265
Muhammad Afiq Zahara |

Mengaji Puasa Bersama Syekh Izzuddin bin Abdussalam al-Sulami #1

Sumber gambar www.mugrn.net

Baiklah, kali ini kita akan mengkaji keutamaan puasa menurut Sulthân al-‘Ulamâ’, Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami (w. 660 H) sambil menunggu waktu berbuka. Ayuk!

Dalam kitabnya, Maqâshid al-Shaum, Syekh Izzuddin mengatakan paling tidak ada tujuh keutamaan puasa yang satu sama lainnya saling terkait. Tujuh keutamaan puasa itu adalah:

1) Raf’u al-Darajât (Meninggikan Derajat)

Pandangannya ini didasari oleh hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatakan:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنَ

“Ketika Ramadan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan pun dibelenggu.” (H.R. Imam Muslim)

Syekh Izzuddin memandang taftîh abwâb al-jannah (dibukanya pintu surga) sebagai simbol atau tanda untuk memperbanyak ketaatan (taktsîr al-thâ’ât), terutama yang diwajibkan.[1] Sebab, meskipun pintu surga telah dibuka lebar-lebar, apakah semua orang berhak melintasinya tanpa memperbanyak ketaatan selama bulan suci Ramadan dan bulan-bulan setelahnya. Dibukanya pintu surga berarti dorongan memperbanyak ibadah. Apa artinya pintu yang terbuka tanpa ada seorang pun yang berkeinginan untuk memasukinya.

Tentang ditutupnya pintu neraka (taghlîq abwâb al-nâr), Syekh Izzuddin menganggapnya sebagai simbol untuk menyedikitkan maksiat (qillah al-ma’âshî).[2] Penggunaan kata “qillah” (sedikit) ini menarik. Syekh Izzuddin memahami betul manusia yang tidak mungkin sempurna dalam menghindari kesalahan. Manusia pasti membawa dosanya ketika menghadap Tuhan di akhirat kelak, yang membedakan adalah kadarnya, banyak atau sedikit. Karena itu, “qillah al-ma’âshî” dijadikan penjelas dari simbol ditutupnya pintu neraka.

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Syekh Abdul Qadir al-Jilani

Simbol berikutnya adalah dibelenggunya setan (tashfîd al-syayâthîn). Menurutnya, simbol ini adalah tanda terputusnya kewaswasan (bisikan lembut setan) bagi orang-orang yang berpuasa.[3] Artinya, baik buruknya orang yang berpuasa murni tergantung dirinya sendiri. Karena itu, akan sangat tidak etis jika manusia dengan berbagai peluang kemuliaan derajat yang diberikan Allah di bulan Ramadan ini masih enggan berbuat baik dan malah berbuat jahat.

2) Takfîr al-Khathî’ât (Penghapus Kesalahan/Dosa)

Dasar dari keutamaan yang kedua ini adalah hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatakan:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Yang dimaksud “îmânan—karena iman” dalam hadis di atas adalah meyakini kewajiban puasa dan melaksanakannya (bi wujûbihi). Dan maksud dari “ihtisâban—mengharapkan pahala” adalah merendahkan diri memohon upah/pahala dari Tuhannya (li ajrihi ‘inda rabbihi).[4] Meminta imbalan kepada Allah merupakan bentuk penyerahan diri, pernyataan keimanan dan menyatakan kelemahan di hadapanNya. Berbeda dengan pamrih terhadap sesama manusia setelah melakukan perbuatan baik. Karena manusia membawa masalahnya sendiri-sendiri, sekuat dan setegar apapun dia, sekaya dan semampu apapun dia.

3) Kasr al-Syahawât (Memalingkan/Mengalahkan Syahwat)

Keutamaan puasa yang ketiga ini didasari oleh hadis Rasulullah SAW:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ , فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Sesungguhnya menikah lebih bisa menundukan pandangan dan lebih mudah menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, sesungguhnya puasa itu adalah penekan syahwatnya.” (H.R. Imam Ahmad dan Imam Bukhari)

Hadis di atas yang membuat Syekh Izzuddin berpendapat bahwa lapar dan haus dapat mengalahkan/memalingkan syahwat. Beliau mengatakan:

فإنّ الجوع والظمأ يكسران شهوات المعاصي

“Sesungguhnya lapar dan haus dapat mengalahkan syahwat bermaksiat.” [5]

Perlu dipahami sebelumnya, bahwa lapar dan haus di sini bukan kelaparan dan kehausan yang disebabkan oleh keadaan yang sering menimbulkan problem sosial seperti pencurian, perampokan, dan lain sebagainya. Lapar dan haus di sini adalah puasa, yaitu lapar dan haus yang disengaja dan didasari oleh niat ibadah. Niat ibadah inilah yang membuat lapar dan haus memiliki arti, yaitu menjadi ajang melatih diri, menghendalikan hawa nafsu dan meminimalisir syahwat bermaksiat.

Baiklah, karena sudah hampir Maghrib, untuk hari ini kita cukupkan sampai di sini, kita lanjutkan lagi besok. Selamat berpuasa.

Wallahu a’lam bi al-shawab…..

Endnote:

[1] Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqashid al-Shaum, Damaskus: Darul Fikr, 1992, hlm 12

[2] Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqashid al-Shaum, hlm 12

[3] Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqashid al-Shaum, hlm 12

[4] Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqashid al-Shaum, hlm 15

[5] Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqashid al-Shaum, hlm 15

____________

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending