1082
Moh Abd Rauf |

Agama, Cinta, dan Toleransi—Keberagamaan Perspektif Fethullah Gülen Movement

Foto: huffingtonpost.com

Oleh Moh Abd Rauf

Globalisasi yang fokus pada satu tataran peradaban disebut sebagai konsekuensi logis dari dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut juga ditandai dengan munculnya ancaman terorisme dan kekerasan yang semakin mengglobal. Fenomena ini berimplikasi pada kecemasan-kecemasan dalam menatap masa depan peradaban yang semakin nihil dari nilai-nilai kemanusiaan.

Berkembangnya peradaban zaman juga menjadi tantangan besar bagi umat Islam. Pasalnya, beberapa oknum memanfaatkan propaganda agama dengan memanfaatkan media sosial sebagai alat penggerak yang lebih produktif, atau lebih akrabnya disebut hoaks.

Data Kemenkominfo menyebutkan, ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. Menanggapi hal tersebut Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj mengatakan, “PBNU melihat pemerintah gagap membangun kontra-narasi sehingga radikalisme dapat tumbuh subur di dunia maya. Sikap moderat dan toleransi digempur setiap hari oleh tayangan dan konten radikal yang begitu mudah disebar dan viral di media sosial”.

Fenomena radikalisme, terorisme, dan ekstremisme dilibatkan bahkan dituduhkan kepada orang Islam. Hal tersebut merupakan cambukan telak bukan hanya kepada umat Islam melainkan terhadap esensi agama Islam itu sendiri. Sehingga publik memunculkan hipotesis bahwa Islam sebagai agama yang menakutkan, agama yang memiliki karakter keras, intoleran, radikal, dan rasis. Sampai-sampai Islam dilabeli sebagai agama yang memecah persatuan karena adanya perbedaan.

Dalam menyikapi fenomena di atas perlu adanya instrumen-instrumen ideologi serta gagasan yang dapat membuktikan bahwa benar Islam adalah agama yang rahmatal lil ‘alamin. Agama yang mendidik bukan menghardik, mengayomi bukan membenci, memupuk toleransi bukan intoleransi, dan mecintai perdamaian bukan menghasut perpecahan.

Menaggapi hal tersebut, penulis ingin memberikan suatu refleksi gagasan pemikiran salah satu tokoh filsuf kepada publik dalam menyelesaikan diskursus di atas. Dalam konteks penyelamatan problem kontemporer dari ancaman global, seorang filsuf dari Turkey yang bernama Fethullah Gulen dan rekannya mendedikasikan dirinya melalui upaya-upaya pendidikan dan berbagai gerakan lainnya dalam suatu konstruk pemahaman dan tindakan ajaran Islam yang berbasis cinta dan toleransi.

Biografi Singkat Fethullah Gullen

Fethullah Gulen lahir di sebuah desa yang mayoritas penduduknya sebagai petani yaitu Korucuk dekat Erzurum di bagain Timur Turki pada 27 April 1941. Ia merupakan anak ke-empat dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Remiz Efendi, seorang mulla (imam) di desa itu. Erzurum dikenal sebagai daerah dengan penduduk yang konservatif dan shalih. Di sana pula lahir dan hidup sufi besar bernama Said Nursi. Gulen muda memulai pendidikannya di sekolah pemerintah selama tiga tahun.

Setelah ia menyelesaikan pendidikan dasar, ayahnya dipindahkan ke masjid di kota lain di mana tidak ada sekolah menangah. Sejak saat itu ia belajar Bahasa Arab secara otodidak di bawah bimbingan ayahnya dan belajar al-Qur’an dengan Ibunya. Setelah menyelesaikan pendidikan di rumah, ia menjadi pendamping seorang syekh sufi di mana ia memperlancar bahasa Arab dan hafalan al-Qur’an. Selanjutnya ia belajar tasawuf kepada Muhammad Luthfi Efendi, seorang syekh sufi penting pada masa itu dan memiliki hubungan genealogis dengan Jalaluddin Rumi.

Bersama Syekh Efendi ia bukan hanya belajar tasawuf, namun juga ilmu keislaman yang lain. Bahkan ia diperkenalkan dengan pengetahuan umum yang populer di dunia Barat, serta mulai belajar pemikiran filosof dan sastrawan ternama seperti Immanuel Kant, Albert Camus, David Hume, dan Jean Paul Sartre. Kemudian ia melanjutkan ke Madrasah Imam Hatib di mana ia belajar fiqh Islam, terutama mazhab Hanafi. Ia juga mulai belajar metologi tafsir al-Qur’an. Sehingga ketika ia mendapatkan ijazah keguruan pada tahun 1959, ia sudah sangat lancar dalam Bahasa Arab, teologi, sufisme, fiqh dan pemikiran filsafat Islam dan filsafat Barat.

Fethullah Gulen Movement Sebagai Problem Solving

Menyikapi fenomena radikalisme dan konflik antar dan intra umat beragama, Fethullah Gulen dan para pengikutnya dalam Fethullah Gulen Movement, berdialektika dalam esoterisme dan eksoterisme untuk membawa manusia menuju peradaban perdamaian dalam pluralitasnya.

Esoterisme dan eksoterisme merupakan dua dimensi agama yang menjadi satu entitas dan tidak bisa dipisahkan. Esoterik ibarat hati dan eksoterik merupakan badan agama. Eksoterik merupakan aspek luar agama yang berbentuk, formal, dogmatik, ritual dan etik. Sedangkan esoterik merupakan inti agama. Keberagamaan yang eksoterik ada pada bentuk dunia (a world of forms), namun merupakan pancaran atau bersumber dari esensi yang tak berbentuk (the formless essence) atau yang esoterik.

Dimensi esoterik berada di atas atau melampaui dimensi eksoterik. Menurut Schuon seorang ahli perbandingan agama asal Swiss mengatakan kesatuan agama-agama hanya akan terjadi pada level yang tak terbentuk atau esoterik. Sedangkan pada level eksoterik (bentuk dari agama-agama) dapat dilakukan dengan dialog yang berdasar pada rasa hormat dan keharmonisan.

Eksoterisme bersifat relatif tidak memiliki kepastian yang mutlak. Karena kebenaran sejati dan absolut tidak mungkin ditemukan hanya pada sebuah bentuk. Menurut Schuon, setiap kebenaran yang diungkapkan pasti memiliki bentuk relatif. Dan juga dari segi metafisik, mustahil suatu bentuk mesti memuat semua nilai kebenaran yang dapat meniadakan bentuk-bentuk lainnya. Suatu bentuk mesti terbatas karena itu tidak mungkin suatu bentuk merupakan satu-satunya perwujudan dari kebenaran. Apa yang bersifat terbatas, tidak mencakup apa yang tidak termasuk dalam batas-batasnya.  

Tuhan menghendaki keanekaragman bukan untuk konflik dan perpecahan tetapi pada saat yang sama menghendaki perdamaian,. Karena Tuhanlah yang menciptakan keanekaragman, dimana manusia diciptakan berbeda-beda. Maka sangat tidak logis apabila Tuhan tidak memberikan perlindunganNya kepada seluruh manusia dengan agama yang dianutnya berbeda-beda. Dalam konteks ini, Firman Allah QS: Al-An’am ayat 108 yang melarang umat Islam mencacimaki sesembahan pemeluk agama lain, menemukan relevansinya.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

FGM: Agama Cinta dan Toleransi

Meneladani ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad Saw sebagai suri tauladan seharusnya diaplikasikan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hanya beliau yang bergelimang atau berlimpah cahaya cinta yang akan membangun masa depan dengan kebahagiaan dan kecerahan dunia. Bibirnya tersenyum dengan cinta, di hatinya bertengger sebuah cinta, tatapan matanya memancarkan sinar cinta dan kata-katanya lemah lembut membawa kesejukan pada orang lain. Umat Islam pada saat ini dan kedepan, semestinya mengajarkan apa yang ditauladankan oleh beliau sebagai sosok manusia yang paling humanis dalam sejarah manusia, beliau berucap dan bertindak atas nama cinta.

Seperti halnya Rumi, dia berkata percaya saja kepada Tuhan tidaklah cukup. Seseorang yang beriman mesti berbuat baik untuk Tuhannya maupun terhadap sesama. Level yang lebih tinggi dari iman adalah cinta. Karena itu semua orang dalam berbuat baik untuk Tuhan maupun terhadap sesama harus karena cinta. Cinta adalah alasan (reason) dari hakikat eksistensi. Cinta adalah pengikat terkuat yang menjilid seluruh ciptaan (creature) secara bersamaan. Karena segala sesuatu yang ada merupakan ciptaan Tuhan, maka mendekati manusia (humanity) sebagai ciptaan Tuhan dengan rasa cinta merupakan suatu keniscayaan.       

Kekaburan nilai kemanusiaan dalam era globalisasi ini, antara lain karena hilangnya rasa cinta dan sikap toleransi. Dengan toleransi, manusia mampu memahami perbedaaan kecenderungan manusia, yakni dari aspek opini, world-view (pegangan hidup), ideologi, etnisitas atau keyakinan. Toleransi juga berarti meletakkan sesuatu yang berbeda kedalam hati nurani, keyakinan, dan kedermawanan hati atau kekuatan emosi. Toleransi bermakna mencintai keragaman penciptaan  dari sang Pencipta.

Gulen menyerukan toleransi dengan membawa secara bersama-sama ajaran al-Qur’an, hadis, dan pandangan-pandangan inklusif tokoh sufi seperti al Ghazali dan Jalaluddin Rumi. Gulen berusaha meyakinkan dunia, bahwa toleransi, cinta dan kasih sayang adalah benar-benar nilai Islam. Interpretasi yang tepat dari ajaran Islam lebih mengajarkan pada nilai-nilai yang benar-benar spiritual, seperti pengampunan (forgiveness), kedamaian batin (inner peace), keharmonisan sosial (social harmony), kejujuran (honesty), dan kepercayaan pada Tuhan (trust in God).

Menurut Gulen terorisme, radikalisme, dan ekstremisme merupakan akibat hilangnya cinta dan kasih sayang di hati manusia. Dalam pandangan Gulen, sebenarnya toleransi sudah ada di dalam spirit masyarakat, kita hanya membutuhkan media untuk menyadarkannya. Namun, kita mesti hati-hati, karena hal itu mudah dirusak dan sulit diperbaiki. Restorasi membutuhkan waktu yang lama, kita bisa memulai dari perubahan rasa, meningkatkan kepercayaan, merubah pola pikir, dan lain sebagainya. Gulen mempertanyakan mengapa sebagian orang banyak menyerukan jihad terhadap hal yang lain, mengapa  tidak menyerukan jihad untuk toleransi. 

___________________

*) Penulis adalah mahasiswa aktif Prodi Hukum Pidana Islam (HPI) Fakultas Syariah IAIN Jember. Penulis juga sebagai Founder komunitas sharing tentang keilmuan atau disebut Sharing is Caring Community (SICC).

 


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending