515
Redaksi |

Cerpen: Iblis yang Menang (Iblîs Yantashiru)

Sumber gambar di sini

Oleh Taufiq el-Hakim*

Suatu kaum menjadikan pohon sebagai sesembahan. Kabar itu terdengar oleh seorang ahli ibadah (nâsik) yang beriman kepada Allah. Dia membawa kapak menuju pohon tersebut untuk menebangnya. Ketika hampir sampai di pohon itu, Iblis muncul, dia menjadi penghalang antara ahli ibadah dan pohon itu. Iblis berteriak pada sang nâsik.

“Wahai lelaki, kenapa kau ingin menebangnya?!”

“Karena pohon tersebut menyesatkan manusia.”

“Apa urusanmu dengan mereka? Biarkan mereka dalam kesesatan mereka.”

“Bagaimana bisa aku membiarkan mereka. Kewajibanku adalah menunjukkan jalan yang benar kepada mereka.”

“Kewajibanmu adalah meninggalkan manusia sebebas-bebasnya. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka sukai.”

“Mereka sama sekali tidak bebas. Mereka hanya mendengarkan bisikan syaitan.”

“Kau ingin mereka mendengar seruanmu?”

“Aku ingin mereka mendengar seruan Allah.”

“Aku tidak akan membiarkanmu menebang pohon ini.”

Kemudian Iblis mencekik leher sang ahli ibadah. Ahli ibadah itu melepaskannya. Terjadilah pergulatan yang cukup lama sampai pertikaian itu dimenangkan oleh sang ahli ibadah. Setan pun terlempar ke tanah dan dadanya diduduki. Sang nâsik berkata:

“Apa kau lihat temanku?”

Iblis menjawab dengan suara memekik:

“Aku tidak menyangka kau sekuat ini. Lepaskan aku dan lakukan apapun yang kau inginkan.”

Nâsik membiarkan syaitan itu pergi. Karena ia telah mengerahkan banyak tenaga dalam pertikaian tadi. Ia putuskan kembali ke tempat ibadahnya dan beristirahat di malam harinya.

Baca juga: Perlihatkan Allah Kepadaku

Hari berikutnya ahli ibadah itu kembali membawa kapak. Ia hendak menebang pohon itu. Sang Iblis muncul dari belakangnya dan berteriak:

“Kau kembali lagi untuk menebangnya?”

“Kau telah mengatakan padaku bahwa aku harus menebangnya.”

“Atau apa kau mengira akan mampu mengalahkanku lagi hari ini?” tanya Iblis.

“Aku akan terus memerangimu sampai tegak kalimat Allah.”

“Perlihatkan padaku kemampuanmu.”

Iblis mencekeik lehernya. Sang ahli ibadah membalasnya dengan mencengkram tanduknya. Mereka saling menyerang dan bergulat hingga syaitan jatuh di bawah kaki sang nâsik. Dia pun duduk di atas dada syaitan sambil berkata:

“Kau berada di bawah kekuasaanku, apa yang hendak kau katakan?”

“Sungguh kekuatanmu sangat menakjubkan. Lepaskan aku dan lakukan apapun yang kau inginkan,” ucap syaitan gemetar dan terpekik.

Sang nâsik pun melepaskannya. Kemudian ia pulang ke tempat ibadahnya untuk melepaskan kelelahannya hingga malam berlalu dan fajar Subuh menyingsing. Lalu dia kembali mebawa kapak menuju ke pohon itu, dan lagi, Iblis muncul dengan berteriak padanya:

“Tidakkah kau urungkan saja niatmu, wahai lelaki!”

“Sampai kapanpun, aku harus memberantas keburukan ini.”

“Aku kira aku telah melepaskanmu. Apa yang kau lakukan kali ini?”

“Kau telah menantangku, sungguh aku akan mengalahkanmu.”

Kemudian Iblis berpikir sejenak. Dia berpandangan bahwa tantangan, perkelahian, dan pergulatan dengan lelaki ini tidak akan memberi keuntungan padanya. Maka ia menyingkirkan pikiran itu.

Iblis berpikir tidak ada cara yang lebih baik kecuali dengan tipu daya muslihat (hîlah). Kemudian Iblis bersikap lembut kepada nâsik dan berujar dengan gaya pemberi nasihat yang penuh kasih sayang.

“Apa kau tahu kenapa aku menentangmu menebang pohon ini? Sesungguhnya aku ini tidak menentang, hanya takut dan kasihan padamu. Jika kau menebangnya, kau akan menyulitkan dirimu sendiri karena kemarahan orang-orang yang menyembahnya. Apakah itu tidak melelahkanmu? Urungkan keinginan menebangnya dan aku akan memberikanmu dua dinar setiap hari yang akan membantu nafkahmu. Kau akan hidup dalam kenyamanan, ketenangan, dan keselamatan.”

“Dua dinar?”

“Betul, setiap hari kau akan mendapatkannya di bawah bantalmu.”

Sang nâsik berpikir mendalam dalam diam, kemudian dia mengangkat kepalanya dan berkata pada Iblis:

“Siapa yang menjaminku bahwa kau akan menepati janjimu?”

“Aku berjanji padamu atas itu. Kau akan tahu kebenaran janjiku.”

“Aku akan mencobanya.”

“Ya, cobalah.”

“Kita sepakat.”

****

 

Iblis meletakkan tangannya pada tangan sang nâsik (seperti bersalaman). Mereka saling berjanji. Ahli ibadah itu kembali ke tempat ibadahnya. Setiap bangun pagi, dia memasukkan tangan di bawah bantal dan keluarlah uang dua dinar. Hal itu berlangsung hingga satu bulan.

Baca juga: Bidadari pun Cemburu

Di suatu pagi, ia masukkan tangannya tapi tidak menemukan apa-apa. Rupanya Iblis telah memutus kelimpahan emas (dinar) yang dijanjikannya. Sang nâsik pun marah dan bangkit mengambil kapaknya. Ia pergi untuk menebang pohon itu, dan Iblis kembali mencegahnya dalam perjalanan dan berteriak padanya.

“Mau kemana kau?”

“Menuju pohon itu, aku akan menebangnya.”

Syaitan bersuara dengan nada mengejek.

“Kau menebangnya karena aku tidak memberimu lagi uang?!”

“Bagaimanapun juga, aku masih memiliki tujuan menyalakan cahaya hidayah!”

“Kau?!”

“Kau mengejekku, wahai makhuk laknat?!”

“Jangan menyalahkanku! Wajahmu membuatku tertawa!”

“Kau mengatakan ini, wahai penipu?!”

****

 

Sang nâsik menyergap Iblis dan menangkap tanduknya. Terjadilah pertempuran sebentar. Pada akhirnya, sang nâsik jatuh di bawah kaki Iblis. Ia duduki dada ahli ibadah itu dengan sombong dan berkata:

“Sekarang di mana kekuatanmu, wahai lelaki?”

Ahli ibadah itu berkata dengan suara kepayahan seperti orang sekarat:

“Beritahu aku bagaimana caramu mengalahkanku, wahai syaitan!”

Iblis menjawab:

“Ketika kau marah karena Allah, kau dapat mengalahkanku, dan ketika kau marah karena dirimu sendiri, aku dapat mengalahkanmu. Ketika kau berperang karena aqidahmu, kau dapat melemparkanku, dan ketika kau berperang demi keuntunganmu sendiri, aku dengan mudah melemparmu!”

****

Diambil dari kumpulan cerpen Taufiq el-Hakim berjudul Lailah al-Zifâf, halaman 105-109. Terjemah berdasarkan teks asli di bawah ini:

______________________________

*) Taufiq al-Hakim (9 Oktober 1898-26 Juli 1987), seorang novelis, cerpenis, filosof dan penulis naskah drama asal Mesir. Dia dipandang sebagai salah satu figur utama dalam perkembangan literatur Arab modern, khususnya di wilayah teater. Dia menulis banyak karya sastra dan beberapa buku filsafat.

 


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending