272
A. Adib Amrullah |

Antara

 Gambar: www.arlenedubostudio.com

 

“….Seribu salam bagimu wahai kekerasan

Yang karenamu dapat kureguk indahnya kelembutan

Seribu salam bagimu wahai kejahatan

Yang karenamu sangat kurindukan kebaikan…”

 

Merdu, syahdu, pilu, kudengarkan alunan lagu dari sang penjaga waktu yang tak tahu waktu, Menorehkan tinta kepedihan pada daging dalam ragaku.

Kudendangkan lagu tentang kesunyian, kudendangkan lagu tentang kebisingan, namun bibir dan hatiku tetap bisu, bisu, bisu. Bangs*t!!!

Kenapa tak kau ledakkan saja kepalaku ketika aku menamparmu dengan kata-kataku?

Kenapa kau tak menerima saja ketika aku memberikan sepotong kue dari perjalananku di tengah perjalananmu?

Kenapa aku terlalu banyak meminta dan merasa telah memberi? Kenapa? Kenapa? kenapa terlalu banyak “Kenapa”? Kenapa tak kau hilangkan saja kenapa itu? Kenapa ? Kenapa? Brengs*k!!

Memang, waktulah yang bisa menjawab segalanya tapi bisakah aku hidup tanpa harus melewati ruang dan waktu? Kemudian dalam alam bawah sadarku akan kukitari langit dan segala isinya tuk memetik setengah atau bahkan seperempat titik dari kebesaran-Nya, lalu dalam kesunyianku akan aku ciptakan dunia itu.

Ya.. duniaku sendiri, dunia dimana hanya ada kepakan sayap kupu-kupu putih yang tak pincang ditinggalkan sang hitam, dan hamparan rerumputan putih nan asri tanpa hitam setitikpun dan takkan ada lagi kemenangan-kemenangan itu, kemenangan-kemenangan yang selalu mensyaratkan kekalahan-kekalahan, takkan ada lagi kepalsuan-kepalsuan itu, kepalsuan yang mengikis keaslian, takkan ada lagi kepentingan yang antara dia dan kebodohan hanya dibatasi oleh tirai yang tipis. Hahahaha…. G*blok!!

Waktu…waktu kenapa sulit sekali engkau kujinakkan? Bukankah engkaupun sama seperti aku? Sama-sama makhluk dan sama-sama hidup di alam ini? Tapi kenapa aku merasa tak bisa mengenalmu dan bercengkerama denganmu, apalagi untuk menyemaikan sayap-sayapku yang telah lapuk dimakan olehmu ini.

Pernah suatu malam ketika keheningan mengepungku dengan segala asanya, terbesitlah dalam benakku untuk merajut cinta kasih dan menjalin hubungan mesra dengannya supaya kelak aku tak tertinggalkan olehnya.

Tapi.. itulah aku, aku yang tak bisa meraba candamu, aku yang tak bisa melukis tawamu dalam kesenanganku, aku yang hanya merabamu dalam kesendirianku, aku yang…ahh.. Begitu pandirnya aku. Padahal dengan segala ketidaksadaranku pun aku pasti tahu bahwa semua lelakumu selalu ada dalam setiap denyut nadiku, dalam setiap hembusan nafasku, dalam setiap getaran tubuhku, dan dalam setiap degupan jantungku. Sial!!

Cobalah kau lihat dunia mereka itu!! Dalam setiap kebenaran yang mereka dendangkan selalu saja ada firman dan kekerasan, firman yang mereka jadikan magnet dan kekerasan yang mereka jadikan besi, apakah tidak mereka sadari bahwa air tak akan pernah bersatu dengan minyak?

Dan tidakkah mereka sadar bahwa dengan kekerasan mereka itu, mereka akan terlihat sangat kerdil, lemah syaraf, lemah otak dan lemah jiwa? Sadarkah mereka bahwa kekerasan tak akan pernah membuat mereka ditakuti tapi dikutuki? Lalu kenapa mereka selalu menganggap kekerasan itu wajib? Mereka anggap itu kebenarankah? Hmmmh kebenaran macam apa itu?

Kebenaran adalah tatkala seorang manusia mengetahui kapan harus mengajak orang-orang secara sembunyi-sembunyi dan kapan harus mengajak mereka secara terang-terangan.

Kebenaran adalah tatkala seorang manusia mengetahui kapan harus hijrah dan kapan harus menetap.

Kebenaran adalah tatkala seorang manusia tak membenci orang yang meludahinya atau melemparinya dengan batu tapi justru menjenguknya ketika ia sakit.

Kebenaran adalah tatkala seorang manusia mengarungi kehidupan tanpa mengenakan pakaian “pemaksaan” walau hanya dalam bentuk raut wajah sekalipun.

Apa arti sebuah pengorbanan suci jika dalam pengorbanan sakralmu itu engkau caci maki saudaramu sendiri? Engkau binasakan saudaramu sendiri? Engkau pasung saudaramu sendiri? Engkau cabik-cabik mereka? Hmmmh itu bukanlah “rahmatan lil ‘alamin”!! Tapi “rahmatan lima dzahabta ilaihi”.

Apa arti sebongkah pemberian jika dalam engkau memberi engkau mengharapkan imbalan? Itu bukanlah pemberian, tapi tuntutan!! Tuntutan yang karenanya dunia tak akan bisa menjadi indah. Dan pasti, kau tak akan pernah bisa mencicipi nikmatnya “keindahan” itu. Karena kau adalah sang penuntut itu, penuntut yang berjalan di atas huruf dan ayat-ayat, Penuntut yang berjalan di balik jubah-jubah, penuntut yang lebih mementingkan “kopyah” daripada “sirah”.

Saudaraku, maukah kau mencoba untuk melupakan tuntutanmu itu sejenak dan lepaskan gairahmu sekejap lalu manjakanlah hati dan akalmu seratus abad.

Keindahanku adalah tatkala engkau membiarkan rusa, kerbau, tumbila hidup dalam alamnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sesekali biarkanlah sang tumbila menyedot darahmu dengan segala aroma apek yang ada dalam dirimu, dan kalaupun engkau tak rela darahmu yang apek itu disedot oleh sang tumbila yang kurus kerempeng itu, kemudian karena ketidak-relaanmu engkau ingin membunuhnya maka cukup bunuh dia dalam hatimu saja. Jangan sampai kau bunuh dia di khalayak umum apalagi harus kau penjarakan dia dulu atau kau salib dulu sebelum kau bunuh, itu bukanlah ketololan tapi kebodohan yang nyata!!

Keindahanku adalah tatkala engkau tak lagi membandingkan mana yang lebih baik antara sapi, keledai, kerbau dan monyet.

Keindahanku adalah tatkala engkau tak lagi menginginkan rusa untuk menjadi kerbau, atau sapi untuk menjadi kambing apalagi memaksakannya, tapi cukup kau ajari mereka falsafah ke“kerbauan” atau ke“kambingan” dengan segala laku lampahnya. Karena bagaimanapun rusa tak akan bisa berubah menjadi kambing, ataupun sebaliknya.

Dan jika engkau dapati segelintir kambing yang harus hidup dalam dunia kerbau maka jangan kau mengira bahwa sang kambing akan kehilangan eksistensinya!! Karena engkau bukanlah pemilik kambing dan barang tentu bukan pembuatnya. Jadi kau tidak akan pernah tahu kapan sang kambing kehilangan eksistensi kekambingannya.

Dan tidakkah engkau ketahui bahwa sesungguhnya tingkat ke“Wagu”an yang paling tinggi adalah tatkala engkau mengoyakkan tirai-tirai keyakinan dengan paksaan, paksaan yang oleh “orang yang engkau bersedia mengorbankan segalanya” itu tidak pernah beliau lakukan, apalagi Beliau cintai!!

Maaf.. Saudaraku, Aku terlalu memaksakanmu…

****

Kairo 26 Oktober 2005

 

*) A. Adib Amrullah, Alumnus Assiddiqiyah Islamic College, Kedoya, Jakarta. Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebuman dan Penulis Buku “Sajak Dua Puluh Lima Nabi”

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending