193
Muhammad Afiq Zahara |

Mengaji Puasa Bersama Sayyid Abdul Aziz al-Daranî #1

Sumber gambar www.masrawy.com

Hai…! jumpa lagi, kali ini kita akan menyebrangi lautan ilmu Sayyid Abdul Aziz al-Darani (w. 697 H), lautan ilmu itu adalah kitab beliau yang berjudul, “Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb.” Spesial hari ini, kita akan lihat sepintas bab “fî Taqdlîm wa Qudûm Ramadlân”. Semacam upaya dan persiapan dalam menghadapi kedatangan bulan suci Ramadan. Meski sudah terlambat, tapi ya tak apa lah, kan Ramadan masih panjang. Yuk diikuti…

Kita akan mulai kajian ini dengan kisah singkat yang diutarakan Sayyid Abdul Aziz al-Darani. Berikut kisahnya:

كانت امرأة متعبدة لا تنام من الليل إلا يسيرا فعوتبت في ذلك فقالت: كفي بطول الرقدة في القبور رقادا

“Ada seorang wanita ahli ibadah. Dia tidak pernah tidur di malam hari kecuali sebentar saja. Karena itu seseorang menegurnya. Wanita itu menjawab: ‘cukuplah tidur lama di kuburan kelak sebagai tidur (peristirahatan).”[1]

Dengan mengajukan kisah ini, Sayyid Abdul Aziz hendak mengajak kita untuk mempersiapkan diri secara batin dalam menyambut Ramadan. Niat yang tulus hanya akan hadir dari kesiapan jiwa yang baik. Salah satu cara penyiapan jiwa yang baik adalah dengan memperkuat perasaan takut akan siksaNya dan rindu akan ridaNya. Penggunaan kata “tidur lama di kuburan kelak, sebagai tidur peristirahatan” memberikan beberapa hal untuk dipahami:

Pertama, untuk merasakan istirahat panjang di alam kubur, kita harus bersih dari dosa atau hanya memiliki sedikit dosa, dan banyak amal. Banyaknya amal pun belum bisa menjamin kenikmatan istirahat kita di alam kubur tanpa rahmat Allah SWT.

Kedua, bahwa dunia adalah tempat pencari bekal untuk kehidupan yang sesungguhnya, yaitu kehidupan akhirat. Dan yang terakhir, ketiga, orang yang tidak menyiapkan bekal dan menanggung banyak dosa tidak bisa beristirahat dengan tenang di kuburnya. Dia akan disiksa karena dosa dan kejahatannya selama hidup.

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Syekh Abdul Halim Mahmud #1

Sebelum berkisah tentang wanita ahli ibadah itu, Sayyid Abdul Aziz al-Darani memberikan pertanyaan kontemplatif kepada kita. Beliau menulis:

تفكر لماذا خلقت؟ فمن يرد الله به خير يفقهه في الدين. النفس لا تكاد توافقك طوعا فخذ آلة الحرب

“Berpikirlah kenapa kau diciptakan? Karena orang yang dikendaki Allah kebaikan akan dipahamkan (dididik) dalam persoalan agama. Nafsu nyaris tidak akan mengikutimu dengan sukarela, ambillah peralatan perang (untuk berjuang melawannya).”[2]

Sayyid Abdul Aziz mendorong kita untuk berpikir kenapa kita diciptakan. Pertanyaan itu dijawab Allah dengan sederhana, “li-ya’budûni—agar manusia dan jin mengabdi padaKu.”[3] Jawaban ini memiliki sisi teoritis sekaligus praktis. Bisa saja kita memberikan jawaban panjang lebar menggunakan berbagai pendekatan, tapi efeknya tidak akan sebesar jawaban simple di atas yang bisa dipahami semua orang dalam kehidupan sehari-hari. Jawaban yang bisa katakan sebagai sumber asal pedoman hidup manusia, yaitu menyembah dan mengabdi kepadaNya.

Jawaban ini pun bergaris lurus dengan pernyataan Sayyid Abdul Aziz al-Darani tentang orang yang dikehendaki Allah kebaikan, dia akan dipahamkan dalam persoalan agama.[4] Bukan berarti jika ada orang jahat, itu karena Allah tidak menghendakinya kebaikan, bukan. Kita harus memandang hadis itu dalam bingkai “kehendak universal Tuhan”, yaitu kebaikan untuk seluruh ciptaanNya, khususnya manusia. Tidak mungkin Tuhan menghendaki keburukan untuk makhlukNya, sangat tidak mungkin. Tuhan selalu menghendaki kebaikan untuk seluruh makhlukNya. Salah satu buktinya adalah diturunkannya berbagai kitab suci dan diutusnya para nabi dari masa ke masa untuk mendidik manusia dan memahamkannya soal agama.

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Syekh Abdul Halim Mahmud #2

Karena itu, Sayyid Abdul Aziz al-Darani menasihati kita untuk mengambil perlengkapan perang melawan hawa nafsu. Orang yang dikuasai oleh hawa nafsunya, akan sukar menerima pendidikan dan pemahaman agama dengan baik, padahal itu kehendak Allah. Artinya, orang yang tidak aktif dan pasrah menerima ketetapan Allah, dalam hal ini adalah “menghendaki kebaikan—yurid bihi khairan”, dia telah berdosa. Hadis itu mendorong kita untuk welcome pada kehendak baik Allah untuk manusia, sehingga kita bisa menerima pendidikan dan pemahaman agama yang menyelematkan kita di dunia dan akhirat.

Nah, bulan Ramadan ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaharui hati kita agar lebih bersih dari sebelumnya, dengan berpuasa, memperbanyak ibadah dan memanjatkan doa kepadaNya. Di tengah-tengah doanya, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mengatakan:

تحيّرت العقول في وصف جلالك وعجزت الأفهام عن الإحاطة بكمالك

“Akal kebingungan dalam menggambarkan kebesaranMu dan pengetahuan terlalu lemah untuk meliput kesempurnaanMu.”[5]

Hmmm, sudah dulu ya, sudah sore nih, kita lanjut besok ya, waktunya masak-masak, hehehe, selamat berpuasa….

Endnote:

[1] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, hlm 145

[2] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, hlm 145

[3] Lih. Q.S. al-Zariyat [51]: 56

[4] H.R. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim

[5] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, hlm 146

___________________

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending