408
Muhammad Afiq Zahara |

Manusia, Esensi atau Materi?

Sumber gambar di sini

Abu Nashr al-Farabi membagi manusia ke dalam esensi dan eksistensi. Menurutnya, esensi adalah inti dari keberadaan sesuatu, sementara eksistensi merupakan aktualisasi dari keberadaan esensi. Manusia adalah eksistensi, sedangkan jiwa (ruh) adalah esensinya. Al-Farabi berpandangan bahwa esensi dan eksistensi merupakan dua hal yang berbeda. Jika eksistensi dan esensi merupakan satu kesatuan yang sama, maka mustahil untuk memahami yang satu tanpa yang lain. Baginya hanya ada satu wujud yang esensi dan eksistensinya satu, yaitu Tuhan.

Untuk membahas masalah esensi (jiwa) dan eksistensi lebih jauh, kita harus terlebih dahulu memahami perbedaan jiwa dan diri. William C. Chittick menulis bahwa orang-orang cenderung menyamakan kata “nafs” dalam Al-Qur’an sebagai jiwa dan diri. Dengan kata lain mereka seolah-olah berbicara jiwa—sama halnya tubuh—merupakan “sesuatu” yang memiliki realitas konkret dan khas.[1] Padahal tidak demikian, jiwa sama sekali bukan “self”, melainkan dzat daripada “self” (esensi).

Sebab itu, Suhrawardi (1155-1191 M) menguraikan bahwa manusia tidak mungkin bisa terlepas dari esensinya. Dia menulis:

“The essence is devoid of all ilusions and delusions, and is the perfect intelligence. But the animal in man imagines its essence. That is why the essence of the animal is material, it is not spiritual.”[2]

“Esensi itu tak ternoda oleh khayalan dan angan-angan, dan merupakan akal yang sempurna. Tetapi, sifat hewani dalam diri manusia membayangi esensinya. Itulah mengapa esensi hewan bersifat material, bukan spiritual.”[3]

Artinya, esensi itu murni, akal yang sempurna dan semacam makhluk spiritual. Maka, wajar saja jika Rene Descrates menjelaskan eksitensinya ada karena esensinya berkreasi, “cogito ergo sum” (Aku berpikir maka aku ada). Rene Descrates menempatkan “pikiran”, “ide”, atau “daya yang membuat kreasi” sebagai penyebab eksistensinya. Teori ini sejalan dengan pandangan Al-Farabi tentang adanya struktur esensi dan eksistensi pada diri manusia.

Baca juga: Haji dalam Spiritualitas Sufi

Esensi manusia adalah, bahwa ia makhluk ruhani dan rasional. Eksistensinya adalah, bahwa ia dapat berpikir, merenung, mempertimbang-kan dan mengambil keputusan dari pertimbangan itu, dan sebagainya. Pola esensi-eksistensi ini hanya terdapat pada manusia, tidak pada Tuhan. Pada Tuhan, “sifat intelektual” (esensi) dan “aktifitas intelektual” (eksistensi) adalah satu, tidak berpisah dan terpisah-pisah.[4] Berbeda dengan manusia yang terdiri dari materi dan esensi; hidup dan mati; perpisahan raga dan ruh.

Lebih jauh dari itu, menurut Suhrawardi, esensi bersifat abadi dan materi terus berubah. Dia menuliskan:

“That which is constant, always alive, indivisible, it the opposite of that which change, divided, dissolves. The essence, the one ”I” in your declaration of “I am,” is one indivisible, constant, and eternal.  Therefore, your essence is incorporeal, and cannot be a prat of a material being.”[5]

“Bahwa yang tetap, yang selalu hidup, yang tak dapat dibagi, merupakan lawan kata dari yang berubah, terbagi, terurai. Esensi seorang “Aku” dalam pernyataan Anda tentang “Aku,” adalah sesuatu yang tak dapat dibagi, tetap, dan kekal. Oleh karena itu, esensi Anda bersifat nonmaterial, dan tidak mungkin merupakan bagian dari wujud material.”

Dengan istilah lain, Suhrawardi ingin menegaskan bahwa ruh bersifat abadi, tidak rusak dan terbagi. Tidak seperti tubuh yang dapat membusuk, terpotong-potong dan binasa. Ruh (jiwa, akal sempurna, esensi) berbeda dari itu. Ia tidak memiliki wujud materi, karenanya abadi. Tentu saja “keabadian” yang berbeda dengan Tuhan. Sebab “esensi manusia” diciptakan dari tidak ada menjadi ada, sementara Tuhan tidak.

Atas dasar itu pula manusia membutuhkan makanan ruhani atau spiritual, seperti ibadah dan pengabdian diri pada Tuhan yang telah meniupkan ruhNya kepada manusia. Jika memakan nasi dan meminum air adalah makanan jasmani, materi dan jasadi (untuk memenuhi kebutuhan jasad), maka shalat, puasa, zakat, dzikir, doa, dan lain sebagainya adalah makanan ruhani, spiritual, ruh, dan esensi. Karena itu, manusa tidak mungkin terlepas dari esensinya. Maka, silahkan tentukan sendiri ingin mempercantik esensi atau materi? Tapi, alangkah baiknya jika kita bisa mempercantik keduanya.

Endnote:

[1] Lih. William C. Chittick, Tasawuf di Mata Kaum Sufi, terj. Zainul Am, Bandung: Mizan, 2000, hlm 86-87

[2] Syihabuddin Yahya al-Suhrawardi, The Shape of Light (Hayakal al-Nuur), interpreted by Syeikh Tosun Bayrak al-Jerrahi, Kentucky: Fons Vitae, 1998, hlm 51

[3] Sebenarnya akan jauh lebih otentik jika referensi ini menggunakan bahasa aslinya, akan tetapi penulis tidak mempunyainya.

[4] Lih. Simon Petrus L.Tjahjadi, Petualangan Intelektual: Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani hingga Zaman Modern, Jogjakarta: Kanisius, 2004, hlm 138

[5] Syihabuddin Yahya al-Suhrawardi, Hayakal al-Nuur, hlm 52

______________________

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending