249
M. Fakhruddin Al-Razi |

Mencintai Diri Sendiri

 

Oleh M. Fakhruddin Al-Razi

Jika ditanya tentang siapa yang paling kita cintai, jawabannya adalah diri kita sendiri. Bukan ibu, ayah, atau bahkan orang lain. Kenapa demikian? Sebab bagaimanapun keadaan dan apapun keinginan kita, kita pasti akan menuruti bahkan bilapun kita harus menyakiti diri sendiri demi orang lain. Sejatinya, memang hal itulah yang muncul dari hasrat kita. Lebih-lebih lagi, kesakitan atau kesengsaraan yang kita dapat ‘demi orang lain’ itu sesungguhnya adalah kenikmatan dan kepuasan tersendiri bagi konsumsi batin kita. Dari unsur ‘demi orang lain’ itu pula kita akan mendapat semacam pengakuan atau aktualisasi.

Contoh mainstreamnya adalah perempuan yang melahirkan. Walau akan merasa sakit dan repot selama berbulan-bulan, seorang perempuan akan tetap memilih merawat kandungannya sampai tiba masa kelahiran daripada menggugurkannya. Jika diterka kembali, secara ukuran fisik sakit yang dihasilkan dari merawat kandungan selama 9 bulan dengan menggurkan janin yang mungkin hanya butuh beberapa menit secara akal sehat pasti akan jauh lebih sakit dan merepotkan bila memilih merawat kandungan. Akan tetapi, gejolak jiwa yang akan diterima oleh yang menggugurkan janin pastinya akan jauh lebih besar.

Inilah satu hal yang membuktikan betapa setianya kita pada diri sendiri. Meski orang-orang mengatakan bahwa cinta ibu pada anak melebihi cintanya pada diri sendiri, sejatinya si ibu tidak mau menyakiti dirinya dengan karena melihat anaknya tersakiti. Sebab itulah ibu merawat anak sepenuh hati. Bukan cinta ibu pada anak melebihi cintanya pada diri sendiri, akan tetapi anak sudah dianggap sebagai bagian dari diri ibu itu sendiri sehingga mencintai anak sama dengan mencintai diri sendiri bagi seorang ibu.

Ada sejumlah hal yang bisa membuat kita semakin yakin bahwa yang patut dicintai melebihi apapun di dunia adalah diri sendiri. Seperti halnya kasus bolehnya memakan ular di tengah hutan belantara. Bila ada yang mengatakan tetap haram maka patut dipertanyakan ibadah orang itu. Dalam hal tersebut kita dihadapkan pada situasi simalakama. Antara menghindari yang haram dan melanjutkan bertahan hidup. Namun yang lebih mendominasi di sini adalah sebisa mungkin manusia harus bertahan hidup. Dalam artian, antara kewajiban untuk terus hidup mengalahkan haramnya hukum memakan ular. Demikian pula yang terjadi pada orang sakit yang obatnya tidak ada lagi selain barang haram, maka benda haram tersebut akan diperbolehkan untuk dikonsumsi demi kelangsungan hidup.

Bahkan agama pun seperti fenomena di atas tidak mengekang kita untuk dapat mencintai diri sendiri, lebih-lebih dalam kondisi terdesak. Namun kita seringkali bertindak berlebihan dan kelewat batas. Kerap kali sesuatu yang di luar diri kita, kita anggap sebagai bagian dari diri sendiri. Entah itu seseorang, benda, atau apapun. Sementara kita melupakan hal-hal yang sebenarnya lebih dekat dengan diri kita. Misal ketika mecintai seseorang kita rela memberikan segala hal demi kebahagiaannya. Melihatnya bahagia maka kita juga akan ikut bahagia. Dengan bahasa lain, kebahagiaannya adalah kebahagiaan kita juga (dianggap sebagai bagian dari diri sendiri). Di sisi lain sebenarnya kita sudah mengabaikan apa yang sesungguhnya lebih kita perlukan. Uang kita akan habis untuk orang lain dan waktu kita akan terbuang sia-sia hanya untuk orang lain yang senyatanya bukan termasuk dari diri kita.

Oleh sebab itu, memahami kapasitas diri dan keinginan adalah hal yang harus didahulukan. Bila tidak maka hidup ini hanya akan kita hambur-hamburkan untuk sesuatu yang kurang penting. Memikirkan orang lain memang penting, tapi alangkah baiknya bila melihat kondisi diri sendiri terlebih dahulu agar tidak merugi di akhir.

Sesekali kita juga harus melirik pada satu atau dua ayat dari isi kitab suci. Meski memang agama bukan satu-satunya solusi hidup, tapi di sana ada banyak jalan alternatif untuk kemudahan dalam segala hal. Dalam salah satu potongan ayat, tuhan memfirmankan yang bila ditarik maknanya menjadi: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagian dari (kenikmatan) duniawi ….” (QS. Al-Qashash: 77). Lebih jelasnya, walau agama memang memerintahkan kita agar terus dapat mencari bekal akhirat berupa pahala tetapi di sisi lain kita juga tidak boleh melupakan kehidupan kita di dunia. Dengan ungkapan lain kita tidak boleh sampai lupa pada diri sendiri. Oleh karena itu, Islam tetap memperhatikan aspek duniawi pada manusia seperti menikah, makan, dan sebagainya.

Tak perlu berlebihan memperhatikan sesuatu yang di luar diri kita. Cukup pahami diri sendiri terlebih dahulu. Cintailah diri sendiri sepenuhnya maka kita akan dengan lapang mencintai yang lain. Bahkan bisa kita anggap sebagai diri kita sepenuhnya juga. Bukan berupaya untuk menjadi individualis, akan tetapi diri ini juga punya jatah dan hak-hak yang patut untuk dipenuhi terlebih dahulu. Baik hak-hak yang lahir ataupun yang batin.

Pada akhirnya, betapa diri ini harus dicintai dan diperhatikan melebihi apapun.

*) Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura yang sedang domisili di Malang. Buku ke duanya yang baru terbit berjudul Menjadi Manusia Setengah Dewa (2018).


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending