194
Muhammad Afiq Zahara |

Mengaji Puasa Bersama Sayyid Abdul Aziz al-Daranî #4

Sumber pixabay.com

Hai…! Ketemu lagi nih. Kali ini Sayyid Abdul Aziz al-Darani kembali membahas taubat, khususnya di bulan Ramadan. Yuk diikuti…

Kita akan mengawali pembahasan ini dengan nasihat keras Sayyid Abdul Aziz al-Darani dalam kitabnya. Beliau mengatakan:

يا مذنبين هذا وقت الإنابة, يا غافلين عن الحق وقد فتح بابه, تعرضوا للقبول فهذا وقت الإجابة, بكي أبوكم آدم علي ذنب واحد ثلثمائة سنّة (فَاعْتَبِرُوا يَا أُوْلِي الْأَبْصَار)

يا أصحاب الذنوب اخذروا زلة يقول الحبيب منها (هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَينِكَ) أكبر البلايا سفر الركب إلي بلاد الحبيب عند مسيرهم يودعون الزمن

با من كان له قلب معافي فمرض, أذكر خطيئتك, ما كان أحسن قلبك وكان أصفي شربك, فأكثر علي المصاب ندبك لم يبق لك الآن حيلة إلّا ملازمة باب الطبيب فإن لم تقدر علي الدواء فابك, فالبكاء رأس مال الفقير

 “Wahai hamba-hamba pendosa, inilah saatnya inabah (taubat). Wahai hamba-hamba yang lalai dari kebenaran, padahal telah dibukakan pintunya. Bersiaplah kalian untuk diterima, karena sekarang (Ramadan) adalah waktunya pengijabahan (dikabulkan). Adam, ayah kalian, menangis karena satu dosa selama tiga ratus tahun (maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai mata).”

“Wahai hamba-hamba yang melakukan dosa, waspadalah atas ketergelinciran. Sebab, (sebuah kesalahan) bisa membuat orang yang mencintai mengatakan: (inilah perpisahan antara aku dan kau). Bencana terbesar adalah perjalanan kendaraan menuju negeri Sang Kekasih (Allah yang Maha Mencintai) sementara dalam perjalanan mereka telah menyia-nyiakan waktu.”

“Wahai orang yang dahulu punya hati yang sehat lantas sakit. Ingatlah kesalahanmu! Dulu, alangkah bagusnya hatimu dan begitu jernihnya minumanmu, maka perbanyaklah kesedihan atas musibah. Tidak ada alasan lagi bagimu kini selain menetapi pintu dokter (penyembuh). Jika kau tidak dapat berobat, menangislah! Karena tangisan adalah modal manusia yang fakir.”[1]

Sayyid Abdul Aziz al-Darani menggunakan bahasa yang keras tapi indah dalam nasihatnya. Beliau tak ragu menyebut para pembacanya sebagai orang yang penuh dosa dan berhati sakit. Penyebutan itu—jika dipahami dengan seksama—merupakan cambuk yang digunakan olehnya untuk membangunkan tidur umat Islam. Karena dalam lanjutan nasihatnya, beliau memberikan banyak harapan pengampunan, menyuruh kita mempersiapkan diri menyambut “ijabah” (pengabulan) Tuhan atas permohonan kita.

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Sayyid Abdul Aziz al-Darani #1

Nasihatnya juga mendorong kita agar bergegas memohon ampunanNya (bertaubat). Beliau membandingkan dosa-dosa kita yang super banyak dengan dosa bapak kita, Adam AS yang hanya satu, tapi tangisan penyesalannya lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Perbandingan ini seharusnya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang memiliki mata.

Baginya, penyia-nyiaan waktu seorang muslim yang sedang berjalan menuju kekasihnya, Allah SWT, adalah bencana yang sangat besar. Menyia-nyiakan waktu atau berleha-leha dalam menuju kekasih menunjukkan ketidak-tulusan dalam menggapainya. Bagaimana mungkin itu bisa disebut cinta, jika kerinduannya tak cukup kuat mengantarkan hasratnya untuk segera bertemu kekasih. Karena itu, Sayyid Abdul Aziz al-Darani menyarankan untuk bergegas, jangan sampai penyia-nyian itu menghasilkan ungkapan dalam al-Qur’an (Q.S al-Kahfi: 78), “hadza firâq bainî wa bainik—inilah perpisahan antara aku dan kau.”

Selanjutnya beliau mengingatkan bahwa manusia pada mulanya “fitrah” atau suci. Rasullullah bersabda, “kullu mauludin yuladu ‘ala al-fitrah—setiap kelahiran dilahirkan dalam keadaan suci.” Kemudian, dengan melakukan maksiat dan dosa, hati yang semula sehat berubah sakit. Beliau menyarankan agar manusia menyesali perbuatan-perbuatannya, menangisi musibah moral yang menimpanya, dan memohon ampunanNya. Bila perlu menangislah dalam penyesalan, karena tangis adalah ekspresi penyesalan yang paling tulus, paling tidak untuk orang-orang yang fakir akan amal baik.

Dengan sisa bulan Ramadan yang tinggal beberapa hari lagi, masih belum terlambat untuk memulainya sekarang. Di bulan maghfirah (ampunan) dan ijabah (pengabulan) ini, akan sangat rugi jika kita hanya berdiam diri tanpa menuju atau berusaha untuk menggapai ampunan dan ridaNya. Dan taubat adalah tangga pertama untuk memulainya. Lalu, bagaimana cara dan ciri-ciri taubat yang benar?

 Sayyid Abdul Aziz al-Darani menggambarkan taubat yang benar dengan kalimat sebagai berikut:

والتوبة الصادقة تقطع آثار الذنب, إذا صدق التائب أنسي الله تعالي الملائكة ذنوبه وأنسي بقاع الأرض عيوبه ومحا من أم الكتاب زلاته ويحاسبه يوم القيامة عليها

“Taubat yang benar adalah memutus bekas pengaruh-pengaruh dosa. Jika benar taubat seseorang, Allah akan membuat malaikat lupa akan dosa-dosanya dan membuat penduduk bumi lupa akan aib-aibnya. Allah akan menghapus kesalahan/dosa-dosanya dari umm al-kitab dan menghisabnya secara langsung di hari kiamat kelak.”[2]

Sederhananya, taubat yang benar adalah usaha sungguh-sungguh dalam memutus rantai kesalahan sekaligus bekas-bekasnya, dan mebersihkan pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan dari kesalahan-kesalahan itu. Jika kesalahan itu berkaitan dengan orang lain, dia harus meminta maaf dengan sungguh-sungguh agar orang itu memaafkannya. Inilah alasan kenapa dalam ciri-ciri benarnya taubat seseorang ditandai dengan “Allah menjadikan para malaikat lupa akan dosa-dosanya dan menjadikan penduduk bumi lupa akan aib-aibnya.”

Sebab, jika seseorang sungguh-sungguh bertaubat, dia akan menyelesaikan dua tanggungannya sekaligus. Pertama, tanggungannya kepada Allah, dan kedua, tanggungannya kepada makhluk-makhluk Allah. Tanggungan kepada Allah relatif mudah dilakukan, karena ampunan Allah jauh lebih besar dari murkaNya. Pintu taubatnya selalu terbuka untuk hamba-hambaNya yang membutuhkan, bahkan yang telah bermaksiat berulang kali sekalipun.

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Sayyid Abdul Aziz al-Darani #2

Beda halnya dengan tanggungan kepada makhluk-makhluk Allah. Misal dengan sesama manusia. Orang yang pernah berbuat salah kepada sesama manusia harus mendapatkan maaf secara langsung darinya. Jika tidak, di akhirat kelak hal itu akan menjadi penghalang baginya. Belum lagi makhluk Allah non-manusia, seperti alam, binatang dan lain sebagainya. Ketika seseorang pernah melakukan kerusakan alam, taubatnya tidak cukup hanya dengan memohon ampunanNya, tapi juga harus turut berperan aktif dalam penjagaan lingkungan dan pelestariannya, serta komitmen kuat tidak akan melakukan tindakan yang bisa menyebabkan kerusakan lingkungan lagi.

Oleh karena itu, jika seseorang melakukan taubat dengan benar, Allah akan menjadikan lupa para malaikat akan dosa-dosanya dan menjadikan lupa penduduk bumi akan aib-aibnya.

Hmmm, di bulan Ramadan yang tinggal beberapa hari ini, semoga kita bisa mendapatkan ampunan dan ridaNya ya. Amin. Sudah dulu ya, sudah sore sih, hendak buka bersama, hehehe. Selamat berpuasa.

Wallahu a’lam…

Endnote:

[1] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, hlm 154-155

[2] Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thaharah al-Qulub wa al-Khudlu’ li ‘Allam al-Ghuyub, hlm 155

_______________

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending