194
Muhammad Afiq Zahara |

Mengaji Puasa Bersama Sayyid Abdul Aziz al-Daranî #3

Sumber gambar 30youm.news

Hai…! Ketemu lagi nih. Yuk kita ikuti kajian Sayyid Abdul Aziz al-Darani berikutnya. Kali ini beliau akan membicarakan pentingnya bertaubat atau mengawali taubat di bulan Ramadan. Ayuk….!

Kita akan awali perjumpaan ini dengan kisah sederhana yang dikemukakan oleh Sayyid Abdul Aziz al-Darani. Berikut kisahnya:

وغضب بعض الملوك علي وزيره فأرد أن يصرفه عن خذمته ويبعده عن حضرته. فقال له الوزير: إن كان ولابد فرد عليّ ما أنفقته في خذمتك, فقال: ما هو؟ قال: شبابي رده عليّ فقد أنفقته في خذمتك فأعجب الملك ذلك ورضي عنه

“Seorang raja marah pada menterinya, ia ingin memecatnya dari pengabdiannya dan menyingkirkannya dari kekuasaannya. Kemudian menteri itu berkata pada raja: ‘jika pemecatan ini terjadi, kembalikan padaku segala yang kukorbankan untuk mengabdi kepadamu.’ Raja bertanya: ‘apa itu?’ Sang menteri menjawab: ‘masa mudaku. Tolong kembalikan semua masa mudaku yang telah kuhabiskan untuk mengabdi kepadamu.’ Sang raja terkejut mendengar jawaban itu dan tidak jadi marah pada menterinya.”[1]

Apa maksud Sayyid Abdul Aziz al-Darani memasukkan kisah di atas dalam kitabnya? Kita akan uraikan perlahan-lahan.

Dengan memasukkan kisah di atas, Sayyid Abdul Aziz al-Darani ingin menekankan pentingnya masa muda, bahwa taubat tidak melulu harus dilakukan ketika sudah tua. Taubat harus dilakukan sejak dini, setiap saat, dari mulai baligh sampai ajal menjemput. Jangan anggap masa lalu adalah masa yang sangat jauh dari sekarang. Sedetik saja waktu berlalu, itu telah menjadi masa lalu, tidak dapat diulang kembali. Karena itu, Allah dan nabiNya tidak pernah mensyaratkan “tua” sebagai salah satu syarat diterimanya taubat. Taubat bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, bahkan bagi orang yang merasa dirinya tidak pernah melakukan dosa. Dia harus taubat dari perasaannya itu, karena tidak ada manusia yang tidak membawa beban dosa selain para nabi.

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Sayyid Abdul Aziz al-Darani #1

Di halaman sebelumnya, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mengutip sebuah riwayat tentang Sayyidina Umar dan seorang pemuda. Dalam riwayat itu dikatakan:

ونظر عمر بن الخطّاب رضي الله عنه إلي غلام يتردد في الأسحار إلي المساجد وعليه حبة صوف فقال له: يا غلام لقد أسرعت, فقال: يا أمير المؤمنين ليس كل ثمر يدرك النضج

“Sayyidina Umar bin Khattab ra pernah melihat seorang pemuda yang merutinkan dirinya mendatangi masjid di waktu sahur, ia mengenakan pakaian shuf. Sayyidina Umar berkata kepadanya: ‘wahai pemuda, sungguh kau telah terburu-buru.’ Pemuda itu menjawab: ‘wahai pemimpin orang-orang yang beriman, tidak semua buah menjumpai masa matangnya.”[2]

Jawaban pemuda itu menunjukkan kecerdasan berpikir yang diperoleh dari pembiasaan taubat dan ibadah sejak dini. Dia menyadari betul bahwa tidak semua buah bertemu masa matangnya. Artinya, tidak semua usia, bertemu masa senjanya. Kesadaran inilah yang membuatnya tidak membuang-buang waktu untuk berdekatan dengan Tuhannya. Sayyidina Anas bin Malik ra pernah berkata, “mâ min syai’in ahabbu ila Allah min syâbb tâ’ib—tidak ada yang lebih disukai Allah daripada seorang pemuda yang bertaubat.”[3]

Bulan Ramadan adalah bulam ampunan. Karena itu, Sayyid Abdul Aziz al-Darani mendorong umat Islam, khususnya para pemuda untuk memasrahkan dosa-dosanya kepada Allah, dengan taubat yang sungguh-sungguh. Rasulullah SAW bersabda:

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدّم من ذنبه

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (H.R. Imam Bukhari)

Kemudian, Sayyid Abdul Aziz al-Darani menyampaikan nasihat panjang kepada kita. Katanya:

يا غائبا عنّا وهو حاضر مالك ناظر, أما تري الشوق قد قدح زناد المبادر؟ أما تري دموع الواجدين تذرف علي المحاجر؟ أفّ لبدويّ لا يطربه ذكر حاضر

Wahai yang bersembunyi dariKu, padahal Dia (Aku) hadir, berkuasa dan mengawasi. Tidakkah kau lihat kerinduan telah melukai kehausan orang-orang yang bergegas? Tidakkah kau lihat derai air mata orang-orang yang menangis di kelopak matanya? Calaka bagi orang-orang primitif yang tidak berguna bagi mereka mengingat yang Maha Hadir.”[4]

يا من يطمع أن يلحق بالعاملين وهو راقد في مهاد الغافلين, فارق أوطان غفلتك فلعلك تصحو من سكرة فترتك

“Wahai orang yang menggebu-gebu untuk mendapatkan kemuliaan orang-orang yang beramal, sementara ia tidur terlelap dalam bantal orang-orang yang lalai. Jauhilah rumah kelalaianmu agar semoga saja kau bisa sembuh dari masa-masa kemabukanmu (yang melalaikan itu).”[5]

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Sayyid Abdul Aziz al-Darani #2

Ya, manusia sering kehilangan kesadaran bahwa Tuhan sedang mengawasinya, dan memberikannya banyak anugerah. Meski demikian, setiap manusia memiliki hasrat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tapi antara keinginan dan penerapannya tidak seimbang. Keinginan hanya tinggal keinginan, yang kemudian menjadi kenangan. Karena itu, Sayyid Abdul Aziz al-Darani menegur manusia dengan ungkapan, “wahai orang-orang yang menggebu-gebu untuk mendapatkan pahala/kemuliaan orang-orang yang beramal, sementara ia sendiri tidur terlelap dalam bantal kelalaian.”

Kelalaian inilah yang membuat keinginan manusia untuk beramal baik dan bertaubat kepadaNya selalu tertunda, dan akhirnya keinginan tersebut menjadi masa lalu. Apakah kita juga demikian? Hmm, jawabannya dipikir sambil masak ya, selamat berpuasa….

Wallahu a’lam…

Endnote:

[1] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, hlm 154

[2] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, hlm 152

[3] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, hlm 152

[4] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, hlm 155

[5] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, hlm 155

_______________

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending