303
Redaksi |

Islamisasi Jawaisme

Sumber gambar yogyakarta.kemenag.go.id

Oleh Kuntowijoyo

Seminar yang diselenggarakan oleh Yayasan kebudayaan Islam Indonesia bekerja sama dengan IAIN Sunan Kalijaga pada 25 Maret 1998 di Yogyakarta bukan kejadian sehari-hari, tetapi sebuah peristiwa kebudayaan. Betapa tidak! Ketua Yayasan itu adalah GBPH Joyokusumo, sambutan seminar disampaiakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan tempatnya adalah Yogyakarata-salah satu pusat kebudayaan Jawa. Barangkali nama-nama orang kraton tak banyak berarti bagi orang yang tak memahami sejarah kebudayaan Islam di Jawa. Kraton adalah simbol sinkretisme Jawa, sedangkan gerakan kebudayaan Islam masa kini menghendaki ortodoksi. Sinkretisme yang bertemu dengan ortodoksi itu kiranya memerlukan penjelasan.

Seminar itu sendiri membicarakan hasil penelitian Sastra Islam jawa, naskah-naskah berbahasa Jawa yang tersimpan dalam kraton Yogyakarta. Naskah-naskah itu ialah Babad Demak, Kitab Ambiya Jawi, Mingsiling, Kitab Kadis Syaikh Abdul Kadir Jaelani, dan Taj Al-Salathin. Naskah-naskah tersebut berasal dari awal abad ke-19 -kebanyakan dari masa sesudah masa Perang Diponegoro-ketika secara politis Kerajaan Yogyakarta berda di bawah bayang-bayang kekuasaan Belanda. Dikerjakan oleh tenaga-tenaga pengajar Fakultas Sastra UGM dan IAIN Sunan Kalijaga.

Jawaisme

Berikut ini adalah lima buah ajaran Jawaisme di sekitar tema yang diseminarkan. Masing-masing tentang ketuhanan, penciptaan, sumber pengetahuan, mitos tentang kekeramatan dan kekuasaan. Dengan mengenal sistem pengetahuan Jawaisme orang akan mengetahui sistem kepercayaan dengan Islam ortodoks masa kini.

Berbeda dengan islam ortodoks yang diwakili oleh pesantren, Jawaisme yang diwakili oleh kraton menunjukkan sinkretisme antara konsep-konsep pra-Hindu, Hinduisme-Buddhisme, dan sufisme Islam. Koentjaraningrat (Kebudayaan Jawa, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984) menyebut Kejawen untuk kebudayaannya, Agama Jawi untuk sistem keyakinannya, dan dalam trikotomi Clifford Geertz (The Religion of Java, Chicago: The University of Chicago Press, [1959] 1976), Jawaisme pastilah termasuk dalam varian priyayi dan abangan. (Dalam tulisan ini Kejawen dan Agama Jawi  akan disamakan saja dan disebut Jawaisme).

Pengetahuan tentang ketuhanan diambil dari buku klasik yang ditulis pada abad ke-16 sampai pada abad ke-19,seperti buku-buku Serat Darmogandhul, Gatholoco, Suluk, Serat Chentini, dan Primbon. Konsep ketuhanan itu sering digambarkan sebagai manungaling kawula Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhan). Menurut PJ Zoetmulder dalam Sastra Suluk Jawa (Jakarta: PT Gramedia, 1990 h. 3), pandangan ketuhanan ini punya dua pengertian, yaitu panteisme dan monisme.

Panteisme berarti “dunia terlebur dalam Tuhan” dengan salah satu cara dunia merupakan bagian dari hakikat-Nya, sedangkan monisme berarti “Tuhan terlebur di dalam dunia, dunia merupakan “Ada” yang tunggal dan mutlak”. Asal-usul dari aliran kepercayaan tentang Tuhan dalam jawaisme itu.

Mengenai penciptaan alam semesta dan manusia tampak adanya campuran antara sistem pengetahuan Hindu dan Islam. Koentjaraningrat menyebut-yebut adanya mitos yang terpengaruh oleh konsep Hinduisme, yaitu Dewa Brahma sebagai pencipta Bumi, dan Wisnu sebagai pencipta manusia. Penciptaan manusia yang gagal kemudian menjadi makhluk halus pengganggu alam semesta.

Ada konsep tentang jiwa (suksma) dan napas (prana, energi). Suksma  yang menghilang dalam kegelapan menjadi hantu-hantu penggangu. Manusia pertama yang berhasil diciptakan Wisnu bernama Adam-ini pengaruh islam. Unsur Islam tentang penciptaan alam semesta sangat tampak dalam Serat Ambiya-yang akan dituturkan di bawah.

Mengenai penciptaan manusia Serat Gatholo dan Serat Darmogandul menunujukkan gejala mistik yang sangat radikal dengan mengibaratkan asal-usul kehidupan sama dengan coitus antara laki-laki dan wanita.

Mengenai sumber pengetahuan orang awam dan para cendekiawan (cendekiawan tradisional, ahli filsafat Jawa) Jawaisme, survei Koentjaraningrat pada 1971 di Yogyakarta menunjukkan bahwa perhatian terhadap al-Quran dan kesusastraan suci Islam lain hampir-hampir tidak ada (0 sampai satu persen). Meskipun ,para penganut Jawaisme mengakui Tuhan adalah penguasa (Gusti Allah Ingkang Maha Kuwaos), Nabi Muhammad Saw. Sebagai utusan-Nya, dan Al-Quran sebagai sumber pengetahuan. Mereka cenderung membaca buku-buku klasik (Jawa) mengenai moral, keagamaan mistik, dan ilmu gaib. Mereka malah membaca buku filsafat Yunani, buku zaman Pencerahan, dan sebagian kecil membaca filsafat modern.

Jawaisme percaya pada mitos-mitos kekeramatan (dewa-dewa, jim, dan danyang). Keyakinan adanya dewa-dewa, misalnya sekarang ditunjukkan dengan acara ruwatan. Dalam ruwatan orang-orang kotor (wong sukerta), seperti anak tunggal (ontang-anting), anak lima laki-laki semua (pendhawa), anak dua terdiri dari satu laki-laki satu perempuan (gedhana-gedhini), dan sebagainya, akan dimakan Batara Kala.

Jawaisme percaya kepada jim (jin). Dalam buku kidungan (Solo: Sadu Budi, 1963) dimuat nama-nama jim atau dhemit di sekitar Kraton Solo. Jawaisme juga percaya pada orang-orang keramat, baik yang sudah mati maupun yang masih hidup. Walisanga menempati puncak dari kekeramatan manusia itu, di antaranya  Sunan Kalijaga yang sering disebut. Orang tidak tahu persis kapan para wali hidup, sehingga misalnya Senapati (memerintah 1584-1601), pendiri Mataram pun diceritakan oleh Babad Tanah Jawi sebagai muridnya, padahal menuru perhitungan rasional Sang Sunan sudah meninggal.

Selanjutnya ada kepercayaan tentang danyang-danyang desa, danyang batu besar, danyang pohon besar, danyang gunung, danyang kuburan dan sebagainya. Pada akhir 1994 ketika Gunung Merapi mengganas, orang percaya bahwa danyang penunggu gunung itu sedang marah. Demikian pula Jawaisme sangat menghormati orang keramat yang masih hidup, seperti kiai, guru, dan dukun. Orang-orang itu dianggap tahu sebelum kejadian (weruh sakdurunge winarah), bertuah (malati), dan apa yang diperbuatnya buakn kemauan sendiri tetapi perbuatan berdasar bisikan gaib (wangsit).

Mengenai kekuasaan, Jawaisme banyak belajar dari wayang dan serat—wayang Wahyu Makuta Rama dan Serat Sruti Jarwa. Ketika Rama meninggalkan Ayodya dan menyerahkan kerajaan pada adiknya, Barat, dia menasehati adiknya tentang ilmu memerintah. Juga ketika Rama menyerahkan kekuasaan Alengka Diraja kepada Wibisosno, dia menguraikan tentang ilmu memerintah.

Nasihat Rama itulah disebut asthabrata (delapan jalan), yaitu agar supaya para raja meniru kebajikan delapan dewa yang masing-masing punya keistimewaan. Indra memelihara kehidupan, Yama menghukum dan memberi keadilan, Surya pengasih dan pembawa kerukunan, Candra penerang semua makhluk, Bayu mengetahui kehendak semua orang, cakra membuat kesejahteraan negara dan mengenakkan hati semua orang, Baruna penuh ketetapan hati dalam menjalankan tugas, dan Brama berani membela kebenaran meskipun sampai perang.

Seminar

Seminar itu telah meyakinkan dua hal. Pertama, bahwa Jawaisme tidak statis, harga mati, sesuatu yang sudah selesai, tetapi merupakan proses berkelanjutan yang mungkin berubah. Kedua, sumber pengetahuan Jawaisme tidak harus pada konsep-konsep pra-Hindu dan Hinduisme-Buddhisme, tetapi dapat saja datang dari Islam.

Pertama, Babad Demak di antaranya berbicara masalah ketuhanan. Selain kisah-kisah semihistoris mengenai para wali dan raja (yang mengesahkan kekuasaan raja-raja Mataram), dalam babad ini diceritakan pula pertentangan antara ortodoksi dengan heterodoksi, atau antara syariah dengan sufisme aliran wahdatul wujud  oleh  Syaikh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Kebokanigoro, dan Ki Lontang. Paham wahdatul wujud itu sama dengan paham manunggaling kawula Gusti—yang banyak terdapat dalam suluk.

Kedua, Kitab Ambiya Jawi mengandung uraian tentang penciptaan. Ketika berbicara tentang penciptaan Kitab Ambiya Jawi (ambiya, artinya nabi-nabi) sampai pada teori emanasi (pemancaran) di mana Tuhan mula-mula memancarkan zat-Nya atau Nur-Nya (Cahaya-Nya) lalu jadilah alam semesta. Nur itu disebut Nur Muhammad; jadi dari Nur Muhammad-lah muncul alam semesta dan seisinya. Adapun Adam diciptakan dari bumi (tanah), yang berarti dari Nur Muhammad itu. Di sinilah letak panteisme Kitab Ambiya Jawi.

Membicarakan tentang konsep ketuhanan dan penciptaan seperti dalam Babad Demak dan Kitab Ambiya Jawi, sebenarnya hanya wujud dari spekulasi klasikisme. Pertanyaan itu lahir dalam masyarakat pertanian yang involutif (berkembang ke dalam). Tuhan sendiri memperingatkan untuk tidak mempertanyakan hakikat Tuhan dan ruh, tetapi tentang ciptaan-Nya. Persoalan akidah itu sekarang sudah tidak relevan lagi, ketika orang sudah membicarakan konsekuensi sosial dari pengakuan tentang adanya Tuhan, seperti dalam konsep tauhid sosial.

Ketiga, Mingsiling Kitab (mithl berarti misal, menyerupai) menguraikan pengetahuan keagamaan Islam. Naskah ini berisi kutipan-kutipan dari banyak buku yang banyak beredar di kalangan pesantren, kitab kuning, dan uraiannya berdasarkan daya tangkap Jawaisme. Diduga, naskah ini dipergunakan sebagai buku ajar bagi para priyayi (birokrat) di kraton. Penelitian tidak mengidentifikasi naskah-nakah terdahulu, tetapi mengingat bahwa naskah bertembang macapat ini memakai bahasa Jawa Baru, dapat diduga bahwa naskah itu asli, dibuat pada zaman itu.

Kalau dugaan itu benar, maka hal ini menunjukkan perkembangan menarik dari sejarah Jawaisme. Jawaisme pada itu makin mendekati pesantren—meskipun salah-salah tulis—kurang mengerti bahasa Arab, dan masih kentara nuansa Jawaismenya.

Namun, naskah ini telah menepis anggapan bahwa Jawaisme adalah suatu being, sesuatu yang sudah fixed, yang sudah selesai. Jawaisme adlah suatu becoming, suatu proses. Dan, ternyata sepenuhya meninggalkan cara berpikir, cara merasa, dan cara memahami persoalan dengan cara lama.

Keempat, Kadis Syaikh Abdul Kadir Jaelani berusaha menceritakan dengan cara sendiri mitos kekeramatan. Naskah ini ditulis atas permintaan Ratu Emas pada zaman Hamengkubuwono III (1810-1814). Naskah ini—berbeda dari judulnya—tidak menceritakan Syaikh Abdul Kadir Jaelani yang historis (lahir 1077), tetapi sebuah fiksi. Dalam naskah itu, diceritakan pengembaraan Syaikh Abdul Kadir Jaelani, putra Nabi Muhammad Saw. dengan Umi Salmah. Tokoh Syaikh Abdul Kadir Jaelani sendiri adalah tokoh historis, sangat populer di kalangan pesantren, dankisah-kisahnya yang penuh keajaiban didendangkan dalam acara manakiban.

Keliaran imajinasi, yang menerjang tembok-tembok pakem sejarah adalah ciri khas Jawaisme. Kepercayaan pada orang-orang suci ditekak-tekuk sedemikian rupa, sehingga hampir-hampir tidak dikenal lagi. Bukan tidak mungkin Jawaisme memperlakukan Walisongo dengan cara sama, artinya dengan imajinasi yang liar. Bagaimanapun, pemakaian nama Syaikh Abdul Kadir Jaelani adlah indikator adanya Islamisasi kraton.

Kelima, Taj Al-Salathin (Taj Al-Salatin, berarti “mahkota raja-raja”) mengulas mengenai kekuasaan. Naskah ini ditulis pada 1831. Ini adalah juga salah satu indikator dari Islamisasi kraton. Atau, kalau pikiran positif tentang Islam itu diganti dengan pikiran positif tentang Jawa, jadi Jawaisasi terhadap Islam. Namun, hal itu tidak menghilangkan fakta bahwa unsur-unsur Islam telah masuk kraton.

Selama ini kita mengenal Wahyu Makuta Rama dan buku-buku lain dengan ajaran tentang asthabrata yang memakai pendekatan kekuasaan sebagai satu-satunya dokumen Jawaisme tentang kekuasaan. Tetapi, Taj al-Salatihin yang berisi 25 pasal itu ternyata mempunyai pendekatan yang berbeda, yaitu akhlaq. Ditekankannya soal akhlak, misalnya perilaku adil tidak terdapat dalam khazanah sastra Jawa lama.

Islamisasi

Pada awal abad ke-19 ada Islamisasi Jawaisme. Gambaran Jawaisme yang monolitik (pra-Hindu plus Hindu-Buddhisme plus sufisme) menjadi gambaran yang lebih pluralistik (pesantren, Melayu, Timur Tengah). Dengan demikian, Jawaisme bukan sesuatu yang sudah pasti, tetapi sesuatu yang “menjadi”. Lebih sebagai potensi daripada sebuah finalitas.

Jawaisme sebagai sistem kepercayaan dari masa ke masa memudar. Sinkretisme memudar, ortodoksi bersinar. Kratron yang dulu menjadi lambang sinkretisme, semakin menjadi ortodoks. Semakan al-Quran di kraton sekarang ini lebih mengemuka daripada slametan untuk memperingati ultah kerajaan, raja dan keluarganya telah berhaji, dan taat menjalankan ibadah. Apakah dengan Islamisai, Jawa hilang dari peta Islam? Ya dan tidak. Yang hilang adalah Jawa sebagai “isme” (sistem kepercayaan), tetapi Jawa sebagai kebudayaan, tidak hilang.

Jawa semakin ortodoks dalam akidah, ibadah, akhlak, dan syariah. Tetapi, potensi kejawaan tampak dalam muamalah. Kebudayaan Islam Jawa tampak sebagai ortodoksi Islam yang universal dalam keempat bidang, tetapi mempunyai aspek kejawaan dalam perbuatan sehari-hari. Misalnya, menghormati orangtua (biruul walidain) adalah syariah Islam yang universal, tetapi di Jawa disimbolkan dengan bahasa krama dan upacara sungkem. Nilainya Islam, simbolnya Jawa. [ ]

(12 April 1998)

_________________________________

Prof. Dr. Kuntowijoyo adalah seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan dari Indonesia. Lahir 18 September 1943, Bantul dan wafat 22 Februari 2005, Yogyakarta. Kuntowijoyo mendapatkan pendidikan formal keagamaan di Madrasah Ibtidaiyah di Ngawonggo, Klaten. Ia lulus SMP di Klaten dan SMA di Solo, sebelum lulus sarjana Sejarah Universitas Gadjah Mada pada tahun 1969. Gelar MA American History diperoleh dari Universitas Connecticut, Amerika Serikat pada tahun 1974, dan Ph.D Ilmu Sejarah dari Universitas Columbia pada tahun 1980. Ia mengajar di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada dan terakhir menjadi Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya, dan menjadi peneliti senior di Pusat Studi dan Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. (sumber; wikipedia.org)

_________________________________

Tulisan di atas diambil dari buku Kuntowijoyo, “Muslim Tanpa Masjid”, (Bandung: Penerbit Mizan, 2001), hlm. 229-237


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending