354
A. Adib Amrullah |

Kutub

 

Quthb adalah pusat dari segalanya

Quthb adalah poros bagi setiap yang diam dan berputar,

yang hening ataupun bingar,

yang berjalan ataupun melata,

yang ada ataupun tiada,

yang tampak ataupun maya,

yang tertidur ataupun terjaga,

bahkan hingga onggokan tanpa jiwa.

 

Quthb adalah pemimpin bagi setiap hamba,

pancaran bagi segenap pemuka,

jiwa bagi setiap raga,

makna bagi setiap konsonan kata,

kepala bagi setiap tubuh yang ber-anggota.

 

Quthb adalah pemberi mulia bagi si hina,

pemberi maaf bagi pendosa,

pemberi kekuatan bagi si papa,

pemberi murka bagi si durja.

 

Quthb adalah penghimpun bagi setiap yang tercecer,

ibarat kita sampah merekalah yang sudi menjadi pemulungnya,

ibarat kita tanah merekalah yang sudi menjadi petaninya,

ibarat kita rumah merekalah yang sudi menjadi arsiteknya,

ibarat kita hamba merekalah yang sudi menjadi tuannya.

 

Quthb satu jari kelingkingnya,

dua jari manisnya,

tiga jari tengahnya,

empat jari telunjuknya,

lima jari jempolnya.

Satu jari kelingkingnya bersama dua jari manisnya

atau tiga jari tengahnya

atau bahkan dengan empat jari telunjuknya

tak kuat kokoh dalam rengkuhnya,

tak tonggak tegak dalam genggamnya tanpa lima jari jempolnya.

 

Quthb adalah katode, anode, electrode

atau tarikan magnetis.

Ia laksana bintang di padang utara

atau api di kutub antartika.

Sungguh Quthb adalah pesona.

Pesona yang tara juga tiada tara,

pesona yang meliuk liuk laksana,

seperti tombak yang menancapkan ujungnya

dalam rongga mata.

 

Ohhh.. dimana mereka?

Aku ingin mengenal mereka..!!

“tak ada yang bisa mengenal mereka

kecuali yang di perkenankan oleh-Nya!!”

walaupun mereka nyata seperti udara,

bahkan merekah perkasa seperti sinar surya,

namun takkan nampak dan terasa

bagi hidung dan mata yang tak bertelinga.

tapi sungguh aku ingin mengenal mereka,

“sungguh tidak bisa,”

karena siapapun yang menyatakan

“mengenal secara hakiki”

ia telah membuat keberadaannya lebih tinggi

dan lebih unggul dari obyek yang ia kenal”.

Cukup bagi kita mengenal posisi dan pangkatnya

juga suri tauladan yang memancar

dari para poros cinta,

untuk kita tiru kuantitasnya hingga sampai pada titik kualitasnya.

 

Sudahlah.. Sebut saja..

bukankah menyebut tak harus mengenal?

sebut saja mereka..

sebagai penebusan dosa,

sebagai pembuka pintu cinta,

sebagai penolak marabahaya

dan sebagai sumber dari mata air surga.

Tulislah tentang mereka..

tulislah, hingga tak ada lagi dosa dalam aksara

atau sesat dalam guratan pena.

 

Dan bacalah !! maka:

Engkau akan terpaku karena tak bisa membaca

Lalu engkau akan tertawa karena tak mengetahui maknanya

Lalu engkau mulai terdiam saat terasa

Dan kaupun menangis saat engkau terbaca.

 

Bumi Pesta (Darussa’adah), 04-12-2015

 

*) A. Adib Amrullah, Alumnus Asshiddiqiyah Islamic College, Kedoya, Jakarta. Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Penulis Buku “Sajak Dua Puluh Lima Nabi”

 

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending