430
A. Adib Amrullah |

Hukum Onani

Sumber gambar viva.co.id

Onani dengan tangan (al-istimnâ’ bi al-yad) termasuk perkara yang tercela dan membahayakan manusia, oleh karenanya mayoritas ulama ahli fiqih mengharamkannya dengan dalil:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. al-Ma’arij [70]: 29-31)

Orang yang melakukan onani dengan tangannya sendiri berarti telah “mencari yang dibalik itu” untuk menuruti syahwatnya, tapi diperbolehkan dengan tangan atau anggota tubuh isterinya yang lain, yang tidak dilarang agama.

Dalam sebagian pendapat ulama Hanafiyah, Syafi’iyyah dan Imam Ahmad, hukumnya adalah makruh tanzih (annahu makrûhun tanzîhan) atau sebaiknya dijauhi. Tetapi, jika onani dengan tangan (al-istimnâ’ bi al-yad) dilakukan untuk mengendalikan atau menekan syahwat yang menggebu dan ditakutkan terjerumus zina, dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah secara umum hukumnya diperbolehkan (fa huwa jâ’iz fi al-jumlah), bahkan ada yang mewajibkannya (bal qîla bi wujûbihi) seperti Imam Ibnu Abidin dari kalangan ulama Hanafiyyah. Mereka (para ulama yang memperbolehkan) memandang bahwa keadaan seperti itu sama saja dengan keadaan darurat atau memilih kemudaratan yang lebih ringan dari dua kemudaratan.[1]

Dalam pendapat lain Imam Ahmad mengatakan bahwa onani dengan tangan diharamkan meskipun takut akan terjerumus dalam perzinahan, karena sudah ada solusi penggantinya, yaitu puasa (annahu yahrumu wa lau khâfa al-zinâ li annahu lahu fî al-shaum badîlan).[2] Hal ini dikarenakan adanya hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatakan:

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فانه اغض للبصر و احصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فانه له وجاء

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu diantara kalian “bâ’ah” (menikah), maka menikahlah. Karena menikah itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, baginya (ada solusi) puasa. Karena puasa itu merupakan obat pengekang.” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Oleh karena itu, sudah seyogyanya para pemuda mengikuti hadis Rasulullah di atas. Karena bagaimana pun juga, mudarat onani sangat besar baik dari segi kesehatan tubuh maupun akal, ditambah hukum dasarnya yang haram:

الإستمناء باليد إن كان لمجرد استدعاء الشهوة فهو حرام في الجملة لقوله تعالي

“Beronani menggunakan tangan jika murni karena memenuhi nafsu syahwat maka hukumnya adalah haram secara umum, karena firman Allah SWT ……….. (baca Q.S. al-Ma’arij 29-31 di atas).” [3]

Wallahu a’lam….

Endnote:

[1] Lih. al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 4, hlm 98

[2] Lih. al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 4, hlm 98

[3] Lih. al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 4, hlm 98

________________

*) A. Adib Amrullah, Alumnus Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebuman dan Penulis Buku “Sajak Dua Puluh Lima Nabi”


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending