213
Muhammad Afiq Zahara |

Mengaji Puasa Bersama Syekh Izzuddin bin Abdussalam al-Sulami #3 (Habis)

Sumber gambar www.nbn.com.lb

Kali ini Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami akan membahas tentang adab atau etika orang yang berpuasa. Yuk kita ikuti sambil nunggu Maghrib…

Syekh Izzuddin mengelompokkan adab orang berpuasa dalam enam bagian, yaitu:

1) Menjaga Lisan dan Seluruh Tubuh dari Keburukan

Pertimbangan puasa seharusnya tidak sekedar soal sah dan tidak sah, tapi juga harus mempertimbangkan segala aspek etika ibadah dalam melaksanakannya. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkannya dalam meninggalkan makan dan minum (puasa).” (H.R. Imam Bukhari)

Syekh Izzuddin menjadikan hadis tersebut sebagai landasan logis pentingnya adab dalam menjalankan puasa, bahwa puasa tidak melulu soal lapar dan haus, tapi juga soal menjaga lisan dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan jahat, dusta dan lain sebagainya.

2) Mengatakan “Saya Berpuasa” Ketika Diundang atau Ditawari Makan

Mengucapkan “anâ shâ’imun—saya berpuasa” ketika diundang atau ditawari makanan mengandung makna yang dalam. Perkataan ringan itu menyelamatkan kedua belah pihak, orang yang menawari dan juga yang ditawari. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ

“Jika salah satu dari kalian diuangdang makan padahal tengah berpuasa, hendaklah katakan “saya berpuasa.” (H.R. Imam Muslim)

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Syekh Izzuddin bin Abdussalam al-Sulami #1

Syekh Izzuddin memandang perkataan “anâ shâ’imun” sebagai bentuk “i’tidzâr”, yaitu permohonan maaf dengan mengemukakan alasan tertentu. Tujuannya untuk menjaga perasaan orang yang mengundang.[1] Jika orang yang diundang diam saja (tidak mengiyakan dan menolak), atau tidak hadir tanpa memberi alasan, atau langsung menolak tanpa mengemukakan alasannya, bagaimana perasaan orang yang mengundangnya itu. Dalam hal ini, Rasulullah SAW seakan-akan mengajarkan, “jangan jadikan ibadahmu menjadi sebab sakitnya perasaan saudaramu.”

3) Berdoa Ketika Berbuka

Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami memberikan tiga alternatif doa Rasulullah bagi orang yang hendak berbuka puasa[2]:

ذَهَبَ الظّـَمَأُ وَابْتَلّـَتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Telah hilang dahaga, basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan jika Allah menghendaki.” (H.R. Imam Abu Dawud dan Imam al-Nasai)

اللهمَّ لكَ صُمْتُ، وَعَلى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ

“Untukmulah aku berpuasa, dan atas rizkimu aku berbuka.” (H.R. Imam Abdullah bin Mubarak, Imam Ibnu Abi Syaibah, Imam Abu Dawud dan Imam al-Baihaqi)

الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

“Segala puji milik Allah yang menolongku maka aku dapat berpuasa dan memberiku rizki maka aku bisa berbuka.” (H.R. Imam Sunni dan Imam al-Baihaqi)

4) Mengawali Buka dengan Makanan Tertentu

Syekh Izzuddin membuat daftar urut makanan yang paling baik untuk berbuka. Beliau menyarankan untuk berbuka dengan memakan “ruthab” (kurma matang basah), atau “tamr” (kurma matang kering), jika tidak ada awalilah buka dengan air.[3] Daftar urut ini beliau ambil dari perbuatan Nabi Muhammad SAW. Dalam satu riwayat dikatakan:

كَانَ يَفْطرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّي علي رُطَبَات, فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَتَمرَات, فإِنْ لَمْ يَكُنْ حسا حُسْوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Nabi SAW berbuka dengan berberapa butir kurma basah sebelum shalat, jika tidak ada maka berbuka dengan kurma kering, dan jika tidak ada maka berbuka dengan beberapa teguk air.” (H.R. Imam Ahmad, Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi)

Dalam riwayat lain dikatakan:

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلْيُفْطِرْ عَلي التَّمْرِ فَإِنْ لَمْ يَجْدْ فَعلي الْمَاءِ فَإِنَّ الْمَاءَ طَهُوْرٌ

“Jika salah satu dari kalian berpuasa, berbukalah dengan kurma kering, jika tidak menemukannya, berbukalah dengan air, sesungguhnya air itu mensucikan.” (H.R. Imam Abu Dawud, Imam al-Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah)

Baca juga: Mengaji Puasa Bersama Syekh Izzuddin bin Abdussalam al-Sulami #2

Ada beberapa tanaman dan buah-buahan yang tidak bisa tumbuh di semua tempat, termasuk kurma. Tidak semua orang dapat menyediakan kurma di saat berbuka dan sahur. Inilah menariknya, karena Rasulullah menjadikan air sebagai standar akhirnya. Air ada di mana-mana, sekedar volumenya saja yang berbeda-beda. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa air adalah sumber utama kehidupan, dan manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Di samping itu, Rasulullah memberikan penjelasakan bahwa “air” itu mensucikan (thahûrun). Ini juga bisa diartikan bahwa berbuka dengan makanan atau minuman apa saja yang halal dan suci sudah termasuk dalam kategori sunnah.

5) Ta’jîl al-Fithr (Menyegerakan Berbuka)

Dasar dari memasukkan “ta’jîl al-fithr” dalam adab-adab berpuasa adalah hadis Nabi Qudsi yang mengatakan:

قَالَ الله عزّ وَجلّ: أَحَبُّ عِبَادِي إِلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا

“Hambaku yang paling kucintai adalah yang paling menyegerakan berbuka.” (H.R. Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi)

Menyegerakan berbuka sangat dianjurkan (sunnah) untuk orang yang berpuasa. Setelah setengah hari memenuhi hak ruhani (makanan spiritual) dengan berpuasa, maka menyegerakan berbuka sebagai pemenuhan hak jasmani (tubuh) merupakan ibadah yang disunnahkan. Menunda pemenuhan hak terhadap sesuatu adalah hutang. Orang yang menunda pembayaran hak meskipun dia mampu telah berbuat aniaya terhadap tubuhnya sendiri. Syekh Izzuddin bercerita bahwa ada ulama jaman dulu yang makan di pasar (berbuka), beberapa orang bertanya kenapa tidak makan di rumah saja. Ulama itu menjawab dengan hadis (H.R. Imam Bukhari): “mathl al-ghinâ dhulmun—penundaan pembayaran hutang oleh orang yang kaya/mampu adalah kezaliman”[4]

6) Ta’khîr al-Sahûr (Mengakhirkan Sahur)

Salah satu riwayat dari ‘Amr bin Maimun rahimahu Allah mengatakan:

كان أصحب مُحَمَّدٍ صلي الله عليه وسلم أَعجل النَّاس إِفْطارًا وَأَبْطأهم سَحورًا

“Para sahabat Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling menyegerakan buka puasa dan yang paling mengakhirkan sahur.” (Riwayat Imam Baihaqi dan Imam al-Thabrani)

Syekh Izzuddin berpendapat bahwa mengakhirkan sahur dapat memperkuat puasa dan waktu sebelum sahur bisa digunakan untuk memperbanyak ibadah.[5] Selain itu, mengakhirkan sahur dapat mengamankan kewajiban lainnya, shalat shubuh. Tidak sedikit orang yang sahur jauh sebelum waktunya memilih tidur kembali dan melewatkan shalat shubuh. Semoga kita tidak ya….

Hmmm, karena waktunya masak-masak, sampai jumpa di kajian puasa berikutnya. Selamat berpuasa…

Endnote:

[1] Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqashid al-Shaum, hlm 20

[2] Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqashid al-Shaum, hlm 20

[3] Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqashid al-Shaum, hlm 21

[4] Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqashid al-Shaum, hlm 23

[5] Syekh Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqashid al-Shaum, hlm 22

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending