3075
Muhammad Khoiruzzad Harits |

Kebebasan Beragama Menurut Islam

 

Oleh Muhammad Khoiruzzad Harits

Sesungguhnya kebebasan beragama dalam islam sudah dijelaskan dalam al-Qur’an. Dalam QS. al-Baqarah ayat 256:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[1] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Di sini, Islam melarang secara tegas bentuk-bentuk pemaksaan untuk menganut suatu agama tertentu. Kebebasan manusia dalam memilih agama dan keimanan merupakan prinsip paling fundamental dalam ajaran akidah Islam. Dengan demikian, penegasan al-Qur’an tentang kebebasan dalam memilih agama merupakan hal yang tidak dapat ditawar. Dalam QS. al-Kahfi ayat 29 juga dijelaskan:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

“Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”

Jaminan Islam terhadap kebebasan beragama sebenarnya muncul dari pengakuan Islam terhadap kemajemukan atau pluralitas keagamaan. Pengakuan ini terbaca, misalnya, melalui pernyataan al-Qur’an dalam QS. al-Maidah ayat 48:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

Dalam ayat tersebut sekiranya Allah menghendaki bisa saja manusia dijadikan satu umat tanpa ada perbedaan, akan tetapi Allah menjadikan manusia dengan beraneka ragam entah itu agama, suku, ras dan bahasa. Dari ayat tersebut kita dapat melihat bahwa Allah menghendaki perbedaan, karena perbedaan adalah keniscayaan.

Dalam praktiknya, jaminan ini telah ditegaskan oleh Rasullulah Saw dalam Konstitusi Madinah. Dalam konstitusi tersebut, dijelaskan antara lain pengakuan eksisitensi kaum Yahudi sebagai bagian dari kesatuan komunitas umat bersama kaum Muslim di Madinah.

Begitu pun dengan Khalifah ke-2, Umar bin Khatab memberikan jaminan keamanan bagi penduduk Baitul Maqdis yang beragama Kristen. “Bagi mereka jaminan atas keamanan atas kehidupan, gereja-gereja dan salib-salib mereka. Mereka tidak boleh diganggu dan ditekan karena alasan agama dan keyakinan yang mereka anut,” demikian kebijakan dan jaminan Umar bin Khatab bagi uman non-Muslim.

Lebih dari itu, Islam juga sangat terbuka bagi munculnya dialog-dialog cedas dan positif antar umat beragama. Ia sangat menghargai dialog-dialog yang dilandasi oleh prinsip objektivitas dan tidak bertujuan untuk saling memojokan atau mendiskreditkan. Dalam hal ini al-Qur’an menyatakan dalam surat an-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[2] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Sejatinya, dialog antar agama memang harus berlandaskan pada pinsip yang toleran (samhah) seperti anjuran ayat al-Qur’an di atas. Demikian memang ajakan dan perintah al-Qur’an kepada kaum Muslim dalam melakukan dialog dengan para kaum Ahlul Kitab, sebagaimana firman Allah swt:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Ayat di atas, menginformasikan kepada kita apabila suatu diaolog antar umat beragama tidak mencapai titik temu yang diharapkan, maka setiap penganut agama harus kembali kepada ajaran agama masing-masing. Inilah sebenanya makna dari ayat surat al-Kafirun ketika Allah SWT berfirman kepada kaum musyrik melalui lisan Nabi Muhammad Saw., “Untukku agamamu, dan untukkulah agamaku.”

Keimanan dan keyakinan dalam beragama didasari oleh penerimaan yang sadar, tulus, dan tanpa paksaan. Keimanan dan keyakinan tidak akan muncul jika landasannya adalah fanatisme buta atau karena keterpaksaan. Dengan kata lain masalah keimanan adalah urusan komitmen individual, karenannya tak seorangpun dapat mencampuri dan memaksa urusan komitmen ini. Iman, sebagaimana ditekankan dalam teks dasar Islam dengan kata-kata yang jelas dan tidak dapat diragukan, merupakan tindakan sukarela yang lahir dari keyakinan, ketulusan, dan kebebasan.

Oleh karenanya, setiap individu sebenarnya memiliki kebebasan dalam memilih keyakinan dan keimanan, sebagaimana ia juga mempunyai kebebasan untuk menganut suatu paham atau aliran pemikiran tertentu. Tak seorangpun dapat melarang seseorang untuk tidak menganut aliran pemikiran tertentu, bahkan pemikiran yang ateis sekalipun.

Ia bebas meyakininya selama menjadi komitmen pribadinya dan tidak mengganggu kebebasan orang lain. Tetapi bila ia berusaha memprovokasi dan menyebarkan pemikiran ateistik yang jelas-jelas bertentangan dengan keyakinan dan nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat yang religius, tentu persoalannya menjadi lain. Sebab pada saat itu, ia telah melakukan pelanggaran terhadap ketentraman dan kepentingan publik akibat agitasi dan peraguan yang dilakukan. Seperti yang kita ketahui, setiap pelanggaran terhadap keamanan dan stabilitas umum di negara dan komunitas manapun tentu akan berhadapan dengan sanksi hukum tertentu.[3]

Pada titik ini, harus dipahami, bahwa dalam syari’at Islam hukuman mati bagi orang yang murtad sebenarnya dilakukan bukan semata-mata karena pilihan bebas seseorang untuk keluar dari Islam (murtad), melainkan karena fitnah dan agitasi yang dilakukannya dianggap telah mengganggu ketentraman dan stabilitas umum dalam sebuah Islam.

Dengan demikian, jika seseorang memutuskan keluar dari Islam (murtad) dan keputusannya itu hanya menjadi komitmen dan keyainan pribadinya, sementara dia tidak berupaya melakukan agitasi dan provokosi kepada publik, tentu ia bebas untuk memilih dan menganut keyakinannya itu tanpa harus khawatir mendapatkan sanksi hukum dari negara.

Oleh karenanya, beberapa cendekiawan muslim modern kontemporer menyatakan bahwa sanksi hukum bagi seseorang yang murtad (sebagai komitmen dan keyakinan pribadi), bukanlah di dunia ini, melainkan di akhirat kelak.

Endnote

[1] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah SWT

[2] Hikmah ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

[3] Mahmoud Hamdi Zaqzouq, Islam Dihujat Islam Menjawab, (Jakarta, Lenter Hati, 2008), hal.174

 

*) Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nurussa’adah, Susukan, Cirebon, Jawa Barat

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending