606
A. Adib Amrullah |

Puisi: Alam Malam

Sumber gambar di sini

Pagi yang senyap itu aku masih terpaku, sama seperti dulu, terpaku oleh kebisingan yang sarat akan caci, tak ada yang berubah sedikitpun, terus berputar dan melingkar; lalu terhempas pelan kedalam hatiku. Hati yang sunyi dari cinta, hati yang bahkan setanpun ikut bernaung didalamnya, hati yang tak mampu kumenampung kehingaran berfikir dan bekerja, apalagi untuk berkorban walau hanya demi seekor nyawa.

Dan masih seperti biasa, sang siangpun kembali menampakkan ketajaman sorot matanya  dengan tatapan yang nanar, ganas, dan panas. Tak ada kehangatan sedikitpun didalamnya. sehingga akupun malas berlama-lama memujanya.

Aku tak begitu mencintai siang, karena siang selalu memaksaku menghindar dari tatapanya dengan memberikanku saat untuk bernaung dibawah pohon-pohon rindang. Aku tak begitu mencintai siang !! karena ketika mataku hendak menatapnya, aku tak kuasa, ketika hendak kurengkuh dia, aku hangus tak tersisa. Siang terlalu baik hati untuk aku cintai, dan terlalu ganas untuk aku benci.

Lalu dengan berhias malu tibalah sang senja menampakkan diri dengan garis-garis cahaya yang meredup, melambangkan keteduhan sikap, yang senantiasa memberikan kelembutan dengan tiupan udaranya yang menyejukan jagad, menusuk tulangku yang kian hari kian terlahap usia. 

Ahhh…!! aku tak bisa mencintai senja !! senja terlalu lembut untuk aku cintai dan terlalu lemah untuk aku benci, karena hadirnya yang terlalu singkat. hingga ketika hendak aku mencumbu sang malampun telah merenggutnya.

Dengan pelan namun pasti; sang senjapun mulai meredup. Meninggalkan alam sayunya menuju kegelapan, ya kegelapan yang pekat gempita. Ohhh malam.. kenapa kau hanya datang duabelas jam dalam sehari? Kenapa tak kau malamkan pagiku? Siangku? Senjaku? Malamkanlah aku, malam.

“Kenapa kau begitu mencintai malam kawan?”

“Karena bagiku, malam adalah akhir dari sebuah proses, proses dari ada menuju tiada dari cerah menuju khafa’, dan dari bangga menuju hina.”

*****

Diambil dari buku Kumpulan Puisi A. Adib Amrullah, “Seekor Aku,” hlm 11-13

___________________________________

*) A. Adib Amrullah, Alumnus Assiddiqiyah Islamic College, Kedoya, Jakarta. Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebuman dan Penulis Buku “Sajak Dua Puluh Lima Nabi”


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending