351
Redaksi |

Bahasa untuk Manusia – Bahasa untuk Tuhan

Gambar: http://media.viva.co.id

Oleh Danarto*

Di depan TV, Kiai Mustofa Bisri dalam acara hikmah fajar mengatakan, “Sang Kekasih telah menunggu kita untuk mendengar ungkapan hati kita.” Inilah kalimat pertama, seingat saya, seorang kiai menyebut Allah, Tuhan Yang Maha Kepujian, sebagai Kekasih, di depan penonton yang rasanya jutaan jumlahnya. Bahasa yang digunakan Gus Mus, begitu panggilan akrab beliau, adalah Bahasa para sufi.

Dulu pernah mau dibedakan antara Bahasa untuk manusia dan Bahasa untuk Tuhan. Di tahun 1960-an, D.A. Peransi (semoga Allah mengaruniainya kenyamanan di akhirat), seorang sineas, pelukis, dan sastrawan, berusaha membedakan antara Bahasa untuk manusia dan Bahasa untuk Tuhan.

Ia pernah mengusulkan, misalnya, kata mencipta hendaknya hanya digunakan untuk Tuhan. Sedangkan untuk manusia, cukup dengan kata membuat. Dalam kalimat bisa berbunyi, Tuhan mencipta alam semesta, sedangkan manusia membuat kursi. Imbauan Peransi pada waktu itu tidak mendapat sambutan, mungkin karena di “zaman revolusi belum selesai” itu, Bung Karno, Presiden Republik Indonesia, selalu diungkapkan sebagai Paduka yang Mulia, Pemimpin Besar Revolusi.

Di zaman Pak Harto, presiden kedua, tak terdengar ajakan mengenai kesopanan Bahasa itu, sekalipun dari Pusat Bahasa, misalnya. Mungkin juga bagi Pusat Bahasa yang berkantor di Rawamangun, Jakarta, itu pembedaan penggunaan bahasa ini tak prinsip benar. Okelah. Tapi juga soalnya di Zaman Orba itu, bahasa begitu mendayu-dayu, begitu kental feodal, sangat berkecenderungan untuk kembali ke Zaman Orla yang selalu gegap-gempita oleh semangat revolusioner, meskipun sebenarnya tak kalah feodalnya.

Meskipun di Zaman Orba banyak digunakan bahasa eufemisme, Tuhan tidak termasuk di dalamnya. Bahkan Tuhan sudah dilupakan, meskipun ratusan masjid didirkan. Dalam sengkarut berita yang diberikan oleh pemerintah Orba, fakta “harga sembako naik”, tapi para wartawan harus menuliskannya dengan “harga sembako disesuaikan”.

Pernah Pak Domo, Menko Polkam dalam pemerintah Orba, ngudarasa (ngedumel), “Semalam berbicara dengan Tuhan,” yang disambut Arif Budiman dengan, “Sic!” Rupanya, dalam kebutuhan duniawi, bahasa yang digunakan harus sehalus mungkin, supaya rakyat (lebih-lebih rakyat miskin) tidak terkaget-kaget sehingga hidupnya penuh kecemasan. Sedangkan untuk Tuhan, cukuplah bahasa “sok akrab” untuk meneladani para sufi, atau jangan-jangan anjuran Peransi itu terlalu susah untuk dilaksanakan.

Perlukah kita membuat bahasa baru khusus untuk Tuhan? (Waduuh, kali ini Pusat Bahasa punya PR penting dengan mengumpulkan Goenawan Mohamad, Rendra, Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Putu Wijaya, Emha, Kurnia JR, Gus Mus, Quraish Shihab, dan banyak lagi).

Dalam bahasa Inggris, para sastrawan dan ahli bahasa Kristiani sudah mengusahakan bahasa untuk manusia dibedakan dengan bahasa untuk Tuhan. Dalam zikir Francis of Assisi (semoga Allah mengaruniainya kenyamanan di akhirat), seorang mistikus Kristiani, menyatakan “Engkau (Tuhan) adalah aku” menjadi “Thou Art I” yang merupakan bahasa “kromo”. Sedangkan Al-Hallaj (semoga Allah mengaruniainya kenyamanan di akhirat), seorang sufi yang menjalani hukuman mati, mengungkapkan pandangan hidupnya dengan “Ana al-Haqq”, yang menurut Gus Mus itu bahasa Fusha (“kromo”) yang artinya “Akulah Sang Kebenaran”.

Dalam bahasa Jawa, yang seperti diketahui memiliki tiga jenjang kebahasaan (koromo inggil, kromo madya, dan ngoko), para ahli bahasa Jawa juga membedakan bahasa manusia dengan bahasa Tuhan. Misalnya, kalimat “Tuhan yang cemburu” dalam bahasa Jawa kromo inggil menjadi “Gusti Allah ingkang butajengan”.

Dalam Zaman Reformasi yang baru dimulai tahun 1998, diam-diam kita, Orde Reformasi, (telah) kembali ke Zaman Orba yang feodalistis. Hal ini terutama diteladani oleh para elite politik. Sudah jamak, misalnya, para Menteri, katakanlah Ibu Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan kita, mengedarkan surat untuk staf dan karyawannya dengan catatan, “Mohon berkenan menandatangani,” tentu termasuk ditujukan kepada tukang ngepel kamar kerjanya. Lho, apanya yang salah, begitu mungkin seru Ibu Ani. Memang Ibu tidak salah. Hanya saja terdengar terlalu mendayu-dayu. Lho, apa saya nggak boleh menghormati tukang ngepel kamar kerja saya, seru Ibu Ani lagi. Benar, Ibu begitu luhur, menghormati tukang ngepel, tapi tidak usah dengan kalimat yang sebenarnya justru membanting ke lantai orang kecil itu.

Dari sini terasa kata “mohon” dan “berkenan” lebih pas (?) untuk Tuhan, sedangkan untuk kita, manusia, cukup kata “harap” dan “bersedia”. Sehingga kalimat itu menjadi “Harap bersedia menandatangani” (peristiwa di atas cuma fiktif, harap Ibu Ani maklum dan tidak marah serta penulis minta maaf).

Ketika Gus Mus menyebut Tuhan sebagai Kekasih, terasa kedekatan Gus Mus kepada Tuhan, sebagaimana para sufi zaman dulu. Atau sikap Gus Mus mungkin sebuah perlambang, betapa manusia seharusnya dekat kepada Tuhan. Jangan-jangan Tuhan Sendiri jutru menginginkan bahasa sehari-hari untuk beribadah kepada-Nya. Ini kentara ketika Tuhan memarahi Nabi Musa yang ketika itu memarahi seorang papa yang berharap belas kasih Allah dengan menggunakan bahasa yang menurut Musa kasar. Dihardik begitu, si Papa lari karena malu. Tegur Tuhan kepada Musa, “Tugasmu adalah mendekatkan umat kepada-Ku. Bukan menjauhkannya.”

___________________________

*Danarto (lahir di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940; umur 77 tahun) adalah penulis dan sastrawan Indonesia. Karyanya yang terkenal di antaranya adalah kumpulan cerpen, Godlob. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma’rifat, memenangkan Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982. Tahun 2009 Danarto menerima Ahmad Bakrie Award untuk bidang kesusasteraan. (Wikipedia.org)

*) Tulisan di atas terdapat pada buku, “Bahasa! Kumpulan Tulisan di Majalah Tempo”, Editor: Bambang Bujono dan Leila S. Chudori, (Tempo: Jakarta, 2008), hlm. 253-256

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending