391
Redaksi |

Mengenal Nahdlatul Ulama: Penggerak Mesin Aswaja (#1)

Gambar: nu.or.id

Tanggal 31 Januari 2018, 92 tahun yang lalu adalah hari kelahiran Nahdlatul Ulama (31 Januari 1926). Banyak yang melatarbelakangi berdirinya NU sebagai organisasi, diantaranya: sebagai wadah kesatuan umat, respon terhadap gerakan radikal, dan ekspresi kebangkitan nasional.

Sebelum NU berdiri—lebih dulu bermunculan cikal-bakal dari gerakan ini, seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) dibentuk pada 1916, pada 1918 dibentuk sebuah kelompok diskusi Taswirul Afkar dikenal juga Nahdlatul Fikr (kebangkitan pemikiran), selanjutnya berdiri juga Nahdlatut Tujar (pergerakan kaum saudagar).

Di samping itu, dalam pergaulan para ‘kiai pesantren’, telah terbangun kesamaan faham dan wawasan keagamaan, khususnya pengamalan keagamaan, entah itu spiritual maupun kultural. Hubungan itu juga terjalin melalui pertemuan-pertemuan dalam berbagai ritual, seperti; khaul, selametan, hubungan perkawinan, maupun ikatan-ikatan seperguruan.

Merespon itu semua, dirasa perlu membuat sebuah organisasi yang sistematis dan dapat merangkul semua. Setelah para kiai melakukan kordinasi, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisai bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926) di kota Surabaya, organisai ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar.

Para Kiai pendiri NU mempunyai latar belakang pemikiran yang sama dan berbasis sama yaitu pesantren, dan paham yang diusung adalah Ahlus sunnah wal Jama’ah. Faham ini telah mempersatukan secara natural antara ajaran tauhid, fiqh, dan tasawuf. Di mana dalam bertauhid mengikuti paham al-Asy’ari dan al-Maturidi, dalam berfiqih bermuara pada 4 madzhab Hanafi, Maliki, Syafii atau Hambali, sedangkan dalam bertasawuf mengikuti al-Junaid, al-Baghdadi, dan al-Ghazali.

Munculnya kebutuhan untuk membentuk organisasi—para kiai ini lebih banyak didorong oleh faktor luar daripada faktor kesadaran internal untuk mengembangkan secara kolektif faham keagamaan yang mereka anut[1]. Faktor-faktor yang mendorong dibentuknya organisasi NU ialah: Pertama, adanya serangan terbuka dari kelompok reformis (pengikut ajaran Wahabi) terhadap faham dan praktek-praktek keagamaan para kiai dan pengikutnya. Ajaran para kiai yang menekankan pentingnya sistem bermadzhab dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam dituduh sebagai penyebab kemunduran dan kemandekan umat Islam. Berbagai praktek ritual keagamaan, seperti; tahlilan, selamatan, khaul, ziarah kubur, dan praktek-praktek tarekat dianggap bid’ah dan syirik oleh kelompok reformis.[2]

Kedua, penyerbuan terhadap Makkah oleh Abd al-Aziz ibn Sa’ud, sehingga seluruh Hijaz (bagian barat semanjung Arabia) berada di bawah kekuasaan Ibn Sa’ud pengikut Wahabi. Perkembangan politik yang terjadi di tanah Arab itu sangat mengkhawatirkan kelompok Islam tradisional, karena penguasa yang baru dengan keras menentang pengamalan ajaran Islam tradisional. Karena itu para ulama tradisional berkepentingan agar berbagai ajaran dan praktik keagamaan yang mereka jalankan ini tidak dipersoalkan oleh penguasa Arab yang baru. Untuk menyampaikan itu, para kiai tradisional tidak diizinkan masuk dalam kongres Islam di Makkah untuk mewakili umat Islam Indonesia, hanya dari kelompok reformis saja yang terpilih. Sedangkan kelompok reformis sama sekali tidak menjadi perwakilan mutlak bagi para kiai dan mereka tidak mau menyampaikan aspirasi dan keluhan para kiai.[3]

Merespon situasi tersebut, akhirnya para kiai bersepakat membentuk organisasi ulama yaitu Nahdlatul Ulama, agar dapat menyampaikan aspirasi mereka terutama yang menyangkut perlindungan terhadap berbagai ajaran dan praktek keagamaan kelompok tradisional.

Terlepas dari faktor mana yang dominan mendorong dibentuknya organisasi NU, yang nyata terjadi selama organisasi berjalan ialah NU merupakan organisasi pembela ajaran Islam tradisional, ia menjadi sarana (wadah) perjuangan kepentingan kelompok Islam tradisional dan berperan sebagai sarana partisipasi mereka dalam proses pembentukan bangsa Indonesia maupun dalam proses pencarian prinsip-prinsip penataan masyarakat dan negara Indonesia. Organisasi NU sendiri sesungguhnya adalah federasi dari otoritas otonom para kiai dan pondok pesantren, sehingga kalangan Nahdliyin (pengikut NU) organisasi ini juga disebut sebagai pesantren besar[4].

Kalau kita membaca sejarahnya, pada 1920 masyarakat Indonesia masih terjajah, dan kebanyakan dari masyarakat kita tidak mempunyai kesempatan mengenyam Pendidikan. Sehingga para kiai desa atau tokoh-tokoh Islam tradisional terdidik membuat pesantren untuk menampung masyarakat agar masyarakat terbebas dari buta huruf. Pada saat itu, kesempatan belajar hanya diberikan kepada golongan darah biru saja, dan itu pun melalui sekolah-sekolah Belanda atau kraton. Di rasa penting, banyak pesantren yang berdiri, untuk menampung semua masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan. Usaha itu menuai hasil maksimal, pembrantasan buta huruf sukses, walaupun yang diajarkan adalah baca-tulis Arab Pegon. Namun, dari situ transformasi pengetahuan mulai menggeliat, sehingga tradisi membaca/literasi mulai bermunculan di berbagai kalangan masyarakat.

Namun, lagi-lagi tekanan kaum puritan membuat para kiai tidak nyaman. Khsusunya masyarakat yang masih awam terhadap Pendidikan agama Islam, atau biasa disebut juga dengan kelompok abangan. Praktek-praktek keislaman yang mereka lakukan, dianggap tidak sesuai dan melenceng dari al-Qur’an dan Hadits, keresahan itu juga melatarbelakangi NU berdiri. Dan ketika NU berdiri masyarakat merasakan adanya simbol baru yang dapat menaungi mereka.

Sejarah lain mengatakan, sebelum harapan NU itu terlahir, masyarakat meletakan harapannya pada Sarekat Islam. Hampir semua masyarakat desa mengaku diri sebagai “orang SI” atau Parsi (Partai Sarekat Islam). Tapi kemudian mereka kecewa. Dalam bukunya, Berangkat dari Pesantren, KH Saifuddin Zuhri memotret kekecewaan orang-orang desa itu. Kecewa karena Sarekat Islam tidak lagi melayani kepentingan orang-orang desa. Kaum elit SI sibuk mengurus urusan kota atau soal-soal “tbc” (takhayul, bid’ah dan churafat). Kekecewaan mereka kemudian terobati ketika muncul NU di desa-desa. Mereka kemudian menganut “paham NU”, minimal sebagai jamaah (kultural), bukan sebagai pengurus jam’iyah (struktural)[5].

Rakyat meletakan harapannya kepada NU, pada NU mereka melihat agama para ulama, sekaligus agama rakyat. Seperti halnya kutipan KH Saefuddin Zuhri, “Tradisi kerakyatan dalam mengabdi kepada Allah SWT, dan menyebar kebaikan di tengah-tengah masyarakat.”

Mereka melihat harapan baru untuk merawat tradisi, dengan berguru setiap hari kepada para ulama-kiai, minimal belajar doa-doa. Mereka juga melihat NU sebagai cara menggerakkan tradisi rakyat sebagai kekuatan bersama menghadapi tantangan serta “Anggemahaken ing desa” (berjuang demi kesejahteraan dan kemakmuran orang-orang desa), seperti dituturkan satu teks santri¸Serat Centhini. Semangat ini dilanjutkan oleh orang-orang pesantren, dan juga orang-orang NU. Tradisi slametan atau kenduren misalnya mendapatkan perlindungan di bawah NU.[6]

Tokoh-tokoh Kristen seperti Sadrach dan Kartawijaya di abad 19 dan awal abad 20 hingga Romo Kuntoro untuk belajar tradisi jawa mereka belajar di Pesantren. Demikian pula tradisi penghormatan makam keramat, makam guru-guru atau pendiri desa (pepunden). Komunitas Kejawen pun menghargai tradisi Nusantara karena belajar dari penghormatan kiai-ulama dan orang-orang NU terhadap makam guru-guru yang dimuliakan. Itulah yang disebut sebagai ikatan batin (‘alaqah ruhiyah) antara orang-orang desa dan orang-orang NU. Dari satu ikatan batin terbentuk ideologi rakyat.[7]

Tradisi ziarah makam misalnya menjadi energi baru untuk sebuah revolusi rakyat, seperti ditunjukkan dalam revolusi sosial di Karesidenan Pekalongan tahun 1945. Demikian pula peristiwa hereoik 10 November 1945 yang dipuji-puji oleh Tan Malaka dalam tiga risalah politiknya, juga dibangun dari kedekatan aktor-aktornya dengan tradisi keagamaan NU—dari kobaran “resolusi jihad” hadlratusysyekh Kiai Hasyim Asy’ari. Anda tentu ingat pula seorang kiai kharismatik, Kiai Subeki Parakan, Temanggung, Jawa tengah, yang terkenal dengan sebutan Kiai Bambu Runcing.[8] Anda tentu juga ingat ijtihad politik Kiai Wahid Hasyim, dan Anda tentu juga ingat salah satu presiden kita Gus Dur yang mengedepankan kepentingan rakyat, sehingga beliau dilengserkan.

Selain itu, Anda juga pasti ingat, bagaimana kekuatan barokah air sumur dan air jampi-jampi (doa-doa) para kiai yang menjadi semangat perjuangan melawan para penjajah. Tidak bisa dipungkiri air sumur, air doa, bambu runcing, dan berbagai ritual tradisi lainnya menjadi salah satu relasi Indonesia merdeka. Dan itu semua dijaga dan diwadahi oleh NU untuk mempersatukan rakyat dari kemungkinan-kemungkinan perpecahan.

Anehnya, ritual-ritual tersebut menjadi sasaran empuk bagi kaum puritan dalam menyudutkan tradisi-tradisi NU, sebagai kelompok peternak bid’ah. Padahal tradisi keisalaman kita jika ditilik dari masa ke masa, mulai para Wali Songo sampai kepada para kiai, proses pengilmuan Islam dilakukan dengan cara pendekatan terhadap tradisi-tradisi lokal, dengan kata lain mereformasi tradisi lokal bersamaan memasukan nilai-nilai Islam sebagai pijakannya.

Para kiai sebagai pelaku sejarah yang telah berhasil membimbing umat Islam Indonesia dengan taat menganut faham Ahlus sunnah wal Jama’ah selama lebih dari 800 tahun, memahami sedalam-dalamnya makna dan kandungan faham tersebut. Merka tahu cara terbaik pengembangannya agar diikuti dan diamalkan oleh umat Islam dalam mengarungi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ke masa depan[9].

Pesantren dan NU dalam tradisi keagamaannya selalu berpaku pada tiga hal, dan tiga hal tersebut dirasa sangat cocok dengan watak umat Islam Indonesia, entah itu dari segi budaya, sosial, adat dan karakter manusia Indonesia, yaitu mengajarkan tawassuth (memilih jalan tengah), tastamuh (toleran), dan tawazun (menjaga keseimbangan).

Tafsir dan aplikasinya, seleras dengan perkembangan sejarah umat Islam Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan. Bagi kiai, faham Ahlus sunnah wal Jama’ah (Aswaja) dengan sangat mudah berkembang dan menyesuaikan diri dengan bentuk-bentuk pikiran dan aspirasi masyarakat dari mulai abad ke-13 sampai abad ke-21. Faham Aswaja memasuki millennium ketiga saat ini tetap kuat dan memiliki dinamika yang sesuai.

Menurut Zamakhsyari Dhofier, dalam buku Tradisi Pesantren, Demikian pula yang terjadi dengan pemikiran Islam para kiai Indonesia. Semakin besarnya jumlah pengikut para kiai sejak masuknya Islam ke Indonesia sampai dengan awal millennium ketiga ini adalah merupakan salah satu bukti bahwa para kiai di Indonesia memiliki vitalitas. Suatu kekuatan sosial, kultural, dan keagamaan yang mempunyai vitalitas tidak mungkin beku tanpa mengalami perubahan. Perubahan pandangan “yang lamban” para kiai bukannya menghasilkan system yang statis/ajeg, tetapi justru mengasilkan sistem di mana perubahan-perubahan yang dilakukan terjadi secara pelan-pelan dan melalui tahapan-tahapan yang tidak mudah diamati. Sebagaimana dinyatakan oleh Snouck Hurgronje:

“Faham Islam para kiai di Indonesia yang kelihatannya demikian statis dan kuat terpaku oleh pikiran-pikiran ulama di abad pertengahan, sebenarnya telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat fundamental; tetapi perubahan-perubahan tersebut demikian bertahap-tahap, demikian rumit dan demikian tersimpan. Itulah sebabnya bagi para pengamat yang tidak kenal dengan pola pemikiran umat Islam Indonesia, perubahan-perubahan tersebut tidak akan bisa mereka lihat, walaupun sebenarnya terjadi di depan matanya sendiri, kecuali bagi mereka yang mengamatinya secara seksama.”[10]

Nantikan ulasan selanjutnya…

Endnote

[1] Uraian lebih rinci mengenai peristiwa yang menyertai lahirnya NU, lihat Martin Van Bruinassen: 26-34, dan Andre Feilard: 7-12

[2] M. Nur Hasan, MA., “Ijtihad Politik NU: Kajian Filosofis Visi Sosial dan Moral Politik NU dalam Upaya Pemberdayaan Civil Society”, (Manhaj: Yogyakarta, 2010), hlm. 49

[3] M. Nur Hasan, MA., hlm. 50

[4] M. Nur Hasan, MA., hlm. 50

[5] Ahmad Baso, Agama NU untuk NKRI: Pengantar Dasar-dasar Ke-NU-an di Era Kebebasan dan Wahabisasi”, (Pustaka Afid: Jakarta, 2015), hlm. 4

[6] Ahmad Baso, hlm. 5

[7] Ahmad Baso, hlm. 6

[8] Ahmad Baso, hlm. 8-9

[9] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, (LP3S: Jakarta, 2015), hlm. 2

[10] Snouck Hurgronje, dikutip dari Clifford Geertz, “Modernization in Moslem Society, the Indonesia Case” dalam Quest, vol. 39 (Bombay, 1963), hal. 16. Dikutip dari Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, hlm. 5

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending