595
Redaksi |

Ibnu Wahshiyya (w. 930 M), Sejarahwan yang Memecahkan Hieroglif Mesir Kuno

Sumber gambar di sini

Nama lengkapnya Abû Bakr Ahmad bin Ali bin Qais bin Mukhtar bin Abdul Karim al-Nabthî, seorang kimiawan, astrolog, penerjemah, ahli ilmu magis, sejarahwan, ahli ilmu pertanian, botanis, ahli bahasa kuno, ahli taksikologi peternakan, dan ahli kebudayaan Mesir (egyptologist) yang lahir di Qusayn, daerah dekat Kufah. Dia adalah salah satu orang pertama yang berhasil menguraikan (dechiper) dan membaca hieroglif Mesir kuno.[1]

Awal hidupnya dihabiskan di Baghdad era Harun Rashid dan anaknya, al-Ma’mun. Ibnu Wahshiyya merupakan keturunan suku bangsa Nabatea[2] (Babilonia Kuno). Nenek moyangnya yang pertama memeluk Islam adalah Abdul Karim, ayah dari kakek buyutnya. Ibnu Wahshiyya sangat bangga dengan latar belakangnya. Dia menjadi muslim tapi tidak meninggalkan tradisi suku bangsanya. Salah satunya dengan mempelajari banyak bahasa kuno, termasuk bahasa nenek moyangnya.

Bukunya, al-Filâhah al-Nabatiyyah (Pertanian Nabatea, tahun 904 M), berisi tentang pengetahuan agronomik dari suku bangsa asli Irak pra-Arab, yaitu suku bangsa Nabatea. Disusul dengan ringkasan tentang agronomi Yunani, al-Filâhah al-Rûmiyyah, yang konon merupakan terjemahan dari sumber asli Yunani. Dua buku itu berisi tentang bagaimana cara berurusan dengan tipe dan kualitas tanah yang berbeda-beda dengan implementasi agrikultural dan cara kerja metodik, yaitu pemupukan, irigasi, penggunaan hewan, penghilangan hama. Buku itu juga membahas tentang berbagai macam masalah penanaman, perawatan dan cara terbaik memanen, dari mulai gandum, sayur-mayur sampai bunga untuk dijadikan parfum.[3]

Di bidang Egyptology, Ibnu Wahshiyya menulis Syauq al-Mustahâm fi Ma’rifah Rumûz al-Aqlâm yang mencakup 93 skrip hieroglif Mesir kuno. Hal ini menunjukkan bahwa warisan Mesopotamia pra-Islam dilestarikan dengan kerja-kerja keserjanaan yang dilakukan di Abad Pertengahan Islam, salah satu pelakunya adalah Ibnu Wahshiyya. Dia banyak menerjemahkan buku dari sumber kuno dengan bahasa beragam.[4] Di bawah ini beberapa gambarnya:

Beberapa karyanya dapat dikelompokkan sebagai berikut, pertama, Ilmu Magis: 1) Tard al-Syayâtîn, 2) al-Sihr al-Kabîr, dan 3) al-Sihr al-Shaghîr.

Kedua, Ilmu Kimia: 1) al-Ushûl al-Kabîr, dan 2) al-Ushûl al-Shaghîr.

Ketiga, Ilmu Bahasa Kuno: 1) Syauq al-Mustahâm fi Ma’rifah Rumûz al-Aqlâm, dan 2) Syams al-Syumûs wa Qamar al-Aqmâr fi Kasyf Rumûz al-Harmasiyyah.

Semoga bermanfaat.

Endnote:

[1] Okasha El Daly, Egyptology: The Missing Millennium: Ancient Egypt in Medieval Arabic Writings, London: UCL Press, 2005, hlm 168-169

[2] Suku bangsa yang tinggal di Arab Utara dan Selatan Levante. Setelah Kerajaan Nabatea ditaklukkan oleh Kaisar Romawi, Trajan (53-117), Nabatea masuk dalam wilayah Kekaisaran Romawi. Mereka kemudian memeluk agama Kristen.

[3] Bernard Lewis, Islam in History: Ideas, People, and Events in the Middle East, Illinois: Open Court Publishing Compeny, 2001, hlm 99

[4] Okasha El Daly, Egyptology: The Missing Millennium: Ancient Egypt in Medieval Arabic Writings, hlm 168-169


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending