718
Luluk Luthfiyah Muzani |

Indahnya Sakinah: Merajut Keluarga Ideal (Bagian Dua)

 

Membangun keluarga yang ditandai dengan pernikahan, mempunyai makna filosofis mendalam. Berkeluarga bukan hanya sekedar membangun karakter individu semata, melainkan membangun peradaban kecil. Rumah tangga adalah potret dari sebuah perwakilan budaya. Setiap prosesi pernikahan pasti melibatkan tradisi dan agama. Orang Jawa akan menggunakan adat Jawa, dan orang Islam akan menggunakan syariat Islam. Tujuannya ialah untuk menjaga peradaban dan kesakralan. Budaya dan agama merupakan dua simbol sakral yang tidak bisa ditentang keberadaannya.

Ketika menikah tanpa kehadiran negara, budaya dan agama maka keluarga yang dibangun tidak akan punya citra positif (khususnya dalam lingkungan masyarakat). Keluarga yang ideal menurut Islam adalah keluarga yang dibangun sejak awal mengikuti standar nilai yang berlaku, bukan benar menurut pribadi.

Sebuah perkawinan yang dilaksanakan berdasarkan azas-azas nilai yang sesuai (negara, budaya, dan agama) adalah bertujuan untuk mendapatkan kehormatan yang sah dari semua pihak. Sah tidak hanya sebatas status suami-istri, melainkan sah secara keturunan pula. Yang pasti, ketika standar ideal kita laksanakan, kita mendapatkan ketenangan, kebahagian di dalam kehidupan berumah tangga kelak.

Kebahagiaan tersebut bukan saja terbatas pada ukuran-ukuran fisik-biologis semata tetapi juga dalam psikologis dan sosial serta agama. Keluarga yang didirikan oleh sepasang suami dan isteri tersebut tentu telah memilih taraf kedewasaan yang baik dengan segala cabang-cabangnya serta telah pula mempunyai dan memenuhi persyaratan-persyaratan pokok lainnya yang tidak dapat diabaikan bila menghendaki suatu perkawinan.

Kondisi ideal yang melekat pada diri suami dan isteri sebenarnya suatu hal yang tidaklah mudah diperoleh. Namun hal itu tidak akan menghalangi berlangsungnya suatu perkawinan yang bahagia bila kedua belah pihak telah menyetujuinya dan berbulat hati untuk bersatu dalam membina sebuah rumah tangga dengan kesiapan mental guna menanggung segala macam resiko yang akan dihadapi dalam perjalanan perkawinan.

Walaupun predikat ideal sukar diperoleh baik oleh masing-masing pribadi yang akan menjadi pasangan dalam perkawinan, alangkah baiknya bila masing-masing pihak selalu memahami dan berusaha mendapatkannya di sepanjang jalur kehidupan bersama yang akan dijalani.

Begitupun secara teoritis, membangun sebuah keluarga yang ideal, keluarga sakinah, tidak mudah seperti membalik telapak tangan, butuh proses dan perjuangan, makanya dalam al-Qur’an surah ar-Rum ayat 21 menggunakan redaksi “Litaskunu Ilaiha” yang artinya bahwa Tuhan menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tentram terhadap yang lain.

Dalam gramatikal bahasa arab, “Litaskunu” pada ayat tersebut di atas, sebenarnya memiliki makna yang bersifat akan datang alias belum terjadi. Ini terlihat dari tata bahasa yang digunakan: agar supaya tentram (litaskunu). Kata “agar supaya tentram” berarti belum terjadi. Karena itu butuh proses dan perjuangan untuk mewujudkannya. Dalam konteks keluarga ideal tidak terjadi mendadak, tetapi memerlukan perjuangan dan pengorbanan serta pilar-pilar kokoh yang mampu membingkai bangunan keluarga dari terpaan badai kehidupan.

Dalam hal ini penulis melakukan kutipan panjang makalah dari Buhadi Den Anom (Kepala KUA Kec. Sumbermalang, Kab. Situbondo) yang berjudul “Lima Pilar Keluarga Sakinah Dalam Bingkai Ibnu Malik” (Senin, 7 Mei 2012, Kemenag Jatim), beliau membuat ulasan yang sangat baik untuk mewujudkan keluarga yang ideal, beliau membuat konsep dengan menyadur beberapa bait kitab Alfiyah Ibnu Malik yaitu: “Kalamuna lafdzun mufidun kastaqim”, “Farfa’ bidhammin wansiban fathan wajur”, “Kasran kadzikrullahi abdahu yasur”.

Jika kita menganalogikan keluarga sakinah (ideal) bagai sebuah bangunan megah, maka dapat dipastikan adanya pilar-pilar kokoh yang mampu menyangga bangunan tersebut menjadi tahan gempa dan tsunami kehidupan. Begitu pula keluarga sakinah, butuh pondasi iman dan taqwa serta lima pilar sebagai instrumennya, diantaranya:

Pertama, “Kalamuna lafdzun mufidun kastaqim” yang artinya bahwa perlu adanya komunikasi dengan menggunakan redaksi yang baik dan patut secara kontinyu. Sebab sejatinya dalam membina rumah tangga pasangan suami istri tidak lepas dari masalah yang selalu menggelinding dalam kehidupannya, oleh karena itu komunikasi memiliki peran penting dalam memecahkan dan menyelesaikan sebuah masalah. Kita melihat dalam potret kehidupan sehari-hari banyak dijumpai pasangan suami istri yang terjebak dalam konflik berkepanjangan, hanya karena sebab yang sepele dan remeh. Mereka tidak mampu mengungkapkan keinginan dan perasaan secara lancar kepada pasangannya, yang berdampak muncul salah paham dan memicu emosi serta kemarahan pasangan.

Ini menunjukkan adanya komunikasi yang tidak lancar alias gagal, sehingga berpotensi merusak suasana hubungan antara suami dengan istri. Sekali lagi, di sinilah pentingnya komunikasi yang aktif antara suami dan istri dalam menjalin hubungan dalam rumah tangga. Agar komunikasi antara suami dan istri bisa efektif, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh kedua belah pihak antara lain:

(1) Mengetahui ragam komunikasi, dari berbicara, menulis, hingga menyampaikan pesan berbagai media. (2) Bersikap empati, memposisikan diri Anda pada situasi perasaan dan pikiran yang sedang dialami pasangan. (3) Fleksibel, komunikasi kadang memerlukan suasana dan gaya serius, namun ada kalanya lebih efektif menggunakan suasana dan gaya santai. (4) Memahami bahasa non verbal, kadang ekspresi wajah dan bahasa tubuh pasangan Anda sudah mengisyaratkan sesuatu pesan.

(5) Jadilah pendengar yang baik, jangan mengusai komunikasi dengan terlalu banyak bicara dan tidak mendengar. (6) Egaliter, hilangkan sekat pembatas antara Anda dengan pasangan yang menghalangi kehangatan komunikasi. (7) Hindarkan kalimat dan gaya yang menyakiti hati pasangan yang menghalangi kehangatan komunikasi. (8) Sampaikan pesan dengan lembut dan bijak, jangan berlaku kasar dalam komunikasi. (9) Gunakan bahasa dan media yang tepat, sesuai dengan situasi dan kondisi saat melakukan komunikasi. (10) Pilih waktu, suasana dan tempat yang tepat untuk mendukung kelancaran berkomunikasi.

Kedua, “Farfa’ bidhammin” yang artinya mari galang kebersamaan, yaitu dalam hubungan rumah tangga diperlukan adanya menjalin kebersamaan dalam keluarga. Kebersamaan dalam hal ini tidak sekedar kehadiran fisik belaka, namun adanya keterlibatan emosi pada seluruh anggotanya. Kebersamaan yang terjalin dengan kualitas yang bagus, tidak akan berpengaruh oleh kuantitas waktunya, dalam arti yang lebih luas kebersamaan dapat diartikan sebagai kekompakan. Karena suami dan istri adalah dua insan yang berbeda karakter, sehingga diperlukan suatu kekompakan dan kebersamaan dalam meraih sebuah keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Ada banyak sarana yang bisa kita manfaatkan untuk membina kebersamaan dalam keluarga antara lain: Bercanda bersama, bermain bersama, belajar bersama, makan bersama dan sebagainya. Dengan demikian kebersamaan dalam keluarga akan memotivasi keterbukaan dalam keluarga.

Ketiga, “Wansiban fathan”, Yaitu adanya transparansi dalam hubungan suami dan istri. Artinya diperlukan manajemen yang transparan dalam suatu rumah tangga, sehingga dapat menyehatkan dan juga dapat memberikan dampak positif dalam menjaga stabilitas rumah tangga terhadap bentuk-bentuk virus penyakit dalam rumah tangga, seperti rasa curiga, perselingkuhan, rasa tidak dihargai dan tidak bisa berbagi.

Keempat, “Wajur kasran”, yang artinya hindari perpecahan. Maksudnya pasangan suami istri harus mampu mengelolah konflik keluarga. Karena keluarga sakinah bukan berarti keluarga tanpa masalah, tapi lebih kepada adanya keterampilan untuk mengelolah konflik yang terjadi didalamnya. Secara garis besar, ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yaitu mencegah terjadinya konflik, mengelolah konflik bila terlanjur berlangsung, dan membangun kembali perdamaian setelah konflik redah.

Kelima, “Kadzikrullahi abdahu yasur”, yaitu dengan berdzikir kepada Allah, maka seorang hamba akan jadi bahagia. Pada pilar pamungkas ini yaitu berdoa kepada Allah, dengan memohon pertolongan-Nya agar keluarga yang kita bangun menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah (ideal). Karena doa adalah otak dan sarinya ibadah, yang mengandung arti mengakui atas kelemahan diri dan meyakinkan atas kekuatan dan kekuasaan Allah SWT. Sebab hanya dengan ridha Allah semuanya bisa terwujud, termasuk membangun keluarga sakinah (ideal).

Dari diskripsi ini dapat kita tarik benang merahnya, bahwa untuk menggapai keluarga sakinah (ideal) dibutuhkan pilar-pilar yang kokoh yaitu: adanya komunikasi yang baik, menjalin kebersamaan, transparansi, hindari perpecahan, dan banyak berdoa. Insyaallah dengan yakin, melalui lima pilar ini kita dapat menggapai bahtera keluarga bahagia, yang berlabu didermaga keluarga sakinah mawaddah warahmah.

*) Luluk Luthfiyah Muzani, Ibu Rumah Tangga

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending