1635
Munawwir Yamin |

Al-Qur’an: Memberi Syafa’at atau Laknat

 

Jangan cepat menilai tulisan ini bertujuan untuk merendahkan Al-Qur’an, namun sebaliknya untuk memuliakannya sebagai kalamullah yang isinya tidak gampang dipermainkan. Al-Qur’an adalah Kitab Suci umat Islam, siapa yang menjadikan sebagai pedoman hidupnya maka ia akan selamat dunia dan akhirat. Dengan cara menjadikan sebagai pedoman hidup sehari-hari dengan membacanya sekaligus mengamalkannya.

Akan tetapi, al-Qur’an juga bisa melaknat. Sebagaimana ditulis dalam kitab “Nashoihuddiniyyah” karya al-Imam Sayyid Abdullah bin Alwi al-Hadad, Rasulullah bersabda, “Banyak yang membaca al-Qur’an sedangkan al-Qur’an melaknatnya”. Kita sering melihat perbuatan orang Islam yang mengerti al-Qur’an, tapi menukarkan dan menjual belikan ayat-ayat-Nya dengan imbalan sangat rendah dan bukan pada tempatnya, misalnya untuk kepentingan politik.

Dalam kitab karya Imam Ghazali, “Mau’idzatul Mu’minin” menyatakan bahwa, laknat diberikan kepada orang yang membaca al-Qur’an tetapi tidak mau mengamalkan kandungannya. Allah mencela orang-orang yang membaca tetapi lalai dan lengah untuk melaksakan isinya. Sebagaimana diungkapkan dalam kitab “Ihya Ulumiddin” karya Imam Ghazali (menurut para ahli, ini adalah ucapan Anas bin Malik) yaitu: كم من قارئ للقران والقر ان يلعنهBetapa banyak orang membaca al-Qur’an sedangkan al-Qur’an sendiri melaknatnya”.

Oleh karena itu agar al-Qur’an selalu memberikan syafaat kepada pembacanya, paling tidak harus selaras dengan huruf-huruf al-Qur’an yaitu: قٓ ر ا ن  Pertama, huruf ق (qaf) sifatnya qalqalah, artinya guncang. Setiap orang yang menempuh jalan untuk menjadi ahlul Quran akan diuji oleh Allah dengan cobaan mengonjang-ganjingkan kehidupannya.

Kedua, huruf ر (ro’) Sifatnya taqrir, artinya mengulang-ulang, meskipun cobaan demi cobaan yang menimpanya dan akan mengguncang hidupnya, sekali-kali jangan pernah berhenti, karena Qur’an harus dibaca berulang-ulang meskipun sudah hatam, kalau tidak, al-Qur’an akan mendapat kendala dihapalannya.

Ketiga, huruf ا (hamzah) sifatnya syiddah berarti kuat. Maksudnya, harus benar-benar kuat menjaga Quranmu dengan membaca dan membacanya lagi meskipun hidupmu tertimpa masalah yang tidak kunjung selesai. Siapa yang ngerumat akan jadi keramat, yang meremehkan akan sumeleh.

Keempat, huruf ن (nun) sifatnya idzlaq, artinya ringan. Insyaallah, kalau kuat dan sabar atas segala cobaan yang mengguncang jiwa raganya, sembari mengistiqomahkan ngaji dengan terus menerus nderes al-Quran, hidup matinya akan ringan dan mendapat syafaat yang luar biasa dari al-Quran, seringan mulut ini mengucapkan huruf nun.

*) Drs. KH. Munawwir Yamin, MBA, Direktur Nurudh Dholam Institute

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending