273
Muhammad Afiq Zahara |

Mengaji Puasa Bersama Syekh Abdul Qadir al-Jilani

Sumber gambar aljazeera.net

Sambil menunggu buka puasa kita kaji yuk puasa menurut Syeikh Abdul Qadir al-Jilani. Tidak panjang kok, singkat. Tapi sebelum itu, kita perlu tahu dulu apa sih puasa itu?

Puasa (shaum atau shiyâm) secara bahasa berasal dari akar kata shâma-yasûmu-shauman wa shiyâman yang berarti menahan (Arab, amsaka)[1]. Definisi standarnya adalah:

أمسك عن الطعام والشراب من طلوع الفجر إلي غروب الشمس مع النية

“Menahan diri dari makan dan minum dari mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari yang disertai dengan niat.” [2]

Dalam memandang puasa, Syeikh Abdul Qadir al-Jilani membaginya dalam dua kategori, shaum al-syarî’ah (puasa syariat) dan shaum al-tharîqah (puasa tarikat). Atau bisa juga dikatakan “puasa berstandar fiqih” dan “puasa berstandar tasawuf”. Syeikh Abdul Qadir menjelaskan bahwa puasa syariat adalah:

أَن يمسك عن الْمأكولات والمشروبات وعن وقاع النساء في النهار

“Menahan diri dari makanan, minuman dan bersetubuh di waktu siang.” [3]

Nah, dari sudut pandang syariat, yang membatalkan puasa—secara umum—hanya makan, minum dan bersetubuh di siang hari. Selama bisa menahan diri dari tiga hal tersebut, puasa kita sah dalam sudut pandang fiqih. Hal ini berbeda dengan puasa tarikat. Syeikh Abdul Qadir mengatakan:

أن يمسك عن جميع أعضائه المحرّمات والمناهي والذمائم مثل العُجب والكبر والبخل وغير ذلك, ظاهر وباطنا, فكلُها يبطل صوم الطريقة

“Menahan seluruh anggota tubuhnya dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan dan dilarang, menjauhi sifat-sifat tercela seperti ujub, sombong, kikir dan selainnya lahir dan batin. Setiap dari melakukan hal-hal tersebut membatalkan puasa tarikatnya.” [4]

Perbedaan mendasarnya terletak pada penitik-beratan puasa yang lebih luas dari puasa tarikat. Hal-hal yang membatalkannya pun lebih beragam, tidak seperti puasa syariat. Selama seseorang berhasil memenuhi syarat dan rukunnya, tidak melanggar tiga larangan seperti yang disebutkan di atas, puasanya sah secara fiqih, meskipun dia menggunjing, marah, pelit, sombong, bahkan berkelahi sekalipun. Tapi tetap saja, dia mendapatkan dosa dari perbuatannya itu. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah SAW sampai beliau bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ, وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar, dan betapa banyak orang yang bangun malam (untuk beribadah) yang tidak mendapatkan dari bangun malamnya kecuali begadang” (H.R. Imam Ibnu Majah)

Perbedaan lainnya dari dua kategori puasa ini adalah waktunya. Puasa syariat itu ditentukan waktunya atau mempunyai waktu tertentu (muwaqqat), sedangkan puasa tarikat tidak mempunyai waktu tertentu (muabbad fi jamî’i ‘umrih—sepanjang hidup manusia).[5] Kemudian Syeikh Abdul Qadir mengutip hadis Qudsi dalam kitabnya, Sirr al-Asrâr, yang mengatakan:

يَصيْرُ لِلْصائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ الْإِفْطَارِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ رُؤْيَةِ جَمَالِي

“Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: 1). Ketika berbuka, dan 2). Ketika melihat Allah.”

Para ahli syariat (fiqih) menafsirkan hadis Qudsi tersebut sesuai makna dasarnya, bahwa yang dimaksud dengan “farhah ‘inda al-ifthâr—kebahagian ketika berbuka” adalah makan ketika matahari tenggelam (al-akl ‘inda ghurûb al-syams) dan yang dimaksud dengan “farhah ‘inda ru’yah jamâlî—kebahagiaan melihat jamâlî” adalah melihat hilal di malam idul fitri (ru’yah al-hilâl fi lailah al-‘îd).[6]

Sementara para ahli hakikat menafsirkan hadis di atas dengan makna yang lebih dalam tapi tidak keluar dari makna dasarnya, bahwa kebahagiaan ketika berbuka adalah kebagiaan memasuki surga dengan memakan banyak kenikmatan di dalamnya (dukhûl al-jannah bi al-akl mimmâ fîhâ min al-na’îm), dan kebagiaan yang kedua benar-benar dimaknai dengan kabahagiaan bertemu Allah di hari kiamat (liqâ’ Allah yaum al-qiyâmah).[7]

Kesimpulannya, dalam berpuasa kita harus mempertimbangkan aspek ruhaniah juga, tidak sekedar melihat mana yang membatalkan puasa dan mana yang tidak secara hukum. Boleh jadi puasa kita sah secara hukum karena berhasil menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh di waktu siang. Namun, apakah kita benar-benar berhasil mengambil manfaat puasa untuk kehidupan kita, melestarikan penahanan diri dari hal-hal yang dilarang sepanjang hidup, tidak hanya di bulan suci Ramadan seperti yang dikemukakan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani tentang puasa tarikat.

Hmmm, menjalankan puasa syariat saja susah. Sudah untung bisa menjalankannya hingga akhir, apalagi puasa tarikat dengan segudang list pembatalannya yang jumlahnya jauh melebihi kebatalan puasa syariat yang hanya tiga. Sudah sesusah itu, eh Syekh Abdul Qadir menambahkan kategori lain yang lebih tinggi, puasanya ahli hakikat yang dikatakan dengan:

إمساك الفؤاد عن محبة ما سوي الله وإمساك السّرّ عن محبة مشاهدة غير الله

“Menjaga hati dari mencintai selain Allah dan menjaga rasa dari mencintai yang selain Allah.” [8]

Wallahu a’lam bi al-shawab….

Endnote:

[1] Shauqi Dhaif dkk., Mu’jam al-Wasith, Kairo: Maktabah al-Syuruq al-Dauliyah, 2004, hlm 529

[2] Shauqi Dhaif dkk., Mu’jam al-Wasith, hlm 529

[3] Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Sirr al-Asrar, Damaskus: Darul Sanabil, 1994, hlm 112

[4] Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Sirr al-Asrar, hlm 112

[5] Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Sirr al-Asrar, hlm 112

[6] Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Sirr al-Asrar, hlm 113

[7] Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Sirr al-Asrar, hlm 113

[8] Syeikh Abdul Qadir al-Jilani, Sirr al-Asrar, hlm 113

__________________

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending