531
Muhammad Afiq Zahara |

Cerpen: Kiai Jumadi

Sumber gambad di sini

Oleh Muhammad Afiq Zahara

“Saya bingung, Mas. Tingkah Kiai Jumadi itu lho, semakin hari, semakin aneh,” kata saya.

Ah, jangan mengada-ada, Kiai Jumadi orangnya lurus-lurus aja kok,” ucap Mas Marno dengan asap rokok mengepul dari mulutnya.

“Itu kan dulu, Mas, pas Mas Marno masih mondok di sana. Sekarang beda, Mas,” saya berusaha meyakinkan sampai memajukkan badan agar lebih berdekatan.

“Apa bedanya? Kamu jangan mengada-ada, Lung. Kiai Jumadi itu guru kita lho. Jangan asal ngomong.”

Ndak, Mas. Saya lihat sendiri kok,” ujar saya sambil meremas bagian bawah sarung.

“Apa bedanya?”

“Masa Kiai gitu. Bayangkan saja, mas, Kiai Jumadi…..”

“Sudah! Sudah! Jangan diteruskan,” Mas Marno memotong cerita saya. “Level kita belum sampai, Lung”

“Susah ngomong sama sampeyan, Mas. Generasi kultus sih,” sindir saya.

Mas Sumarno cuek. Dia menyeruput kopi di depannya dan kembali menghisap rokoknya.

“Terserah kamu mau ngomong apa, Lung,” mas Marno memalingkan tubuhnya.

****

 

Setiap Subuh, baju dan kasur santri-santri Pesantren Putihan, Kebumen, basah kuyup kena siram Kiai Jumadi. Saya termasuk yang paling sering, jarang bangun subuh sih. Kiai Jumadi selalu berkeliling ke kamar-kamar santri putra sebelum Subuh, ditemani beberapa pengurus pesantren yang masing-masing membawa ember penuh air, tapi hanya Kiai Jumadi yang punya hak untuk menyiram. Banyak santri yang kaget sampai nyolot, tapi seketika diam menunduk setelah melihat wajah Kiai Jumadi yang garang.

Andai dilakukan persentasi, hampir lima persen santri kena siram Kiai Jumadi. Saya langganan utamanya, sampai Kiai Jumadi kenal betul muka saya. Sama seperti lainnya, saya nyolot. Pernah sekali waktu saya hendak melemparkan sesuatu kepadanya, tapi ya itu tadi, wajah garang Kiai Jumadi mengecilkan nyali saya.

“Ini sudah keterlaluan. Sangat tidak layak dilakukan,” ucap saya dengan suara kuat.

“Layaklah, kan kita sendiri yang salah,” ujar Syafi’i, santri dari Jakarta, sama seperti saya.

Kan bisa dengan cara lain, tidak harus mengagetkan begitu,” saya semakin serius.

Salahmu dewe ora tau tangi subuh—salahmu sendiri nggak pernah bangun Subuh,” kata Suryadi, teman saya dari Semarang.

“Iya, tapi caranya itu loh,” tegas saya.

“Aku sih kurang sepakat ya,” sambung Mardi. “Kepala jadi pusing, tubuh lemas dan jantung berdetak kencang.”

“Itu dia,” saya dengan semangat menyetujui. “Itu yang saya maksud.”

“Ora ngono-ngono banget ah. Ojo lebay—tidak begitu-begitu amat ah. Jangan lebay,” tolak Suryadi.

Nggak pernah ngrasain sih, coba rasain sekali-kali,” saya berucap penuh penekanan.

“Sudah ah! Nggak penting juga dibahas,” Syafi’i berdiri, hendak pergi meninggalkan kami. “Ingat, bentar lagi Maghrib,” katanya keras.

****

 

Baru satu tahun saya mondok di sini, tapi sudah merasa tidak betah. Semua keluarga saya, diawali dari kakek, ayah, sampai kakak saya lulusan Pesantren Putihan, Kebumen. Katanya, Pesantren ini berdiri sejak tahun 1780 M, usianya sudah dua ratus tahun lebih. Pendirinya bernama Kiai Ahmad Suryagomo dari Kudus. Masyarakat desa Putihan sangat menghormati beliau. Kuburannya ramai dikunjungi sampai sekarang.

Di desa Putihan ada sungai besar. Konon, sungai itu hanya bisa dilewati sampai siang hari. Pertama kali mendengar cerita itu dari penduduk desa, saya menganggapnya soal mistis, eh ternyata bukan. Dari penuturan penduduk desa, setiap sore air di sungai itu meluap, sehingga susah dilintasi. Karena itu, meski pekerjaan mencari kayu dan bercocok tanam belum selesai, mereka harus kembali ke pemukiman sebelum sungai meluap, kecuali di musim kemarau. Nah, konon Kiai Ahmad Suryagomo berhasil membangun jembatan di atas sungai itu. Inilah awal mula masyarakat Desa Putihan menaruh hormat padanya. Kiai Jumadi adalah keturunan ke-7 Kiai Ahmad Suryagomo.

Putihan adalah nama sebuah desa di utara Kebumen. Nama pesantrennya sendiri adalah “Hikmatul Akhlaq”, tapi orang-orang biasa menyebutnya “Pesantren Putihan” saja. Saya yakin banyak yang tidak tahu nama asli pesantren asuhan Kiai Jumadi ini. Pesantren Putihan dikelilingi oleh bukit kecil dan dibelah oleh satu sungai besar. Pesantren putra di sebelah kanan sungai, dan pesantren putri di sebalah kirinya

Saya dikirim mondok ke sini setelah lulus SMA di Pesantren Darul Amanah, Jakarta, dan masuk Fakultas Adab di Sekolah Tinggi Kiyai Ahmad. Pertama kali kemari, saya suka banget suasananya. Rindang, sejuk, asri, pokoknya wow deh. Tahu sendiri kan saya orang Jakarta yang sumpek dengan bisingnya “ini-itu”. Tapi, sedikit demi sedikit, saya kehilangan rasa betah tinggal di sini. Bukan soal apa-apa, bukan karena suasananya, tapi itu lho, karena Kiai Jumadi yang sering berbuat seanaknya. Gambaran saya soal ulama nggak gitu, maksudnya nggak seperti Kiai Jumadi.

Coba dipikir, masa ulama nonton dangdut koplo. Itu kan sudah kelewatan namanya. Ditambah kesewenang-wenangannya menyiram muka setiap Subuh. Masa ulama yang santrinya ribuan gitu, kan nggak masuk di akal. Karena itu, tekad saya sudah bulat, saya harus pindah pesantren. Titik.

****

 

“Saya dengar kamu mau pindah pondok, Lung?” tanya kang Syarwani, salah seorang guru di Pesantren Putihan.

“Iya, kang. Saya sudah tidak kerasan di sini,” jawab saya.

Kami biasa ngopi bareng setiap malam di teras madrasah yang menghadap sungai. Ditemani suara gemercik air dan bulan yang tidak bulat telur puyuh. Kang Syarwani sering menemani saya melamun di malam hari. Perjumpaan kami awalnya tak disengaja. Saya bukan muridnya. Sebab Kang Syarwani mengajar di kelas 3 sekolah pondok, sedangkan saya masih kelas 1. Ini beda ya dengan Sekolah Tinggi Kiai Ahmad. Suatu waktu, saat tengah santai sendirian ngelihatin bulan purnawa, Kang Syarwani tiba-tiba duduk di samping saya dan menawarkan kopi. Itulah awal perjumpaan kami.

“Kenapa?” tanyanya.

Ehh, Kiai Jumadi……,” jawab saya, tapi tak bisa meneruskan kata-kata.

“Kenapa dengan Kiai Jumadi?”

Saya diam untuk beberapa saat, ya sekitar satu menitan lah, tapi sudahlah. Akhirnya saya putuskan untuk mengatakan yang sebenarnya. Mau pindah ini, dimarahin pun tak mengapa lah.

“Saya tidak cocok dengan tingkah Kiai Jumadi,” tegas saya tanpa aling-aling.

Kang Syarwani menatapku. Kernyitan kebingungan di dahinya jelas terlihat, sampai-sampai dia menghentikan isapan rokoknya.

“Ooh, itu tho,” Kang Syarwani menghisap rokoknya kembali. Air mukanya biasa saja, tenang. “Ya, saya juga ndak cocok sama Kiai Jumadi.”

Wah, saya terkejut, sangat-sangat terkejut. Selama ini saya menganggap Kang Syarwani sebagai orang yang paling takzim dan setia pada Kiai Jumadi. Eh, ternyata tidak cocok juga dengannya.

 “Itu bukan hal aneh lho, Kiai Jumadi memang begitu itu. Saya juga benci, tapi…..”

Kang Syarwani menghentikan kata-katanya. Dia menyeruput kopi dan menghisap rokoknya seperti tidak terjadi apa-apa. Saya agak jengkel melihatnya, apa dia tidak tahu lanjutan kata-katanya sedang sangat ditunggu. Dia asyik aja, diam tanpa melirik ke arah saya, menyeruput kopi dan menghisap rokoknya lagi.

“Kang!” saya tepuk lengannya sampai rokoknya jatuh, habis gregetan sih.Lanjutin donk omongannya.”

Kang Syarwani melirik, dia tersenyum.

“Malam ini kamu jangan tidur ya. Habis Subuh ikut saya.”

“Untuk apa?”

“Kalau mau tahu lanjutan kata-kata saya, ya setelah Subuh itu. Kamu jangan tidur ya,” Kang Syarwani beranjak. Dia membersihkan sarungnya dari abu rokok yang terjatuh. “Ingat! Jangan tidur ya,” katanya lagi sebelum pergi meninggalkan saya.

****

 

Ayam telah berkokok. Fajar pagi kabarnya segera menyingsing. Saya bisa tahu karena suara kresek-kresek towa masjid pondok sudah terdengar. Biasanya tak lama lagi suara Kang Syukron akan mengalun merdu. Penyedap tidur paling mujarab, kata teman-teman santri. Saya sendiri bersandar di pojokan kamar, menaha kantuk berat. Gara-gara Kang Syarwani, saya tidak tidur semalam suntuk. Dia pintar betul menanamkan rasa penasaran di hati saya. Dasar.

“Subuh! Subuh! Bangun!” keamanan pondok berkeliling, membangunkan satu persatu santri yang masih tidur. Ada dua tahapan dalam proses ini, pertama dilakukan oleh pengurus pondok sendiri, kemudian setelah beberapa menit masih banyak yang tidur, Kiai Jumadi turun tangan didampingi para pengurus lainnya.

“Cepat ke masjid!” tegas seorang pengurus kepada saya.

Saya bangkit agak malas-malasan, mengambil wudu dan memasuki masjid. Baru saja mau shalat sunnah, Kang Syarwani berdiri di samping saya dan shalat. Kami tidak saling bertegur sapa saat itu, hanya shalat di tempat masing-masing.

Setelah jamaah shalat Subuh selesai, semua santri menyalami Kiai Jumadi. Mereka mencium tangan Kiai Jumadi dengan penuh ketakziman. Giliran saya, jujur saja, saya enggan menicum tangannya. Karena itu saya tidak menciumnya, tapi menempelkannya di kening.

“Kang! Gimana?” saya kejar Kang Syarwani yang sedang berjalan menuruni tangga serambi masjid.

“Kamu ikut saya,” katanya.

“Nanti dihukum, kang, kan waktunya ngaji.”

“Itu keputusanmu, mau dihukum tapi menemukan sesuatu atau tidak dihukum tapi tidak menemukan apa-apa. Kamu pilih mana?” Kang Syarwani serius.

“Baik, saya pilih ikut sampeyan, kang.”

“Ya sudah. Kamu ikuti saya sekarang.”

Saya berjalan mengikuti Kang Syarwani. Langkah kakinya sangat cepat seperti dikejar sesuatu. Beberapa saat kemudian, Kang Syarwani menarik lengan saya dan jongkok.

Lho, ini kan cuma belakang kamar. Ngapain kita ke sini, kang?” tanya saya heran.

“Sudah, jangan banyak omong.”

Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki seseorang. Kami mengintipnya dari celah-celah jendela kamar.

Ssstttt,” Kang Syarwani memberi isyarat untuk diam.

Saya melihat Kiai Jumadi memasuki kamar. Dia melipat tikar, bantal, kasur dan apapun barang-barang di kamar yang basah.

“Kalian jangan turut campur!” perintah Kiai Jumadi tegas.

“Biar kami saja, kiai,” kata seorang pengurus.

“Tidak. Ini tanggung jawabku.”

Para pengurus itu hanya berdiri melihat Kiai Jumadi mengangkat satu persatu tikar, bantal, kasur dan barang-barang lainnya ke luar. Saya melihat air muka para pengurus itu menunjukkan keharuan. Tangan mereka terbuka seperti hendak membantu, tapi setiap kali mereka bergerak, Kiai Jumadi menatap mereka dengan garang. Kemudian, Kiai Jumadi pindah ke kamar berikutnya.

“Apa ini, kang?” tanya saya tak mengerti.

“Kiai Jumadi melakukan itu setiap hari. Belaulah yang menjemur tikar, bantal, kasur atau apapun yang basah terkena siraman airnya. Semuanya beliau lakukan sendiri, tanpa membiarkan kami membantunya,” Kang Syarwani duduk di atas tanah. Matanya berair. “Sekali waktu, saya pernah bertanya, kenapa kami tidak diperkenankan membantunya. Beliau menjawab: ‘Akulah yang menyiram mereka. Akulah yang bertanggung jawab atas kemarahan mereka, dengan senang hati kuterima itu. Kemarahan mereka kepadaku tidak berarti apa-apa dibanding amanah yang diberikan orangtua mereka kepadaku.”

“Kenapa Kiai Jumadi melakukannya?” tanya saya.

“Beliau mengatakan: ‘Setidaknya ini membuatku tidak terlalu malu kepada Allah ketika memohonkan sesuatu untuk santri-santriku. Yang kulakukan setiap hari hanya mengajar dan memberi hukuman demi tegaknya peraturan pondok. Itu membuatku malu memohon kepada Allah. Aku diajarkan abah, kakek dan nenek moyangku untuk mendoakan kebaikan bagi santri di setiap selesai shalat, tapi selama ini yang kulakukan hanya itu. Bagaimana aku tidak malu?” Kang Syarwan menghentikan perkataannya untuk sesaat.

Saya tidak sabar untuk mendengar kelanjutannya. “Cepat, kang, lanjutin,” kata saya.

“Kemudian Kiai Jumadi melanjutkan: ‘Dulu, di zaman kakekku jumlah santri tidak sebanyak ini, beliau bisa membimbing dan mencontohkan keteladanan secara langsung kepada mereka, dan mereka pun berkumpul setiap shalat dan mengaji tanpa harus diancam dan dibangunkan. Tidak diperlukan pengurus atau peraturan saat itu, tapi sekarang berbeda. Persoalannya bukan sekedar jumlah santri yang ribuan, tapi zaman dan karakter santri yang berbeda pula. Lalu aku mencoba mencari formulasi yang paling tepat untuk diterapkan dalam proses peneladanan akhlak di era sekarang ini. Aku belum menemukan jawabannya selain doa. Karena itu, agar tak begitu malu, misalnya saat memohon agar santriku menjadi orang yang rendah hati, aku harus melakukan ini. Sebab, kerendah-hatian macam apa yang pernah kucontohkan? Hampir tidak ada. Paling tidak, apa yang kulakukan ini adalah bentuk contoh dari kerendahan-hati.”

Huuuh, saya hembuskan nafas berkali-kali setelah mendengarnya. Selama ini saya mengira, bantal, kasur, dan tikar yang sudah terjemur setiap kali saya kembali ke kamar, dilakukan oleh pengurus, tapi ternyata, huuuhhh. Tanpa sadar, mata saya berlinang terbawa ujaran Kiai Jumadi melalui mulut Kang Syarwani. Tubuh renta Kiai Jumadi yang telah berusia 70 tahun lebih harus melakukan itu. Saya bisa bayangkan betapa susahnya Kiai Jumadi. Setiap hari, tidak kurang lima puluh anak yang terkena siramannya. Artinya beliau harus mengangkat dan menjemur lima puluhan perlengkapan tidur santri, dan itu dilakukan setiap hari.

Saya merenung dalam-dalam, mencoba memahami perkataan Kiai Jumadi barusan. Tapi, prasangka buruk kembali mengambil alih. Pertanyaan lain yang selama ini menjadi ganjalan tentang Kiai Jumadi, tentang dangdut koplo, melayang-layang kembali.

“Soal nonton dangdut koplo, gimana kang?” tanya saya.

Mata Kang Syarwani memicing melihatku dan menggelengkan kepalanya.

“Kamu…” Kang Syarwani terus menggelengkan kepalanya, lalu dia terdiam cukup lama.

“Kang! Kang!” saya goyang-goyang bahunya, tapi dia tetap diam. Sudah satu jam lebih Kang Syarwani diam, dan saya harus berangkat sekolah. “Kang!” panggil saya agak keras.

“Ikut saya,” Kang Syarwani menggenggam lengan saya dan menariknya.

“Kang! Kang! Jangan, kang!” dia membawa saya ke rumah Kiai Jumadi. Kang Syarwani masuk setelah mengucap salam.

“Ada apa, Wan?” tanya Kiai Jumadi yang sedang duduk di ruang tamu nyambi baca kitab.

“Ini kiai. Ayo tanya langsung,” Kang Syarwani sedikit mendorong bahu saya. “Tanya,” katanya lirih.

Saya menghela nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata, mencoba menguatkan nyali.

“Mau tanya apa?” suara Kiai Jumadi terdengar di telinga saya.

“Dangdut koplo, kiai,” kata itu keluar tiba-tiba karena tekanan cemas dan takut yang bersamaan.

“Hahahaha,” Kiai Jumadi tertawa terbahak-bahak.

Saya bengong melihat Kiai Jumadi yang tertawa terbahak-bahak seperti itu. Saya jadi ingat sesuatu, perbuatan Kiai Jumadi menonton dangdut koplo baru sebatas kabar, tidak seperti peristiwa mengaggumkan yang saya intip dari celah jendela barusan.

“Oh, ya Allah Karim,” saya kok jadi malu ya, hihihihi.

****

Yogyakarta, 2 Juni 2018


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending