352
Redaksi |

Bukan Ini Bukan Itu

 

Oleh Mahbub Junaidi

Sosialisme ala Indonesia, kata Bung Karno, bukanlah seperti Uni Soviet atau RRC atau Yugoslavia atau Mesir, pokoknya bukan seperti siap-siapa. Kalau masalahnya sekadar bukan ini bukan itu, jangan-jangan bukan sosialisme sama sekali, tukas Njoto yang PKI.

Itu tentang sosialisme, sekarang tentang Pancasila. Negara berdasar Pancasila bukan negara agama, tapi juga bukan negara sekuler, kata Prof. Dr. N. Drijarkara tahun 1959. Bagaimana memahaminya? Bukan sekuler, karena negara mengakui dan memberi tempat buat religi. Bukan negara agama, karena tidak mendasarkan diri atas suatu agama tertentu.

Demokrasi ekonomi adalah yang bukan free fight liberalisme, tapi bukan pulaetatism, dan bukan pula monopoli merugikan masyarakat, kata GBHN. Baiklah, tapi yang bagaimana? yang sosialistis, religius, petunjuk presiden Soeharto tatkala Dies Natalis UI ke-25. Begitu halnya Demokrasi Pancasila, bukannya liberal, bukannya terpimpin, dan bukan pula diktatur, yang dalam hal menyelesaikan masalah nasional lewat musyarawah mencapai mufakat.

Baku hantam agama tidak betul. Yang betul kerukunan hidup antar agama. Tapi, bukannya sinkretisme, kata menteri agama Mukti Ali. Sebab, sinkretisme mau coba-coba campur aduk segala rupa agama menjadi satu. Karena menganggap semua agama itu satu punya latar belakang sejarahnya sendiri-sendiri. Terikat hukumnya sendiri-sendiri. Jalan sintesa? Itu kan cuma kerja comot sana comot sini. Apa guna!

Belakangan timbul “bukan” yang lain. Modernisasi bukan westernisasi ujar Prof. Dr. Kuntjaraningat. ”Bukan” ini perlu diberitahukan karena banyak orang yang tidak tahu. Dikira pakai topi malam-malam sudah tergolong modernisasi. Atau angkat kaki di pinggir meja. Atau minum bir. Atau tidak lagi mandi tiga hari tiga malam. Atau kalau bicara yas yes yos. Atau kentut di depan umum.

Padahal, modernisasi masalah mengubah mental, usaha sadar menyelamatkan diri dengan keadaan sekarang, supaya jangan sampai orang jalan ke depan, kita jalan miring. Meminjam konsep C. Kluckhohn, tanda-tanda orang modern ada lima : punya sikap positif terhadap hidup, punya orientasi karya yang tinggi, punya orientasi ke depan, punya hasrat menguasai alam, dan individualistis.

Kalau resep yang banyakan juga ada, ambil punya Alex Inkeles, modernisator edisi Harvard, 9 macam tanda: punya sikap terbuka terhadap perubahan; punya opini terhadap masalah yang timbul di sekitarnya; orientasi ke masa depan; hidup berjalan lewat rencana dan organisasi; dunia ini bisa diperhitungkan bukan pasrah nasib-nasiban; menghargai nilai diri dan orang lain; yakin akan faedah ilmu dan teknologi; percaya pada tiap hasil yang diperoleh semata-mata berkata jasa yang diberikan, bukan sebab-sebab lain, distributive-justive.

Bukan semua mesti ditelan. Nilai agama dan keluarga tak usah digeser-geser. Tapi nilai orientasi karya, disiplin murni. Orientasi ke masa depan, hemat, mengelola alam, menilai tinggi inisiatif individu. Harus dikembangkan. Bagaimana akan hal gotong royong? Kalau itu berarti ide bahwa orang hidup di dunia ini cuma unsur kecil belaka yang ikut beredar dalam kosmos besar, okey. Tapi kalau maksudnya menghayo-hayo rakyat seraya memberi upah murah, tidak. Apalai sambil menendang pantatnya, sekali-kali tidak.

Ini suara antropolog Indonesia. Astrolog sih orang banyak tahu, tapi Antropolog? Bisa dimaklum, tulis Clyde Kluckhom (Mirror of Man, 1961) yang konsepnya diikuti Koentjaraningat. Dianggap sekadar tukang ukur tengkorak, pengumpul pot tembikar yang tukang loak pun tak sudi menyentuh, penggali kuburan yang menggelikan, gemar berkencan dengan tukang penggal kepala, tak henti-hentinya cari missing link sampai kaki semutan, merenung-renung apa sebab orang China tak doyan susu, selidik sampai mata lamur di Amerika jadi Amerika. Pendek kata, antropolog itu dianggap satu-satunya makhluk yang sampai hati memandang tempayan Indian sama kreasi budayanya dengan sonata Bethoven.

Padahal, urusan antropolog tidak seganjil itu benar. Dia mencoba meletakkan dasar ilmiah buat masalah dunia yang pelik, apa sebab manusia yang berbeda-beda usul, tingkat pengetahuan dan cara hidup, bisa akur bergaul tidak cekcok, tidak saling cekik dan tikam sesamanya. Buktinya, Prof. Dr. Kuntjaraningrat telah menyuguhkan problem, lepas dari soal setuju atau tidak setuju, yang tidak kalah penting dengan APBN. Dan buktinya, pengarang The Proper Study of Mankind, Stuart Chase, berkomentar tentang karya Clyde Kluckhon : Coba kalau negarawan dunia merenungkan betul-betul apakah yang tersurat dalam Mirror of Man, niscaya semua orang bisa tidur nyenyaklah.

_________________________

Mahbub Junaidi lahir pada 27 Juli 1933 di Jakarta. Ayahnya, H Djunaidi adalah seorang seorang tokoh NU dan anggota DPR pemilu 1955. Ia merupakan anak pertama dari 13 saudara kandungnya. Mahbub Djunaidi lahir di Jakarta, tetapi harus pindah ke Solo karena kondisi di Jakarta yang sedang bergejolak. Selama di Solo, ia bersekolah di Madrasah Mambaul Ulum. Pada saat itulah, ia mulai mengenal beragam karya sastra mulai dari Mark Twain, Sutan Takdir Alisyahbana dan lain-lain. Ia terkenal sebagai tokoh wartawan dan sastra. Selain itu, ia merupakan aktivis PMII dan pernah menjadi ketua PB PMII. Karya-karyanya banyak terebar di media masa. (Wikipedia.org)

*) tulisan di atas diambil dari buku, Yudistira Kumba Karna dan Bung Hatta, Editor: Kholid O. Santosa, (Sega Arsy: Bandung, April 2016), hlm. 57-60

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending