392
Muhammad Luthfi Harits |

Pancasila Terkini

Gambar: kaltim.tribunnews.com

Oleh Muhammad Luthfi Harits

Tidak bisa membayangkan Indonesia tanpa pancasila. Adanya pancasila saja, belum menjamin kerukunan. Pancasila seringkali menjadi objek tertuduh. Pancasila dianggap mitos, kesaktian pancasila dislewengakan menjadi kesakitan pancasila, dan pancasila digugat sebagai filosofi tak punya fungsi.

Harus dipahami, pancasila menempatkan manusia sebagai sentral penggeraknya, ia menjadi falsafah yang harus diamini nilai-nilainya. Pancasila merupakan bingkisan terindah untuk Indonesia, pancasila menebarkan simpatik terhadap nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kebijaksanaan, dan keadilan. Ada continum tak terputus antara pancasila dengan penerjemahan manusia dalam realitas tindakannya.

Melemahnya pancasila didasari atas perilaku manusianya yang menyimpang. Ini kabar buruk buat kita, awal dari disintegrasi ialah degradasi nilai, kemudian menjalar pada degradasi hukum, di mana manusia acuh terhadap aturan yang berlaku.

Dari situ, harmonisasi, kesatuan, dan keutuhan tidak luput dari ancaman. Telah kita pahami, kondisi Indonesia sedang mengalami percaturan serba ide dan ideologi; politik, budaya, agama, sosial, dan identitas. Pertemuan berbagai kepentingan, menghasilkan output kurang sehat. Kita menjadi bangsa “pesakitan”; invidualisme, hilangnya toleransi, dan suka korupsi.

Nasionalisme kita pun wajib dipertanyakan, isu goreng-menggoreng beberapa hari ini terdengar santer, tentang keributan persekusi di CFD, demonstrasi, kekalahan HTI, saling lapor antar penista, dan berdalih—mengatasnamakan diri sebagai pembawa nasionalisme. Masalahnya, mereka selalu menuntut tumbal dari yang tersalahkan. Nasionalisme macam apa ini?

Akar Konflik dan Kesadaran

Semakin loyonya pemahaman masyarakat Indonesia tentang pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dikhawatirkan pancasila hanya tinggal nama dan ia tergeletak sebagai simbol semata. Yang perlu dipahami, seperti penghayatan terhadap nilai-nilai pancasila—tidak bisa dipaksakan semua orang sama dalam memahami pancasila, kenapa? corak beragam di bangsa kita ini, pasti melahirkan pemikiran, penerjemahan dan penghayatan berbeda antar setiap etnik, tinggal bagaimana kita memahami itu sebagai khazanah kebiasaan.

Fenomena tersebut yang sebenarnya rentan konflik, apalagi kadang nada-nada pejoratif didengungkan. Sehingga, kita sering “gagal paham”. Semuanya kita anggap musuh, berbeda agama, berbeda kelompok, berbeda daerah, berbeda kebiasaan—harus dijatuhkan.

Pada era medsos sekarang, alam Indonesia nampak semrawut, ujaran kebencian (hate speech), fitnah, dan menjatuhkan satu sama lain menjadi pemandangan umum. Tidak pandang bulu, Presiden pun menjadi korban olok-olokan. Karena siapa saja bebas menilai dan berbicara tanpa kontrol.

Didukung lagi, demokrasi Indonesia sudah menjadi mediakrasi. Maksudnya, bandar-bandar politik bermain dilahan becek bernama “media” sebagai cara membangun citra, menggiring opini, dan menutupi cacat nasionalismenya.

Panjang kalau kita harus mengorek-ngorek kelemahan-kelemahan Indonesia. Tidak bijak, mari kita cari bersama-sama solusinya, walaupun ujungnya kita sama-sama sudah menebak, “hanya sebagai oral bibir saja”. Tapi setidaknya ada ide yang bisa dipertimbangkan atau mungkin suatu saat akan berfungsi.

Pancasila sebagai ideologi, tidaklah kaku, dan tidak pula normatif. Ia ideologi yang lentur—bisa dimanfaatkan dalam berbegai medan; agama, politik, sosial, budaya, pemikiran, kawinan, sunatan, dan sebagainya. Pancasila bisa merasuk di mana saja, tanpa bertentangan dengan siapapun. Pancasila terbuka dan otentik. Pancasila terlahir bersamaan dengan kebutuhan Indonesia dalam bergaul dengan masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, pancasila harus dimaknai sebagai kesalehan kultural, khususnya dalam memahami corak multikulturalisme Indonesia. Nilai-nilai kebersamaan dari pancasila harus dijadikan sebagai pijakan kita sebagai manusia berbudaya. Selain itu, pancasila adalah kesalehan spiritual. Faktanya agama dimana-mana berbeda dan tidak mungkin sama. Kita butuh pemahaman lebih, pancasila bisa dijadikan sebagai softwere dalam merajut kerukunan.

Dalam hal ini, kita bisa mengingat bagaimana para pahlwan dalam memperjuangkan bangsa Indonesia dari dominasi penjajah, bagaimana pancasila merubah dirinya sebagai falsafah semua Indonesia. Pancasila merupakan identitas dari berbagai macam perbededaan.

Paham pancasila dalam membangun kesadaran bangsa harus terus digalangkan. Ini penting, wajah Indonesia berdiri atas pijakan kenusantaraan, tidak hanya satu budaya, satu agama melainkan berbagai macam warna. Pembangunan kesadaran itu bisa ditandai dengan beberepa poin;

Pertama, ketika manusia Indonesia beribadah nyaman sesuai dengan agamanya, Kedua, ketika kemanusiaan paham akan kebudayaan yang berperadaban, ketiga, ketika persatuan lahir atas dasar perbedaaan, keempat, ketika kebijaksanaan menjadi nyata dalam penerjemahan realitasnya, dan kelima, ketika keadilan merata sesuai porsinya.

Masihkah menginginkan Indonesia tanpa pancasila? Masihkah menggugat relevansi pancasila? Masihkah berbicara kesakitan pancasila?

*) Penulis adalah pembaca yang konsumtif

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending