di negeri Syam.” [2]

Dalam riwayat lainnya, para sahabat radliya Allah ‘anhum mengatakan:

النبي عندما دخل المدينة أضاء منها كل شيء وعندما مات أظلم منها كل شيء

“Ketika Nabi SAW memasuki kota Madinah menjadi teranglah segala sesuatu di kota itu, ketika Nabi SAW wafat menjadi gelaplah segala sesuatu di kota itu.” [3]

Selain itu, banyak atsar dan hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah cahaya. Tidak seyogyanya kita menganggap Kanjeng Nabi adalah cahaya yang kasat mata, yang bisa dilihat sinarnya oleh semua manusia, tapi dengan dasar akidah yang kuat, beliau adalah cahaya yang menerangi.

Dan pada waktu yang sama beliau juga mempunyai sifat manusia, namun sifat kemanusiaan beliau bukan seperti manusia biasa, karena beliau diberi wahyu oleh Allah, sebagaimana yang dipaparkan oleh al-Qur’an:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Q.S. al-Kahfi: 110)

Jadi, jalan tengahnya adalah kita harus meyakini apa yang dipaparkan al-Qur’an yang menyatakan beliau adalah cahaya yang menerangi, dan beliau adalah manusia tapi bukan manusia biasa. Bulan pun secara bentuk adalah batu, tapi ia dapat memberikan cahaya dan menerangi, apalagi Rasulullah SAW yang sudah tentu lebih mulia daripada bulan dan seluruh makhluk Allah lainnya.

Wallahu A’lam.

Endnote:

[1] Diriwayatkan oleh Imam al-Nasai dalam al-Kubrâ, juz 5, hlm 187 dan juz 6, hlm 155, Imam al-Thabrani dalam al-Kubrâ, juz 10, hlm 147, dan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyebut riwayat ini dalam kitab al-Ishâbah, juz 6, hlm 180

[2] Diriwayatkan oleh Imam al-Thabrani dalam Tarîkhnya, juz 1, hlm 458, Imam Ibnu Hisyam dalam al-Sîrah al-Nabawiyyah, juz 1, hlm 302, dan Imam Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliyâ’, juz 1, hlm 374

[3] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, juz 3, hlm 268, Imam al-Tirmidzi dalam Sunannya, juz 5, hlm 588, Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, juz 1, hlm 522, dan Imam Ibnu Hibban dalam Shahîhnya, juz 14, hlm 601

*****

Berikut scan halaman kitab yang diterjemahkan:

__________________________________

Syeikh Dr. Ali Jum’ah, Ulama asal Mesir yang menguasai berbagai disiplin ilmu agama. Beliau menjadi Mufti Mesir dari 28 September 2003-11 Februari 2013. Beliau menulis lebih dari delapan puluh buku yang membahas berbagai disiplin ilmu agama: akidah, fikih, tasawuf, ushul fikih, hadis, dan lain sebagainya. Sampai saat ini beliau masih aktif mengajar di Universitas al-Azhar dan berbagai halaqah keilmuan.

___________________________________

*) A. Adib Amrullah, Alumnus Assiddiqiyah Islamic College, Kedoya, Jakarta. Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebuman dan Penulis Buku “Sajak Dua Puluh Lima Nabi”


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending