1819
Redaksi |

Khansâ’, Penyair Wanita Zaman Nabi

 

Nama lengkapnya Tumâdlir binti ‘Amr bin al-Syarîd dari Bani Sulaim[1] biasa dipanggil dengan al-Khansâ’ karena hidungnya yang pendek dan pucuk hidungnya menjulang (li qashri anfihâ wa irtifâ’i arnabatîhi). Khansâ lahir di Najd dari keluarga kaya di zaman jahiliyah yang di kemudian hari memeluk Islam. Khansâ dipandang sebagai penyair perempuan terbaik di eranya.

Di masa jahiliyah, peran penyair perempuan kebanyakan hanya menggubah syair-syair ratapan (elegi[2], sajak sedih) untuk orang yang telah meninggal dan menampilkannya sebagai perwakilan suku tertentu dalam kompetisi publik. Khansâ memenangkan kompetisi tersebut dengan puisi eleginya tentang dua saudaranya yang mati dalam perang suku, Shakr dan Muawiyah. Setelah itu, popularitasnya melambung tinggi karena puisinya begitu menyedak hati.

Gaya tuturnya dan pemilihan diksinya luar biasa. Khansâ dapat menggabungkan kata-katanya secara alami dan menarik, seperti ada jiwa dalam setiap kata-katanya. Beberapa penggalan puisinya menggambarkan itu[3]:

إنى أرِقْتُ فبتُّ الليلَ ساهرة #  كأنّما كُحِلَتْ عَينى بعُوّار

(Air mata) kutumpahkan, maka malam kulalui tanpa pejam

Seakan mataku bercelak kebutaan

Di bait lainnya dia mengatakan:

وسوف أبكيك ما ناحتْ مطوّقة # وما أضاءتْ نجوم الليل للسارى

Aku akan menangisimu, dengan ratapan tiada henti

Hingga bintang-bintang malam tak lagi dapat menerangi pejalan kaki

Dengan karya-karyanya, Khansâ berhasil mengangkat syair-syair ritsa (elegi) ke level qarîdl, yaitu jenis puisi yang dipandang oleh orang Arab ketika itu berstatus tinggi. Dia menggubah puisi-puisinya menggunakan bentuk matra dan rima, tidak lagi menggunakan saj atau rajaz yang biasa dipakai dalam puisi-puisi ritsa.[4]

Baca juga: Abdurrahman al-Sufi (903-986 M), Astronom-Sufi Berpengaruh

Meski seroang wanita, Khansâ sangat dihormati oleh sastrawan Arab lainnya. al-Nâbighah al-Dzubyânî[5] pernah memuji al-Khansâ’ dengan mengatakan:

والله لولا أن أبا بصير أنشذني (آنفا) لقلتُ إنّكِ أشعر الجنّ والإنس

“Demi Allah, jikalau Abu Bashir[6] (al-A’syâ) tidak membacakan puisinya padaku lebih dulu, akan kukatakan bahwa kau penyair terhebat dari jin dan manusia.” [7]

Khansâ juga pernah dipuji dengan ungkapan:

والله ما رأيت ذات مثانة أشعر منك, فقالت له الخنساء: والله ولا ذا خصْيَين

“Demi Allah, aku tidak pernah melihat penyair berpayudara/berahim yang lebih hebat darimu!” al-Khansâ menjawab: “Demi Allah, (aku juga yang terhebat di antara para) penyair berbiji pelir (bertestis) juga!” [8]

Lukisan Khansa (1917) oleh Khalil Gibran

Setelah memeluk Islam, tema dan isi dari syair-syair ratapan yang telah membawanya ke puncak popularitas berubah. Ketika dia mendengar empat orang anaknya, Yazid, Muawiyah, ‘Amr dan Amrah terbunuh dalam Perang Qadisiyyah (636 M) di masa Khalifah Umar bin Khattab, dia berujar:

الحمد لله الذي شرفني بقتلهم، وأرجو من ربي أن يجمعني بهم في مستقر رحمته

“Segala puji milik Allah yang telah memuliakanku dengan kematian mereka. Aku hanya berharap Tuhanku akan menyatukanku dengan mereka dalam naungan rahmatNya.”[9]

Sebelum memeluk Islam, Khansâ menyuruh saudaranya, Shakr, untuk menuntut balas kematian saudaranya, Muawiyah. Pada akhirnya, Shakr terluka dan meninggal satu tahun kemudian karena lukanya. Setelah memeluk Islam, dia melebihi ketabahannya, dia merasa dimuliakan dengan terbunuhnya mereka. Dia berbahagia dengan kematian orang terdekatnya. Khansâ meninggal di tahun 24 Hijriah di usia sekitar 70 tahun. Semoga Allah mengabulkan doa dan harapannya. Amin.

Endnote:

[1] Ibnu Qutaibah, al-Syi’r wa al-Syu’arâ’, Kairo: Dar al-Ma’arif, tt, juz 1, hlm 343

[2] Dalam bahasa Arab disebut Ritsa dari akar kata “رثي-يرثي-رثيا” yang berarti menangisi setelah kematiannya.

[3] Lihat al-Buhturi, Kitab al-Hamasa, hlm 271-272. Teks lengkap klik di sini

[4] Julie Scott Meisami dan Paul Starkey (ed.), Encyclopedia of Arabic Literature vol II, London: Routledge, 1999, hlm 435

[5] Nama aslinya Ziyad bin Muawiyyah dari Bani Dhubyan. Masa hidupnya sekitar tahun 535-604 M. Nama al-Nâbighah merupakan julukan orang-orang kepadanya yang berati jenius. Dia merupakan salah satu sastrawan terakhir pra-Islam (jahili).

[6] Nama aslinya Maymun bin Qais al-A’sya (570-625). Salah satu sastrawan terakhir pra Islam. Dia dipanggil al-A’sya karena penglihatannya yang lemah (buta). Maymun bin Qais adalah seorang monoteis, mempercayai hari akhir dan hari kebangkitan kembali sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Kepercayaannya ini didapatkan dari pergaulannya dengan para pendeta Kristen dari Najran dan Hirah.

[7] Ibnu Qutaibah, al-Syi’r wa al-Syu’arâ’, juz 1, hlm 344

[8] Ibnu Qutaibah, al-Syi’r wa al-Syu’arâ’, juz 1, hlm 344

[9] Muhammad Rakan al-Dughmi, al-Tajassus wa Ahkâmuhu fi al-Syari’ah al-Islamiyyah, Kairo: Dar al-Salam, 1985, hlm 193


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending