223
Muhammad Afiq Zahara |

Mengaji Puasa Bersama Syekh Abdul Halim Mahmud #1

Sumber gambar islampress.net

Sekarang kita akan bahas seputar bulan Ramadan menggunakan kacamata Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud (1910-1978 M), Grand Syekh al-Azhar ke-46. Yuk dibaca sambil nunggu Maghrib….

Syekh Abdul Halim Mahmud memandang Ramadan bukan sekedar bulan puasa, tapi juga bulan zikir dan doa. Beliau menempatkan zikir (mengingat Allah) sebagai salah satu hikmah diwajibkannya puasa Ramadan (laqad dzakara Allah SWT min hikmah fardlih).[1] Dasar argumentasinya adalah firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 183)

Dalam ayat di atas, terdapat kalimat “agar kalian bertakwa”, artinya takwa menjadi salah satu alasan diwajibkannya puasa. Definisi takwa secara umum adalah, “imtitsâl awâmirillah wa ijtinâb nawâhîhi—menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi laranganNya.” Karena itu, untuk bertakwa, seseorang harus berlatih keras untuk selalu mengingat Allah (zikir), sehingga dapat merasakan karunia dan pengawasanNya. Ketika kita hendak melakukan keburukan, kita merasakan pengawasanNya, dan ketika kita hendak melakukan kebaikan, kita tak lupa bersyukur kepadaNya.

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Syekh Abdul Qadir al-Jilani

Dalam pandangan Syekh Abdul Halim Mahmud, zikir berperan penting dalam menjaga ketakwaan seseorang, atau minimal menstabilkannya. Beliau membagi pendekatan anjuran zikir dalam dua kelompok[2]:

1) Allah menganjurkan zikir dalam bentuk amar (perintah)

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut) nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (Q.S al-Ahzab [33]: 41)

Firman Allah lainnya yang menunjukkan amar (perintah):

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Q.S. al-A’raf [7]: 205)

2) Allah menganjurkan zikir dalam bentuk menarik

Dikatakan “menarik” (akhkhadz) karena Allah menjanjikan secara langsung imbalannya, atau ada janji timbal balik yang sangat jelas. Tidak hanya itu, Allah menjanjikan imbalan yang jauh lebih besar dari zikir yang diungkapkan hambaNya. Allah berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku maka Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 152)

Janji Allah ini dipertegas dalam hadis Qudsi yang mengatakan:

يَا ابْنَ آدَمَ، إِنْ ذَكَرْتَنِي فِي نَفْسِكَ ذَكَرْتُكَ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرْتَنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُكَ، فِي مَلَأٍ خَيْرٌ مِنْهُ وَإِنْ دَنَوْتَ مِنِّي شِبْرًا دَنَوْتُ مِنْكَ ذِرَاعًا، وَإِنْ دَنَوْتَ مِنِّي ذِرَاعًا دَنَوْتُ مِنْكَ بَاعًا، وَإِنْ أَتَيْتَنِي تَمْشِي أَتَيْتُكَ هرولة

“”Hai anak Adam, jika kamu mengingatKu di dalam dirimu, Aku ingat pula kepadamu dalam diri-Ku. Jika kamu mengingat-Ku di dalam suatu golongan, Aku ingat pula kepadamu di dalam golongan golongan yang lebih baik dari golongan itu. Jika kamu mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadamu satu hasta. Jika kamu mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepadamu satu depa. Dan jika kamu datang kepada-Ku berjalan kaki, Aku datang kepadamu dengan berlari.” (H.R. Imam Bukhari)

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Syekh Izzuddin bin Abdussalam al-Sulami #1

Bagi Syekh Abdul Halim Mahmud, diwajibkannya puasa untuk memastikan ketakwaan seseorang dan merealisasikannya. Beliau menggambarkan takwa sebagai komitmen terhadap sesuatu yang telah ditetapkan Allah (iltizâm mâ rasama Allah) dalam segala sesuatu, misalnya dalam kekayaan dan kemiskinan; dalam sehat dan sakit, dalam gerak dan diam.[3]

Akan tetapi, meskipun Allah telah menetapkan segala sesuatu, Syekh Abdul Halim Mahmud memandang ketakwaan bisa menjadi jalan keluarnya. Allah yang menetapkan, maka Allah lah yang berhak merubahnya. Ketika seseorang menghadapi ketetapan Tuhan, baik yang berupa kenikmatan maupun cobaan, dengan penuh ketakwaan, orang tersebut akan menemukan jalan. Tidak sekedar jalan, tapi jalan yang penuh keberkahan. Syekh Abdul Halim Mahmud mengatakan:

فإذا التزم الإنسان التقوي فإنّ الله سبحانه وتعالي يجعل له من كل ضيق فرجا, ومن كل هم مخرجا, ويرزقه من حيث لا يحتسب

“Karena itu, jika seseorang berkomitmen dalam ketakwaan, Allah akan menjadikan untuknya kelapangan di setiap kesulitan, jalan keluar di setiap kesusahan, dan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”[4]

Dasar pendapatnya adalah firman Allah yang mengatakan:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan mengadakan jalan keluar untuknya. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. al-Thalaq [65]: 2-3)

Karena itu, jangan lupa perbanyak zikir ya di bulan yang penuh berkah ini, siapa tahu kita mendapatkan jalan keluar dan rizki yang tak disangka-sangka, kan asyik bisa buat lebaran, hehehe. Sampai jumpa di hari berikutnya. Selamat berpuasa…

Endnote:

[1] Syekh Abdul Halim Mahmud, Syahr Ramadlan, Kairo: Darul Ma’arif, tt, hlm 99

[2] Syekh Abdul Halim Mahmud, hlm 100-101

[3] Syekh Abdul Halim Mahmud, hlm 100

[4] Syekh Abdul Halim Mahmud, hlm 100

______________

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending