511
Redaksi |

Tak bisa dipisahkan

 

Oleh W.S. Rendra

Putri Anjar, anak perempuan Raja Wangsa, telah jatuh cinta kepada Pangeran Eka, seorang tawanan ayahnya. Pangeran Eka telah mengadakan pemberontakan terhadap Raja Wangsa yang zalim itu. Namun, dalam peperangan, ia telah dikalahkan oleh Raja Wangsa dan sekarang dijadikan tawanan, untuk selanjutnya menunggu pelaksanaan hukum penggalnya.

Perhubungan antara Putri Anjar dengan Pangeran Eka telah lama berlangsung, yaitu sejak sang Pangeran belum memberontak dan sang Putri masih remaja betul. Putri biasa melihat Pangeran belajar memanah serta menunggang. Dan, Pangeran telah mengajarnya pula berbagai jenis nama kuda serta telah menceritakan kepada sang Putri tentang berbagai negeri dan berbagai pengetahuan yang menyenangkan.

Selama itu perhubungan mereka penuh kemesraan dan pertalian batin yang erat. Sehari sebelum Pangeran mengadakan pemberontakan, ia pamit kepada Putri sambil menciumnya berkali-kali dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai sang Putri. Putri itu memeluk Pangeran, dan melelehkan air mata di dada Pangeran, dan bersumpah bahwa tak ada satu apa pun di dunia ini yang dapat memisahkan hatinya dari Pangeran itu. Ia pun menyetujui pemberontakan  karena ia memang tahu bahwa Raja memang sangat tidak adil, mempunyai istri terlalu banyak, dan seolah-olah sangat gemar memenggal kepala tanpa pengadilan yang layak.

Waktu itu hampir tengah malam dan di langit bintang-bintang bersebaran, berjuta-juta banyaknya. Pangeran membelai rambut Putri untuk penghabisan kalinya, lalu mengucapkan selamat tinggal. Maka, sejak saat itu antara keduanya telah terjalin kesetiaan yang tak bisa dipisahkan lagi.

Semalam suntuk Putri tak bisa memejamkan mata. Dan, ketika fajar memancarkan sinar merahnya yang pertama di langit timur, terdengarlah suara huru-hara di dalam keraton. Beduk peperangan terdengar dipukul bertalu-talu dan suara derap kaki kuda terdengar dari jauh. Putri tahu bahwa pemberontakan telah dimulai. Di dalam hati ia berdoa untuk kemenangan Pangeran pujaannya. Namun, rupanya bala tentara Raja sangat kuat.

Pada hari yang ketiga tentara pemberontak telah bisa dikalahkan seluruhnya, dan pangeran Eka telah jatuh dalam tawanan. Karena itu, Putri Anjar merasai kesedihan yang luar biasa. Ia merasa seolah ada anak panah yang tertancap di dada kirinya dan tak bisa dicabut lagi.

Selama dua hari ia tak bisa memejamkan matanya sekejap pun, dan selama itu pula ia merancang rencana untuk membebaskan kekasihnya, dan melarikan diri bersamanya. Akhirnya, pada hari yang ketiga, keduanya berhasil melarikan diri berkat bantuan seorang panglima yang setia kepada Pangeran dan Putri itu. Keduanya lari mendaki gunung di sebelah barat dengan menunggang kuda.

Ketika tahu hal ini, Raja sangat murka. Ia mengentak-ngentakkan kakinya di lantai dan menyumpah-nyumpah tanpa habis-habisnya. Ia mengerahkan segenap tentara dan mata-matanya untuk menangkap kedua orang itu. Ia telah bersumpah tak akan membiarkan putrinya mencintai pemberontak itu. Maka, alangkah lemasnya Raja waktu sampai dua minggu orang belum bisa juga menemukan keduanya. Akhirnya, ia menempelkan lembar kulit pengumuman di segenap pelosok kerajaannya, yang menerangkan bahwa Pangeran Eka akan diberi pengampunan asal ia mau melepaskan Putri Anjar.

Dalam pengembaraannya di balik gunung yang telah mereka daki, kedua kekasih itu telah membaca pengumuman itu pula. Kemudian, ketika keduanya beristirahat ditepi sebuah hutan, Pangeran berkata kepada kekasihnya:

“Anjar, saya sangat mencintaimu dan dirimu sangat besar artinya bagi saya. Tapi, lihatlah, saya sekarang menjadi orang buruan dan engkau terpaksa pula harus terlunta-lunta masih mempunyai kesempatan untuk diampuni dan merasai kenikmatan hidup di istana lagi.”

Mendengar ini, Putri Anjar menatapnya dengan matanya yang halus itu,dan berkata, “Pangeranku, saya tak mau dipisahkan lagi, biar untuk sebuah surga sekalipun. Kita tak akan bisa dipisahkan lagi.”

Pangeran itu lalu memeluknya dan berkata “Tekad kita telah jadi satu, Manisku. Kata-katamu mendatangkan kekuatan bagi saya. Kita akan berjuang dan kita akan bisa dibuat mundur.”

Keduanya lalu mengembara ke hutan. Hidup dari buah-buahan dan daging perburuan. Mereka berdua sangat berbahagia betul dalam percintaannya. Apabila pagi, mereka merasa berbahagia bersama burung-burung yang berkicau dan anak kijang yang meloncat-loncat di atas rumputan. Kalau malam, mereka merasa berbahagia bertemankan bulan dan cengkerik-cengkerik yang bernyanyi di dalam belukar. Hidup mereka seakan-akan sedang berbunga sebab bukankah cinta itu bunga dalam kehidupan?

Akan tetapi, kebahagiaan yang kekal selalu minta pengorbanan.

Pada suatu siang kedua kekasih itu sedang mandi bersama di kali yang mengalir di dalam hutan itu. Hari itu hari yang muram. Langit bermendung dan angin bertiup dengan suara yang jahat. Pepohonan terbungkuk-bungkuk serta terkacau daun-daunnya oleh angin. Segera Pangeran mengajak Putri untuk berhenti mandi dan lekas-lekas kembali ke gubuk mereka.

Pada waktu itu, dari balik rumpun bambu yang tumbuh di tepi kali, sepasang mata jahat mengintip mereka. Sekarang seorang mata-mata Raja Wangsa telah tahu tempat persembunyian mereka. Mata-mata itu mengikuti segala gerak gerik mereka sampai ke gubuk. Ia melihat bagaimana bahagianya keduanya berjalan bergandengan keluar dari kali. Hari mendung dan angin jahat, tapi keduanya tampak bercahaya. Wajah mereka seperti pengantin yang menyambut kedatangan fajar yang cerah. Walaupun begitu, mata-mata itu tidak ikut bahagia, bahkan memusuhi kebahagiaan itu.

Akan tetapi, itu tidak mengherankan. Sebab, matahari mengenal mendung, bunga mengenal hama, dan di dunia malapetaka tidak kurang banyaknya.

Mata-mata itu memberi laporan kepada Raja, dan untuk itu Raja memberinya karunia yang tak kurang dari dukat selaksa. Kemudian, Raja memerintahkan adiknya, paman Putri Anjar, untuk menangkap kedua kekasih itu dengan bala tentara secukupnya. Paman menurut segala perintah itu karena ia mengharapkan karunia yang besar dari Raja.

Maka, pada hari kedua, ketika Putri Anjar sedang menanak nasi dan Pangeran Eka sedang membelah kayu, tiba-tiba mereka terkejut karena dari jauh mendengar suara anjing. Itu bukan salakan anjing hutan yang serak, melainkan salak anjing yang biasa dipakai berburu.

Dengan perasaan curiga Pangeran menyiapkan kuda dan pedangnya. Ia memanjat pohon untuk melihat keadaan kanan-kirinya. Tiba-tiba ia tahu bahwa ia sedang hendak dikepung. Dengan tangkas turun dari pohon, menaikkan Putri ke kuda, dan setelahnya ia sendiri naik pula ke kuda itu. Segera saja keduanya melarikan diri ke barat.

Tak lama kemudian tentara Raja segera mengejarnya disertai oleh hujan panah. Pengejaran berlangsung melewati hutan, belukar, dan bukit-bukit.

Akhirnya, Pangeran Eka dan Putri Anjar terdesak dan bersembunyi ke sebuah candi yang dipersembahkan kepada Dewa Wisnu serta berdoa:

“Wahai, Wisnu yang kuasa, Engkau memberkati segala yang baik di dunia, Engkau pemelihara keindahan dan ketenteraman di muka bumi. Saya mohon lindungilah kami berdua yang sedang dalam percintaan ini. Percintaan kami suci dan tujuan kebahagiaan kami sangat sederhana. Wisnu, jadikan hidup kami berbunga. Berilah kami keremajaan sebagai padang rumputan yang hijau. Wisnu, bebaskanlah kami!”

Putri Anjar turun pula dari kuda. Ia memeluk kaki arca Wisnu sambil berkata dengan sedu sedan, sedang air matanya membasuh kaki dewa mereka itu:

“Wisnu, saya menangis di bawah kakimu. Pantaskah bunga yang baru mengembang diruntuhkan badai? Pantaskah anak kijang remaja dijadikan korban mulut serigala? Wisnu, pantaskah pupus bunga cinta kami dipunahkan? Pantaskah kami mati bagai pucuk rebung yang muda?

Oleh karena gairah percintaan mereka yang meluap-meluap itu, suara merak jadi gemetar dan mata mereka seakan-akan memancarkan cahaya api. Dewa Wisnu sangat terharu melihat kejadian itu. Kemudian, terdengarlah suara dari mulut arca yang besar dan tinggi itu.

“Cinta itu kudus. Wisnu melindungi percintaanmu. Percintaanmu berdua tak akan bisa dipisahkan lagi. Tak akan bisa dipisahkan oleh kematian, tak akan dipisahkan oleh kiamat tak akan dipisahkan oleh kejahatan. Bila terhalang di dunia, akan subur di surga.”

Keduanya termenung mendengar suara itu. Namun, segera mereka terjaga karena suara kaki kuda-kuda yang mengejar mulai terdengar lagi dari jauh. Segera mereka keluar dari candi itu dan melarikan diri menuruni lembah.

Kuda mereka berlari sangat cepat meskipun dengan mendukung dua penunggang di atas punggungnya. Putri menunggang di depan dan Pangeran duduk dibelakangnya. Angin menampari muka mereka.

Segenap bala tentara Raja dan Paman itu menghujani mereka dengan panah dari belakang. Kuda Paman itu sangat kuat dan bagus. Kuda yang terbagus di seluruh kerajaan itu yang pernah diperlombakan. Kuda itu seakan-akan tak kenal lelah dan kecepatan larinya selalu sama. Sehingga akhirnya ia hampir dapat menyusul kuda Pangeran Eka.

Akan tetapi, tiba-tiba mereka harus menyeberangi sebuah sungai yang melintang di sebuah padang. Dengan tangkas kuda Pangeran menyeberangi sebuah sungai itu. Namun, kuda Paman agak gagap ketika melihat muka air. Sebab itu, ia tertinggal jauh lagi.

Melihat gelagat ini, segera Paman melepaskan sebuah anak panah ke punggung Pangeran yang sudah berada di seberang kali. Panah Paman itu sangat bagus dan kuat sehingga ia menembus badan Pangeran dan sekaligus juga menembus badan Putri yang duduk di depannya.

Mereka terkena pada jantung mereka. Pangeran memeluk Putri kuat-kuat dan darah mengalir dari liang luka mereka. Si kuda terus saja membawa mereka lari ke tengah padang. Namun, tak jauh antaranya tubuh kedua kekasih itu jatuh dari punggungnya.

Segera bala tentara Raja akan menyeberangi sungai dan memungut kedua mayat itu. Namun, mereka melihat kejadian yang ajaib: kedua mayat itu tampak mengeluarkan cahaya yang bersinar-sinar, lalu lenyap. Kemudian, dari cahaya itu menjelmalah dua ekor merpati jingga yang terbang membubung ke langit.

Paman memerintahkan untuk menghujani kedua merpati itu dengan panah, tapi tak ada satu pun yang mengena. Demikianlah kekasih itu telah menjelma menjadi dua ekor merpati. Cinta mereka tak bisa dimusnahkan oleh maut.

Dapatkah dibayangkan kebebasan seekor di udara? Dapatkah dibayangkan kebahagiaan pasangan remaja dirundung mesra? Dua ekor merpati itu bermain-main sepanjang hari. Hinggap bergurau di dahan penuh bunga, mereka berayun-ayun di atas ranting yang bergoyang oleh angin.

Apabila hari panas terik  mereka mencari mata air bersama, dan dalam melepaskan lelah, mereka saling mencari kutu di antara bulu-bulu mereka. Yang betina mencari kutu yang jantan, yang jantan mencari kutu betina. Apabila malam dingin mereka mencari hinggapan yang terlindung dari angin, saling mendesakkan badan mencari kehangatan dan yang jantan mengeluarkan suara dengkuran yang menenteramkan hati betinanya. Mereka serupa dengan raja dan ratu. Kerajaan mereka adalah udara, hutan, lembah, gunung, daerah yang melewati kaki langit batasnya. Alangkah bahagianya mereka. Karena bagi hati yang suci indahlah segala-segalanya di atas permukaan bumi ini.

Pada suatu hari, terdorong oleh nalurinya, merpati betina itu mengajak si jantan pergi bermain-main di puri Raja Wangsa. Merpati jantan itu kurang setuju, tapi si betina tampak begitu kuat dorongan keinginannya sehingga akhirnya dengan hati yang berdebar-debar si jantan terpaksa mengikuti kehendak betinanya.

Mereka terbang mengitari atap istana itu dan menjelajahi seluruh tamannya. Akhirnya, si betina hinggap di bendul jendela bekas kamar Putri Anjar yang jantan mengikutinya.

Merpati betina itu memandangi seluruh isi kamar itu lama-lama, sambil mengenang masa silamnya. Hatinya sedih dan matanya menitikkan air mata. Si jantan menghiburnya.

Saat yang sekejap itu lalu menjadi saat yang sedih. Namun, siapa pula akan mengira bahwa saat sekejap itu juga mengandung bencana?

Secara kebetulan waktu itu Paman dan Raja sedang berlatih memanah di taman. Secara kebetulan pula Paman itu melihat ada sepasang merpati jingga hinggap di atas bendul jendela. Segera ia membisikkan sesuatu ke telinga Raja. Mendengar itu, serentak muka Raja lalu menjadi berapi-api.

Kemudian, bersama-sama dengan paman, keudanya membidikkan anak panahnya ke arah sepasang merpati itu. Malapetaka yang tak terduga adalah pengkhianatan yang tak terbanding ngerinya. Kedua ekor merpati itu menggeletak di tanah dan menghembuskan napasnya.

Apabila hari senja, tukang kebun istana memungut bangkai kedua ekor burung itu dan menanamnya di bawah jendela. Maka, pada keesokan harinya tukang kebun itu keheran-heranan ketika melihat bahwa di atas kuburan itu telah tumbuh dua bunga mawar yang berbelitan dan tengah berbunga. Semua orang keheran-heranan dan terharu ketika mendengar pula tentang hal itu.

Lihatlah, bagaimana cinta yang suci itu menjelmakan dirinya menjadi bunga! Yang suci menjadi tumbuh-tumbuhan, yang harum menjadi bunga. Kedua batang pohon mawar itu berbelitan sebagai pernyataan bahwa mereka tidak bisa dipisahkan. Bunga mereka sangat semerbak sebagai pernyataan bahwa mereka penuh kesucian. Dewa khalik langit dan bumi memberkati percintaan yang suci sebagaimana ia memberkati setiap butir embun yang turun ke bumi pada malam hari.

Raja sangat berang mendengar kabar tentang dua batang dua bunga itu. Walaupun begitu, ia tidak menyuruh orang untuk mencabutnya. Namun, tiap malam ia datang dan mengencingi dua batang bunga itu. Itu adalah racun. Lebih pahit daripada segala tuba. Lebih perih dari segala luka dan siksa. Maka, pelan-pelan dari hari ke hari yang penuh penghinaan, layulah bunga itu. Suatu keharuman yang muram.. suatu keindahan yang memancarkan duka.

Pada hari yang kelima, ketika Paman lewat tempat itu sambil mengendarai seekor kuda ia melihat bahwa kedua batang bunga itu sudah kuyu keracunan. Ia tertawa senang sekali dan menyempurnakan penghancurannya dengan menyuruh kudanya untuk menginjak-injak sisa-sisa tumbuh-tumbuhan itu.

Yang indah pun akhirnya meluluh jadi debu. Debu yang sangat lembut hingga sama ringan degan udara.

Maka, bila hari menjelang malam datanglah angin yang bertiup agak keras. Debu dari dua batang bunga yang telah bercampur menjadi satu itu pun telah terbawa ikut terbang bersama angin. Ke mana? Ke arah yang tak terduga. Sebab siapakah dapat menduga kuburan cinta? Cinta tak mengenal kuburan. Tak mengenal maut dan tak mengenal penghancuran. Lambang  dari dua jiwa yang tak bisa dipisahkan Raja dari segala kebahagiaan. Kerajaannya tak terbatas. Melampaui keluasan langit, bumi, dan lautan. Kerajaan cinta tak mengenal cakrawala.

Minggu Pagi, 23-11-1958

__________________________________________

W.S. Rendra yang memiliki nama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935 – meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Sejak muda, dia menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa. (Sumber: wikipedia.org)

 

 

__________________________________________

Tulisan di atas diambil dari buku karya W.S Rendra, “Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemula: Kumpulan Cerpen”, (Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka, Maret 2017), Hlm. 17-27


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending