Menempatkan Firman dan Sabda di Tempatnya

Sumber gambar di sini

Sering kita mendengar ungkapan, “tamu adalah raja,” bahkan dalam tradisi tertentu tamu dianggap sebagai tuhan yang wajib dihormati dan dipuja. Dalam kultur Islam, seorang tamu memiliki hak tertentu, begitu juga dengan tuan rumah. Islam selalu meletakkan keseimbangan (keadilan) sebagai instrumen dalam prosedur penerapan dan pengambilan hukumnya (istinbât al-ahkâm). Jika syarat-syarat keseimbangan itu tidak terpenuhi, maka hukum atau tradisi tersebut perlu ditelaah ulang. Contohnya dalam masalah tamu dan tuan rumah. Kanjeng Nabi Muhammad saw, bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الأخِر فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka wajiblah dia untuk memuliakan tamunya.” (H.R. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Kata “falyukrim” pada hadis di atas terdiri dari “fa” (maka) sebagai jawab dari huruf syarat “man” (barangsiapa) dan “lam amar” yang menunjukkan makna perintah. Ini mengindikasikan bahwa kandungan makna dalam kalimat tersebut memiliki otoritas pelaksanaan yang luhur. Di sisi lain, pemilihan kata “falyukrim” yang berarti memuliakan juga dipertimbangkan sebagai sesuatu yang lebih tinggi dari sekedar menghormati. Dari segi kebahasaan, memuliakan mengarah pada makna totalitas dalam melayani sepenuh hati, sementara menghormati masih menyisihkan ruang basa-basi dalam aktifitas melayaninya.

Baca juga: Jangan Kaget, Semuanya Akan Berubah

Keluhuran makna hadis di atas akan kurang berarti jika tidak ada hukum penyeimbangnya (hukum adil); ada hak untuk tamu, maka harus ada pula hak untuk tuan rumah. Kenapa demikian? Jika tidak ada keseimbangan dalam sesuatu, tidak ada pula kesetaraan dalam sesuatu. Nalar budaya Islam tidak mengijinkan hal itu terjadi. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur [24]: 27)

Ayat di atas menjelaskan tentang etika bertamu, yaitu jangan seenaknya memasuki rumah orang lain tanpa izin dan memberi salam terlebih dahulu. Di ayat selanjutnya Allah berfirman:

فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤْذَنَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nuur [24]: 28)

Dua ayat tersebut adalah penyeimbang (keadilan) dari hadis memuliakan tamu. Di dalamnya tercakup hak dan adab bagi kedua belah pihak. Etika dalam bertamu dan menerima tamu bisa dikatakan semacam kontrak untuk mendapatkan kemuliaan dan keadilan bersama. Oleh karena itu, penting rasanya menempatkan sesuatu pada tempatnya untuk merealisasikan cita-cita Islam yang luhur.

Baca juga: KH. Hasyim Asy’ari dan Karl von Smith

Bukankah akan sangat lucu jika tuan rumah menggunakan ayat “etika bertamu” di saat menerima tamu, dan tamu menggunakan hadis “falyukrim dlaifahu” (memuliakan tamu) di saat bertamu, sehingga dia berlagak seperti raja karena ada dalil yang memerintahkan tuan rumah harus memuliakan tamu, kalau tidak, iman mereka taruhannya.

Gambaran sederhananya begini. Misal kita adalah tamu, kita tidak boleh menggunakan hadits falyukrim atau pun ungkapan, “tamu adalah raja,” sebagai titik ukur etika kita. Begitu pula dengan tuan rumah, dia tidak boleh seenaknya menggunakan dua ayat di atas sebagai pendekatan etikanya dalam menerima tamu. Jika itu terjadi, akan terjadi kerancuan dalam penerapan etika (akhlak) yang benar (seimbang dan adil). Akibatnya, realisasi keadilan hak seorang muslim kepada muslim lainnya tidak berjalan mulus. Inilah kenapa kita harus memahami betul penempatan dalil-dalil agama agar kita tahu hak kita atas sesuatu dan hak orang lain atas itu juga.

Kesimpulannya, setiap dalil memiliki prosedur fungsinya masing-masing. Apa yang dikemukakan di atas sekedar contoh kecil dari luasnya Islam. Paling tidak contoh tersebut dapat memotret sedikit gambaran tentang banyak hal. Ya, walaupun foto yang dihasilkan masih terlalu kecil untuk dapat dilihat. Wallahu a’lam…

_______________

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending