337
M. Fakhruddin Al-Razi |

Menjadi Perokok yang Rahmatan Lil’alamin

Gambar: style.tribunnews.com

Oleh M. Fakhruddin Al-Razi

Merokok tidak akan membuatmu keren. Merokok juga tidak akan membuatmu terlihat gagah. Bahkan merokok tidak akan membuatmu kaya. Bila kamu merasa dengan merokok itu membuatmu semakin keren itu hanya dalam benak dan pikiranmu saja. Sebab orang yang pertama kali akan terkesan bila kau merokok ya kamu sendiri itu sebenarnya.

Ini yang kerap orang-orang pikirkan tentang merokok. Seolah merokok itu sesuatu yang luar biasa dan mebangun kesan maco pada laki-laki. Kalau memang sudah kecanduan merokok ya sudah tak perlu banyak cing-cong berapologi, merokoklah dengan biasa-biasa saja. Sebab orang-orang sudah bakal mengerti kamu akan punya sejuta opini untuk membela rokok. Toh merokok itu boleh di negara kita, tak akan dipenjara juga oleh polisi. Tak perlu sok sombong hanya karena merokok. Tak usah bangga karena kamu merokok dan yang lain tidak. Jadi yang partama, merokoklah biasa-biasa saja.

Lalu bila ada yang menegurmu agar berhenti merokok? Ya sudah dengarkan saja. Anggap mereka itu bukan benci pada rokoknya, tapi mereka itu merasa peduli denganmu sampai menyuruhmu untuk berhenti merokok. Mau berhenti merokok apa tidak ya urusan kita masing-masing kan, sudah gak perlu ricuh berdebat-debat. Setidaknya hargai orang yang sudah menoba peduli dengan kita. Ini masih tentang merokoklah dengan biasa-biasa saja.

Bila kamu merokok kemudian ada orang yang merasa terganggu atau bahkan sampai menyuruhmu mematikan rokok, ya sudah matikan saja atau kalau tidak mau kita pindah tempat. Cari yang sekiranya tidak ada orang yang akan memprotes karena kamu merokok. Semua orang punya hak masing-masing dan mereka akan merasa terusik oleh beberapa hal tertentu. Mungkin karena mereka yang menegur merasa hak menghirup udara segarnya terganggu sehingga menyuruh kita mematikan rokok. Di sisi lain secara otomatis kita juga akan merasa hak kebebasan untuk merokok kita akan terganggu. Jalan damainya adalah dengan cara salah satu dari kita pindah tempat. Tidak bisa kita saling menyalahkan, tidak ada yang salah dalam hal seperti itu. Baru kalau kita merokok di tempat yang sudah jelas ada larangan tertulisnya itu adalah salah kita, jangan suka ngeyel. So, merokoklah dengan baik dan benar.

Ketika merokok, kita akan membuang yang namanya putung atau abu sisa pembakaran rokok. Lha yang seperti itu juga harus diperhatikan. Sebab kalau tidak maka kita akan menimbulkan kekotoran di mana-mana. Bayangkan saja bila ada banyak putung atau sisa rokok berserakan, kita yang perokok juga akan merasa risih apalagi mereka yang tidak merokok. Setidaknya ada barang atau sesuatu yang bisa kita gunakan untuk wadah putung rokok agar kebersihan juga tetap terjaga. Bersih itu baik dan merokok itu bebas jadi merokoklah dengan tetap menjaga kebersihan agar kau bisa menjadi orang yang bebas sekaligus orang yang baik.

Kalau sudah tidak punya uang untuk beli rokok sebisa mungkin tak perlu meminjam uang pada teman hanya untuk beli rokok. Pinjamlah uang dengan bijak untuk keperluan yang lebih penting. Kalau masih kebelet ingin rokok ya bolehlah minta satu atau dua batang rokok pada teman. Tapi jangan sering-sering, sebab orang akan jengkel juga pada akhirnya. Membuat orang jengkel itu kurang baik buat kesolehan sosial. Agat bisa tetap dikatakan soleh, sesekali kita memberi agar ketika kita meminta juga akan diberi. Toh satu dua batang juga tak seberapa tapi jika terlalu sering, bisa tekor juga tuh orang.

Yang terakhir adalah sebisa mungkin agar tidak mengajari dan mengajak rokok anak di bawah umur. Sebab bila melihat anak kecil sudah merokok meski yang melihat itu juga perokok mereka akan merasa risih atau bahkan bisa jadi marah. Biarkanlah anak-anak merokok pada waktunya, agar mereka tidak jadi kader militan yang bisanya hanya ikut-ikutan saja dan kurang punya idealisme.

Begitulah kira-kira nasehat bagi para perokok dari seorang perokok yang juga perlu untuk dinasehati. Bukan karena asap lantas tidak disukai tapi itu lebih dikarenakan oleh sikap sehingga kita dijauhi. Sekian dan terimakasih.

*) Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura yang sedang domisili di Malang. Sedang menempuh bahtera menuju gelar S1 Psikologi.

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending