195
Muhammad Afiq Zahara |

Mengaji Puasa Bersama Syekh Abdul Halim Mahmud #2

Sumber gambar arabic.arabianbusiness.com

Hai….! Sore ini Syekh Abdul Halim Mahmud akan membicarakan tentang jalan taubat orang shalih di bulan Ramadan. Yuk diikuti sambil nunggu buka puasa…

Syekh Abdul Halim Mahmud mengatakan, “al-shâlihûna dâ’iman yata’assû bi rasûlillah—orang-orang shalih selalu mendasarkan tindak-tanduknya pada Rasulullah SAW.”[1] Dasarnya adalah firman Allah:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya di (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. al-Ahzab [33]: 21)

Dalam pandangan Syekh Abdul Halim Mahmud mendasarkan Rasulullah sebagai rujukan berarti harus mengikuti al-Qur’an (ittibâ’ al-Qur’ân). Karena Rasulullah SAW adalah al-shûrah al-wâqi’iyyah li al-Qur’ân (gambaran realistik dari al-Qur’an/al-Qur’an hidup) seperti yang dikatakan Sayyidah Aisyah ra, bahwa akhlak Rasul adalah al-Qur’an (khuluquhu al-Qur’ân).[2]

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Syekh Abdul Halim Mahmud #1

Bulan Ramadan adalah bulan yang mengandung aspek ruhani/spiritual sangat besar. Bulan yang sangat dianjurkan untuk bertawajjuh, bertaqarrub dan memperbanyak ibadah kepada Allah. Menurut Syekh Abdul Halim Mahmud, langkah awal dalam jalan ini (al-khuthwah al-ûlâ fî hadzâ al-tharîq) adalah taubat. Syekh Abdul Halim Mahmud menjadikan taubat sebagai “al-labnah al-ûlâ fi binâ’i sharh al-taqwâ—pondasi dasar dalam membangun istana takwa.” Taubat adalah starting point dalam jalan kesalehan. Karena itu, seringkali Allah menyerukan taubat kepada hambanya menggunakan bahasa yang lembut dan penuh kasih sayang.[3] Allah berfirman dalam hadis qudsi:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-hambaKu, sungguh kalian berbuat salah di waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mohonlah ampunanKu, niscaya Kuampuni kalian.” (H.R. Imam Muslim)

Lebih daripada itu, Rasulullah sering mendeskripsikan taubat dengan kata “bahagia” (farh). Beliau mengatakan bahwa Allah sangat gembira/bahagia ketika ada hambaNya yang bertaubat. Dalam salah satu riwayat dikatakan:

اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِي أَرْضِ فَلَاةٍ

“Allah lebih bahagia dengan taubat hambaNya melebihi (kebahagiaan) salah satu dari kalian (yang berhasil) mendapatkan kembali hewan tunggangannya yang hilang di padang luas.” (H.R. Imam Bukhari)

Meski begitu, terkadang Allah menyeru hamba-hambaNya untuk bertaubat dengan ancaman yang keras (rahîb syadzîdz).[4] Perbedaan cara dalam seruan taubat ini, menurut Syekh Abdul Halim Mahmud, merupakan bentuk penyesuaian atas perbedaan karakter dan watak dasar manusia (li-tatanâsab ma’a al-mukhtalaf al-thabâi’ wa al-fithr). Kita tahu manusia membawa biografinya masing-masing; membawa psikologi pertumbuhannya masing-masing. Itulah yang membuat mereka berbeda. Orang yang sejak kecil mendapatkan pendidikan agama yang baik, akan berbeda keadaan psikologisnya dengan orang yang tidak mendapatkan pendidikan agama yang baik sejak kecil. Karena itu, Rasulullah memerintahkan kita untuk “bi qadri ‘uqulihim”, yaitu menyampaikan sesuatu atau bicara sesuai keadaan dan kemampuan orang yang kita ajak bicara.

Oleh karena itu, Syekh Abdul Halim Mahmud menegaskan bahwa orang shalih adalah, orang yang meskipun mereka selalu bertaubat dan kembali kepadaNya setiap saat (bukan bulan Ramadan), baik dalam kemudahan dan kesukaran menjalankannya, mereka tetap mengawali puasa Ramadan dengan memperbaharui komitmen mereka kepada Allah. Beliau mengatakan:

فإنّهم يبدءون شهر رمضان بتجديد العهد مع اللهِ بالتوبة الخالصة النصوح

“Orang-orang shalih mengawali bulan Ramadan dengan memperbaharui komitmen mereka kepada Allah dengan taubat yang murni dan tulus.”[5]

Baca juga: Doa-Doa Berbuka Puasa

Nah, jika orang yang shalih dan selalu berbuat baik sepanjang tahun saja masih memperbaharui taubat mereka setiap awal Ramadan, apalagi kita yang belum shalih. Semoga kita bisa menjadikan Ramadan sebagai titik balik kehidupan beragama kita, memperbaharui akhlak kita, melestarikan amal baik dan menambah kualitas ibadah kita. Karena sejatinya, kesalehan bukanlah akhir dari sebuah tujuan, tapi proses panjang tanpa akhir sampai nafas kita terambil. Kesalehan bukan pula pencapaian, tapi jalan hidup panjang yang harus dijaga dengan amal, akhlak dan ketakwaan. Tidak ada seorang pun yang tahu kesalehan manusia, hanya Allah lah yang mengetahuinya.

So, karena sudah sore, selamat menyiapkan buka, dan sampai jumpa…

Wallahu a’lam bi al-shawab

Endnote:

[1] Syekh Abdul Halim Mahmud, hlm 75

[2] Syekh Abdul Halim Mahmud, hlm 75

[3] Syekh Abdul Halim Mahmud, hlm 75

[4] Lihat Q.S. al-Zumar: 53-61

[5] Syekh Abdul Halim Mahmud, hlm 75

______________

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending