1834
Munawwir Yamin |

Biografi Singkat Syekh Abdul Qodir Jailani (471-561 H)

Gambar: nu.or.id

Nama lengkap Sulthanul Auliya ini adalah Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Salih bin Janki Dusti bin Yahya Muhammad bin Daud bin Musa bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau termasuk ahlul bayt atau keturunan Rasulullah Saw.

Tokoh sufi ini dilahirkan dikota jilan pada pertengahan bulan ramadan tahun 471 H dari pasangan  suami-istri Ali bin Abi salih Abdullah Janki Dusti dengan Umul Khoer Fatimah binti Abi Abdullah As-Sawma’i. Ibundanya termasuk ahlul bayt juga, ayahandanya adalah Abi Abdullah As-Sawma’i anak dari Sayyid Abi Jamaluddin Muhammad bin Abi Al-Ata Abdullah bin Kamalauddin Isa bin Muhammad Al-Jawwad bin Ali Ridha bin Musa Al-Kadzim bin Ja’far Shodiq bin Muhammad bin Al-Baqir bin Zaenal Abidin bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Sulthonul Auliya ini menetap di kota kelahirannya hanya sampai umur 18 tahun, kemudian hijrah ke kota Baghdad hingga wafatnya. Menurut Syeikh Al-Baghdadi dalam kitabnya “Al-Marasyid” nama jailani sebenarnya bukan nama kota, akan tetapi nama suatu kawasan yang terletak diseberang daerah Tabaristan yaitu sebuah kawasan yang terletak antara pegunungan Tabaristan dan pantai selatan Laut Kaspiya. Sekarang wilayah ini menjadi salah satu Provinsi Replubik Islam Iran.

Syeikh Abdul Qadir, belajar membaca Al-Qur’an dan memperdalam tafsirnya pada Syeikh Abi Al-Wafa Ali bin Aqil dan Abi Al-Khatab Mahfud Al-Kalwajani. Kedua ulama tersebut mengikuti mazhab Hanbali. Sedangkan memperdalam hadits dan ilmu hadits berguru pada beberapa ulama, diantaranya: Abi Ghalib Muhammad bin Abi Al-Hasan Al-Balaqalani.

Ilmu fiqh beliau dibimbing oleh ulama-ulama bermazhab Hanbali dari Jilan yakni Abi Said Al-Makharami. Mempelajari ilmu tasawuf dan ke-rohaniyahan Syeikh Abdul Qadir nyantri kepada Muhammad Al-Dabbas.

Oleh karena itu, Syeikh sufi besar ini menjadi salah seorang ulama yang sangat mumpuni dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam, sehingga beliau menjadi salah seorang ulama yang sangat berpengaruh dan menjadi tokoh panutan umat Islam.

Sejak bulan syawal tahun 512 H Syeikh ini menjadi pengasuh di Madrasah Abi Sa’ad Al-Makharami di Bagdad. Majelis pengajiannya sangat populer sehingga setiap beliau memberikan pengajian atau tausiyah tujuh puluh ribu orang lebih yang menghadirinya. Sejak saat itu Syeikh Abdul Qadir menjadi seorang Ulama sekaligus tokoh sufi masyhur yang menyejukkan umat dan menjadi sumber mata air ruhani yang selalu memancarkan kehidupan kepada setiap manusia.

Dari fenomena tersebut, beliau ini memperoleh gelar kehormatan dari tokoh-tokoh umat Islam yaitu:

1. Muhyl Al-Din wa Al-Sunnah

Gelar kehormatan ini membuktikan bahwa reputasi beliau dalam membela agama Islam dan selalu mengajak umat untuk mengikuti Sunnah Rasulullah.

2. Al-Imam Al-Jahid

Gelar ini mencerminkan bahwa Syeikh sebagai seorang tokoh sufi yang memandang kehidupan, dan dunia sebagai investasi untuk meningkatkan kualitas batiniyah. Dunia bukan tujuan utama dalam hidup, bukan ujung dalam perjalanan, dan bukan segala-galanya.

3. Al-‘Arif Al-Qudwah

Kehormatan ini membuktikan bahwa tingkat kesufian Syeikh sudah mencapai Maqam ‘Arif Billah. Sehingga kualitas ruhaniyahnya pantas menjadi Al-Qudwah (suri tauladan) bagi para pencari jalan ruhani.

4. Syeikh Al-Islam

Maqam ini hanya berhak diberikan kepada ulama ahli fiqh dan ushul fiqh, sehingga mempunyai wewenang untuk memberikan fatwa-fatwa. Realitas ini sebagai bukti nyata diakuinya ke-tokohan dan ke-ulamaanya juga diterima oleh seluruh umat Islam.

5. Sulthonul Auliya

Secara bahasa kalimat tersebut berarti pemimpin para wali di jagat raya ini, sehingga beliau disebut “Al-Qutb, Qutb Al-Aqtab, dan Al-Ghauts”, yang artinya sama dengan penghulu auliya.

6. Al-Asfiya

Yang maknanya imam atau pemimpin kaum sufi. Gelar ini membuktikan bahwa syeikh pemimpin sufi, sebagaimana terlihat pada posisi dalam struktur keruhanian para wali seperti tersebut di atas . Syeikh Abdul Qodir dikenal sebagai seorang alim yang zuhud dan ahli ibadah.

Beliau telah sampai ke maqom ma’rifat kepada Allah SWT. Syeikh memanfaatkan waktu pagi dan sore untuk memberikan pengajian fiqh, tafsir hadits, ilmu hadits, sastra arab, dan pendalaman ruhani. Beliau pada mulanya mengikuti mazhab Hambali, namun akhirnya mengikuti mazhab Syafi’i. Beliau pendiri Thariqah Qodiriyah yang dinisbatkan dengan namanya.

Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani termasuk salah seorang sufi besar yang banyak menulis karya ilmiah. Menurut catatan Ghossal Nasuh Azqul, beliau kurang lebih membuahkan karya tulisnya yang paling populer sekitar tujuh belas kitab bermutu, dan masih banyak karya-karya ilmiah yang belum terpublikasikan, diantaranya adalah:

  1. Istighotsal al-‘Arifin wa Ghayat min al-Wasilin
  2. Aurad Al-Jailani
  3. Adab al-Suluk wa al-Tawassul ila Manzil al-Muluk
  4. Tuhfat al-Muttaqin wa sabili al-‘Arifin
  5. Jala’ al-Khatir fi al-Batin wa Zahir
  6. Hizb al-Roja’ wa al-Intiha
  7. Du’a Aurad al-Fathiyah
  8. Du’a al-Basmalah
  9. Al-Risalah al-Ghowtsiyyah
  10. Risalah fi al-Asma al-‘Azimah li Thoriq ila Allah
  11. Al-Guniyyah li Thalibi Thariq al-Haaq
  12. Al-Fath al-Robbani wa al-Fayd al-Rahmani
  13. Futuh al-Ghayb
  14. Al-Futuhat al-Robbaniyyah
  15. Mi’raj latif al-‘Ani
  16. Bawaqit al-Hikam
  17. Sirr al-Asror

Pada tanggal 10 Rabi’ul Akhir tahun 561 H penghulu para wali ini dipanggil kealam keabadian yaitu pada usia 91 tahun. Dimakamkan di tempat pengajiannya yaitu Madrasah Abi Sa’d al-Mukharrami di Bagdad.

Pesan-pesan Syeikh Abdul Qodir Jailani

Salah satu penyakit rohani yang kronis adalah “riya”, penampilannya oke, namun hatinya busuk. Perselingkuhan jiwanya terselubung dari mata publik. Seluruh ketaatannya hanya dipergunakan untuk konsumsi orang banyak belaka, nampak dari penampilannya begitu Islami, namun dibalik itu hatinya bagaikan bangkai.

Orang yang taat itu ada dalam mata hatinya, bukanlah dari penampilan kulitnya, semua itu tergantung dari hati dan rahasia hatinya. Anda semua sebenarnya telanjang, selama Anda tidak memakai pakaian dari Allah, yaitu pakaian yang tidak bisa diganti dengan pakaian apapun.

Oleh karena itu, copotlah tampilan Anda diganti pakaian dari Allah. Lepaskanlah pakaian yang melusuhkan jiwamu untuk menegakan hak Allah. Tanggalkan baju syahwatmu dari dalam batinmu, baju kebodohanmu, baju kebanggaan jiwamu, juga baju kemunafikanmu.

Copotlah baju kesenangan dapat pujian dari sesama manusia, yang membuat Anda diterima atau ditolak karena penampilanmu yang palsu. Copotlah baju duniawi dari hatimu dan pakailah baju akherat untuk jiwamu. Lepaskanlah diri Anda dari merasa mampu dan kuat, karena akan membuahkan perasaan menyepelekan orang lain, egoisme, menang sendiri, dan selalu memandang dirinya super.

Maka dari itu lemparkan diri Anda kehariban Allah SWT, dngan tanpa daya, tanpa kekuatan, tanpa bergantung kepada sesama makhluk.

Bila Anda bisa berbuat demikian, maka akan melihat datangnya kelembutan-kelembutan Ilahi kepadamu, rahmat-Nya akan melimpah ruah, serta anugerah-Nya akan menjadi tampilan pakaianmu. Fokuskan dirimu hanya kepada-Nya dengan ketelanjangan jiwamu.

Wahai hamba Allah, jangan sampai lisanmu penuh dengan nasehat kepada orang lain dengan berpura-pura wara’, namun hatimu selingkuh, tampilannya muslim tapi batinnya kafir, zuhudmu hanya kulit luarnya saja, Islam hanya dijadikan formalitas belaka, sementara hatimu, jiwamu amat kotor bagaikan air dalam kubangan wc. Jika Anda terus demikian maka setan akan terus bermukim di dalam rumah jiwamu.

 *) Drs. KH. Munawwir Yamin, MBA, Direktur Nurudh Dholam Institute, Koja, Jakarta

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending