1357
Redaksi |

Masuknya Hindu – Budha ke Nusantara

 

Agama Hindu masuk ke Indonesia pada Abad Pertama. Ada beberapa teori yang menjelaskan kedatangan Agama Hindhu di Indonesia; Pertama Teori Vaishya. Teori Vaishya[1] merupakan perkawinan yang terjadi antara Hindustan dengan Penduduk Asli Nusantara. Teori Kshatriya[2] adalah para prajurit yang telah kalah dalam peperangan dari Hindustan, dan menemukan tempat penghapus lara, yakni di Nusantara. Teori Brahmana[3], mengambil sudut pandang yang lebih tradisional, bahwa missionaris menyebarkan Agama Hindu ke sejumlah Pulau-pulau yang ada di Nusantara. Teori Bhumiputra ialah manusia pribumi Nusantara pergi ke dalam perjalanan yang jauh ke Hindustan. Teori Sudra menyatakan teori ini dikemukakan oleh banyak orang.

Intinya, agama Hindu dibawa oleh kaum sudra yang datang di Nusantara untuk memperbaiki nasib.

Teori Nasional; Teori ini dikemukakan oleh F.D.K. Bosch yang mengatakan dalam proses penyebaran agama Hindu ini, bangsa Indonesia berperan sangat aktif. Setelah dinobatkan sebagai seorang Hindu, mereka kemudian giat menyebarkan agama Hindu dan segala aktivitasnya. Pendapatnya ini didasarkan pada temuan adanya unsur-unsur budaya India dalam budaya Indonesia. Menurutnya, pada masa itu telah terbentuk golongan cendekiawan yang disebut “Clerk”. Proses akulturasi antara budaya Indonesia dan India disebutnya sebagai proses penyuburan.

Hal-hal yang dilakukan para brahmana di Indonesia dalam rangka penghinduan, antara lain,

  • Abhiseka, yaitu upacara penobatan raja,
  • Vratyastoma, yaitu upacara pencucian diri (pemberian kasta),
  • Kulapanjika, yaitu memberikan silsilah raja, dan
  • Castra, yaitu cara membuat mantra

Teori Arus Balik: Menurut teori ini, bangsa Indonesia tidak hanya menerima pengetahuan agama dari orang-orang asing yang datang. Mereka juga aktif mencari ilmu agama di negeri orang dan menyebarkannya setelah kembali ke kampung halamannya.

Adapun teori mengenai perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha India di Asia, khususnya di Nusantara, sebagai berikut.

  1. Kerajaan Kalingga di India pada abad ke-3 ditaklukkan Raja Ashoka dari Arya banyak warganya yang bermigrasi ke Indonesia.
  2. Invasi (penguasaan) suku Khusana ke Indonesia menyebabkan banyak warganya yang bermigrasi ke Indonesia.
  3. Coedes berpendapat bahwa kontak hinduisme ke Nusantara terjadi karena adanya larangan mencari emas ke Siberia oleh Kaisar Vespasianus. Oleh karena itu, para pedagang India mencari emas ke Swarnadwipa (Sumatra).

Bukti adanya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia sebagai berikut.

  1. Adanya arca Buddha bergaya amarawati (gaya India Selatan) di Sempaga, Sulawesi Selatan, dan di Jember. Arca di Sempaga merupakan yang tertua. Selain itu, ditemukan pula arca bergaya gandhara (India Utara) di Bukit Siguntang (Sumatra Selatan) dan Kota Bangun, Kutai.
  2. Adanya prasasti berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta di Kutai dan Tarumanegara.
  3. Adanya penganut agama Hindu dan Buddha di Indonesia.
  4. Berkembangnya seni patung di Indonesia.
  5. Penggunaan istilah warman sebagai nama raja seperti di India.
  6. Munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha.
  7. Penggunaan bahasa Sanskerta dan tulisan Pallawa dalam kehidupan masyarakat.
  8. Adanya sistem kemaharajaan.
  9. Adanya kitab-kitab sastra yang bercorak Hindu.

Pada abad ke-4 di Jawa Barat terdapat kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha, yaitu kerajaan Tarumanagara[4] yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16.

Pada masa ini pula muncul dua kerajaan besar, yakni Sriwijaya dan Majapahit. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Tengah dan Kamboja. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada, berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan pembentukan kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wira-carita Ramayana.

Menurut temuan seorang musafir Cina, pada abad ketujuh Masehi, Sumatera adalah pulau terpenting Nusantara sebagai pusat peradaban Asia Tenggara. Pada sekitar masa-masa itu agama Budha mulai datang ke Sumatera. Pengaruh Budhisme Mahaya sudah nampak sejak awal abad ketujuh, yang kemuidian melahirkan kerajaan Sriwijaya, suatu offshoot kultus Syailendra kepada “Rajadewa” (Devraj, suatu keyakinan bahwa raja adalah keturunan dewa). Dan pada tahun 671, seorang sarjana pengembara Cina I Tsing, dalam perjalanan kembali dari India, singgah di sebuah Universitas di Palembang dan tinggal di sana selama empat tahun, menulis memoar dan membukukan pengalamannya.

Ia gambarkan adanya pasar besar di Palembang yang para pedagangnya dari Tamil, Persia, Arabia, Yunani, Kamboja, Siam, Cina dan Birma. Ribuan kapal berlabuh di sana. Sriwijaya bahkan konon mengirim tenara sukarelanya sampai sejauh dari Mesopotamia untuk ikut dalam suatu kampanye peperangan. Di samping itu Universitas Sriwijaya sedemikian tinggi reputasinya, sehingga konon ribuan pendeta dari seluruh dunia belajar agama Budha di sana, dan menerjemahkan kitab-kitab Sanksekerta. Jadi saat itu Palembang, sebagai Ibukota Sriwijaya, sudah merupakan sebuah pusat kehidupan perkotaan metropolis yang kosmopolit.[5]

Sriwijaya tidak mempunyai basis sistem ekonomi pertanian yang kuat, tetapi perannya sebagai penjaga lalu lintas maritim dan perdagangan internasional berkat penguasaannya atas Selat Malaka telah membuat berpengaruh luas sekali. Dampak politik dan komersil Sriwijaya bahkan mencapai hainan dan Taiwan.

Para sarjana barat menggambarkan Sriwijaya sebagai “Phonesia Timur”. Dan pada permulaan abad kesebelas (yaitu, baik juga diingat, sekitar satu abad setelah zaman kekhalifahan Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun dari Dinasti Islam Bani Abbas), kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kebesarannya. Jadi kerajaan itu mencapai puncak kejayaannya pada masa ketika Dinasti ‘Abbasiyah juga sedang dalam puncak-puncak kejayaannya. Mungkin sekali Sriwijaya adalah salah satu rekanan dagang kaum ‘Abbasi di timur, menuju Cina lewat laut (di samping sudah sejak lama para pedagang Arab dan Timur Tengah juga berhubungan dengan Cina lewat darat, melalu Asia Tengah, menyusuri “jalur sutra”).[6]

Berdasarkan Prasasti Kota Kapur, Kerajaan Sriwijaya menguasai bagian Selatan Sumatera hingga lampung, mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Perluasaan wilayah ekspansi Kerajaan Sriwijaya ke Jawa dan semenanjung Melayu, menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya reruntuhan Candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja.[7]

Sriwijaya pernah dipimpin oleh Raja yang bernama Dharmasetu. Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan yang berkuasa pada tahun 792-835 M. Tidak seperti Dharmasetu yang melakukan ekspansi, Samaratungga tidak melakukan ekspansi militer, tetapi lebih memperkuat penguasaan di Jawa. Ia membangun Candi Borobudur di Jawa yang selesai pada tahun 825 M. Pada abad ke-12. Wilayah Sriwijaya meliputi Sumatera, Srilanka, Semenanjung Melayu, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Filipina. Dengan penguasaan tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang hebat hingga abad ke-13.[8]

Pada tahun 902 M, Sriwijaya mengirimkan upeti ke Cina. Dua tahun kemudian raja terakhir Dinasti Tang menganugerahkan gelar kepada utusan Sriwijaya. Pada paruh pertama abad 10, di anatara jatuhnya Dinasti Tang dan naiknya Dinasti Song, perdagangan dengan luar negeri cukup marak. Dari perdagangan ini, Sriwijaya banyak memeoleh keuntungan.[9]

Pada tahun 1028 Sriwijaya diserang secara brutal oleh raja Chola dari India Selatan, konon karena cemburu. Sriwijaya melemah dan terpecah belah menjadi banyak kerajaan pantai kecil-kecil, untuk pada akhirnya, dipermulaan abad ke-14 runtuh sama sekali, dan bersama dengan itu Budhisme juga mengalami kemunduran cepat. Tetapi keturunan Syailendra berserta kultusnya telah berabad-abad terlebih dahulu menyebar ke Jawa. Pada abad kedelapan mereka mendirikan Borobudur di Jawa Tengah, sebuah monumen Budhisme yang termegah di dunia.

Kemunduruan dan kehancuran kekuasaan Sriwijaya diakibatkan juga oleh ekspansi politik Singasari-Majapahit, juga karena ekspansi Cina pada masa Kubilai Khan di abad ke-13 dan masa pemerintahan dinasiti ming di abad 14-15, ke daerah Asia Tenggara.

Kemudian kaum Hindu yang mulai berpengaruh di Jawa mendirikan Prambanan, sebuah monumen Hinduisme yang megah dan Agung, sebagai saingan Borobudur. Kedua bangunan monumental Borobudur dan Prambanan mempunyai makna amat penting bagi Indonesia, karena dianggap sebagai lambang yang mewakili dua pola budaya klasik Nasional (kurang lebih, yang pertama, Borobudur mewakili Sumatera yang Budhis dan merkantilis; sedang yang kedua Prambanan, mewakili Jawa yang Hinduis dan agraris).

Anggapan itu diperkuat menjadi bagian dari atraksi utama turisme Indonesia di samping obyek-obyek budaya di Bali. Hinduisme di Jawa kelak menemukan ekspresi politiknya paling besar dan kuat pada Kerajaan Majapahit, yang didirikan pada akhir abad ke-13, tepatnya tahun 1292. Tidak seperti Sriwijaya yang “mengambang” (dapat dalam arti sebenarnya, karena merupakan kerajaan maritim), Majapahit adalah kerajaan dengan basis pertanian tanah-tanah subur di pedalaman Pulau Jawa yang sangat produktif.

Oleh karena itu ia juga meninggalkan pola budaya agraris yang sangat canggih, dengan tradisi pemerintahan dan ketentaraman yang sangat mantap. Tapi oleh faktor-faktor lain Majapahit adalah kerajaan besar yang tidak berumur panjang, kekuasaan politiknya yang efektif hanya berlangsung selama sekitar satu abad saja (sampai akhir abad keempat belas, tepatnya tahun 1398), atau sekitar dua abad saja sampai sisa-sisa kekuasaannya benar-benar habis menjelang akhir abad kelima belas (tepatnya tahun 1478. “sirna ilang kertaning bumi”). Walaupun begitu, berkat pola budayanya yang mapan, Majapahit adalah kerajaan kuno di Indonesia yang terbesar dan paling berpengaruh. Lebih-lebih jika dilihat dari segi pola budaya yang diwariskannya, Majapahit adalah kerjaan Nusantara kuno yang pengaruhnya paling nyata, hingga saat ini.[10]

Kerajaan Majapahit merupakan sebuah kerajaan kuno yang dapat kita ketahui dengan agak lengkap struktur pemerintahan dan birokrasinya. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk Kerajaan Majapahit telah mencapai puncak keemasannya. Pada masa itu, Majapahit telah memiliki susunan pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur. Wilayah Kerajaan Majapahit teridiri atas negara-negara daerah yang disamakan dengan tempat tinggal para Dewa Lokapala yang terletak diempat penjuru mata angin. Dalam Prasasti Tuhanaru yang berangka tahun 1425 Saka (13 Desember 1323 M) kerajaan Majapahit dilambangkan sebagai sebuah Prasada dengan raja Jayanegara sebagai Wisnwawatara dan Rake Mapatih sebagai pranala, sedangkan seluruh mandala jawa dianggap sebagai punpunan-nya, Pulau Madura dan Tanjung Pura dianggap sebagai angsa-nya. Demikian pula di dalam prasasti Jayapatra yang berasal dari zaman Hayam Wuruk, raja Hayam Wuruk diumpamakan sebagai sebuah patung Siwa dan patih Gajah Mada diumpamakan sebagai Pranala.

Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hamper seluruh semenanjung Melayu. Warisan dari Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam Wiracerita Ramayana.

Endnote

[1] Teori ini dikemukakan oleh Kromyang mengatakan bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang, mengingat bahwa sejak tahun 500 SM, Nusantara telah menjadi jalur perdagangan antara India dan Cina. Dalam perjalanan perdagangan inilah diperkirakan para pedagang India itu singgah di Indonesia dan menyebarkan agama Hindu.

[2] Teori ini dikemukakan oleh Majumdar, Moekrji, dan Nehru. Mereka berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh prajurit yang mengadakan ekspansi. Oleh sebab itu, teori ini sering pula disebut teori kolonisasi. Kelemahan teori ini adalah tidak ada bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Indonesia pernah ditaklukkan India.

[3] Teori ini dikemukakan oleh Van Leuryang berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh pendeta. Teori ini memiliki kelemahan, yaitu di India ada peraturan bahwa brahmana tidak boleh keluar dari negerinya. Jadi, tidak mungkin mereka dapat menyiarkan agama ke Indonesia.

[4] Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawapada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah. Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu.

Bila menilik dari catatan sejarah ataupun prasasti yang ada, tidak ada penjelasan atau catatan yang pasti mengenai siapakah yang pertama kalinya mendirikan kerajaan Tarumanegara. Raja yang pernah berkuasa dan sangat terkenal dalam catatan sejarah adalah Purnawarman. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui dengan tujuh buah prasasti batu yang ditemukan. Lima di Bogor, satu di Jakartadan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarmanpada tahun 358 M dan dia memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.

[5] Nurcholis Madjid, “Islam Doktrin & Peradaban”, (Paramadina: Jakarta, 2005), hlm. lix

[6] Nurcholis Madjid, “Islam Doktrin & Peradaban”, hlm. lix-lx

[7] Amir Hendarsah, “Cerita Kerajaan Nusantara Populer”, (Great Publisher: Yogyakarta), hlm. 12

[8] Amir Hendarsah, “Cerita Kerajaan Nusantara Populer”, hlm. 13

[9] Amir Hendarsah, “Cerita Kerajaan Nusantara Populer”, hlm. 13

[10] Nurcholis Madjid, “Islam Doktrin & Peradaban”, hlm. lxi

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending