191
Muhammad Afiq Zahara |

Mengaji Puasa Bersama Sayyid Abdul Aziz al-Daranî #2

Sumber gambar sayidy.net

Sore! Kali Sayyid Abdul Aziz al-Darani akan membincangkan sesuatu. Untuk lebih jelasnya ikuti saja, yuk….!

Kajian ini akan didahului dengan sebuah riwayat yang mengisahkan dialog dua malaikat. Diceritakan oleh Sayyid Abdul Aziz al-Darani:

أنّ ملكين من السماء كل يوم يقول احدهما: يا ليت الخلق لم يخلقوا, ويقول الآخر: ليتهم إذا خلقوا علموا لماذا خلقوا. ويقول الأول: ليتهم إذا علموا لماذا خلقوا عملوا بما علموا. ويقول الآخر: ليتهم إذا لم يعلموا تابوا مما عملوا. ويقال: العمر بضاعة والرابح من صرفه في الطاعة

“Sesungguhnya dua malaikat dari langit setiap hari (turun). Salah satu dari dua malaikat tersebut berkata: “Alangkah baiknya kiranya manusia tidak diciptakan!” Berkata malaikat yang lain: “Alangkah baiknya, andai mereka tahu kenapa mereka diciptakan!” Berkata malaikat yang pertama: “Sekiranya mereka tahu kenapa mereka diciptakan, tentu mereka akan beramal shaleh dengan pengetahuannya.” Berkata lagi malaikat lainnya: “Kiranya mereka belum beramal shaleh, mereka bertaubat dari apa yang telah mereka lakukan.” Dikabarkan bahwa umur adalah barang dagangan. Orang yang memperoleh laba adalah orang yang membelanjakannya dalam ketaatan.”[1]

Dengan mengutip riwayat di atas, Sayyid Abdul Aziz al-Darani hendak menyadarkan manusia dari tidur panjangnya. Mengingatkan manusia bahwa sekali waktu di zaman yang sangat dahulu malaikat pernah mempertanyakan kebijakan Tuhan yang hendak menciptakan manusia. Pertanyaan para malaikat itu bukan pertanyaan biasa, tapi pertanyaan yang langsung disertai tuduhan, “ataj’alu fîhâ man yufsidu fîhâ wa yasfiku al-dimâ’a—apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.”[2] Riwayat di atas mengingatkan kita akan hal itu, bahwa manusia dengan segudang kualitas baiknya memiliki potensi berbuat jahat dan dosa.

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Sayyid Abdul Aziz al-Darani #1

Dalam kajian kali ini, kita tidak akan membicarakan kejahatan dan dosa yang “wah”, kita akan fokuskan kajian kita pada aspek acuhnya manusia terhadap dirinya sendiri. Syekh Hamza Yusuf sering melabeli manusia dengan istilah “orang yang tidur berjalan” untuk menunjukkan ketidak-mampuan manusia dalam mengenali kualitas dirinya. Dia (manusia) hidup, bernafas, tidak sedang tidur, bergerak, tapi kesadarannya sebagai manusia dan makhluk yang diproyeksikan Tuhan sebagai khalifah di muka bumi tidak berfungsi dengan baik. Jangankan menjadi khalifah di muka bumi yang berarti harus menjadi “khair al-nâs anfa’uhum li al-nâs—sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna untuk lainnya”, menjadi khalifah untuk dirinya sendiri saja masih jauh dari kata sampai.

Karena itu, dalam diskusi dua malaikat di atas, kita bisa temukan kerangka sederhana tentang taraf kesadaran manusia. Kerangka sederhana itu bisa kita anggap sebagai, atau paling tidak cara pandang malaikat dalam memahami manusia. Malaikat pertama membayangkan andai saja manusia tidak diciptakan, pasti tidak ada kejahatan di muka bumi ini. Malaikat yang lain memandang, andai saja manusia menyadari kenapa mereka diciptakan. Kemudian diteruskan oleh malaikat pertama, “tentu mereka akan banyak beramal shaleh.” Namun, menurut malaikat kedua, mengetahui alasan kenapa mereka diciptakan (untuk mengabdi kepada Allah), masih belum cukup. Karena banyak orang yang mengetahuinya, tapi tetap bermaksiat. Sebab itu, malaikat kedua berharap manusia agar lekas bertaubat dari apa yang telah mereka lakukan.

Ini berarti taubat merupakan tangga pertama yang harus dinaiki manusia untuk menuju Tuhannya. Hampir semua manusia tahu bahwa berbohong adalah dosa, tapi banyak manusia yang tetap melakukannya. Pengetahuannya tidak menjadi detektor efektif dalam dirinya, sekedar deteksi sepintas lalu yang tidak berpengaruh apa-apa.

Ditambah lagi di akhir riwayat, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mengutip sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa umur manusia adalah barang dagangan, orang yang meraup untung besar adalah orang yang membelanjakannya dalam ketaatan. Artinya, kita sedang berpacu dengan waktu. Kematian bisa datang kapan saja. Tanggal kadaluarsa manusia tidak bisa dipastikan seperti produk-produk masa kini. Setiap waktu adalah peluang. Berdagang dengan Allah tidak terbatas oleh waktu dan tempat tertentu, kapanpun dan dimanapun.

Baca juga: Haji dalam Spiritualitas Sufi

Dengan mengutip riwayat tersebut dalam bab yang menjelaskan persiapan menyambut bulan suci Ramadan, Sayyid Abdul Aziz al-Darani ingin mencambuk hati kita agar lebih waras dalam menjalani kehidupan. Sadar bahwa kita sedang hidup, tidak sekedar berjalan kesana-kemari tanpa membawa dan memberi kemanfaatan untuk diri sendiri dan orang di sekitar kita. Kemudian beliau berdoa untuk menyambut Ramadan:

إلهي إنّ قلوبنا موقنة بصدق ما وعدت ونفوسنا طامعة بحسن ما عوّدت, ألهمتنا معرفة وجودك وعاماتنا بكرمك وجودك وزيّنتنا بصدق توحيدك وأنطقتنا بتمجيدك وتقديسك وتحميدك وأكرمتنا بصدق محمد خير خلقك صلي الله عليه وعلي آله وصحبه وسلم

“Tuhanku, sungguh hati kami yakin dengan kebenaran yang Kau janjikan, dan jiwa kami rakus dengan kebaikan yang Kau biasakan. Kau anugerahi kami ilham pengetahuan wujudMu, memperlakukan kami dengan kemuliaanMu dan kedermawananMu, menghiasi kami dengan kebenaran tauhidMu, memberi kami kemampuan berucap untuk mengangungkanMu, mensucikanMu, dan memujiMu, serta memuliakan kami dengan membenarkan kenabian Muhammad SAW, sebaik-baik makhlukMu.”[3]

Semoga kita bisa menjadi orang yang lebih baik setelah berpuasa. Hmm, karena sudah sore, waktunya cari makanan nih, sampai jumpa lagi ya….

Endnote:

[1] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, hlm 146

[2] Lih. Q.S. al-Baqarah [2]: 30

[3] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, hlm 147

_______________

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending