152
Muhammad Afiq Zahara |

Puisi: Ibu

Sumber gambar di sini

Oleh Muhammad Afiq Zahara

(Puisi Ibu)

Kau berucap

padaku dalam baring:

“Sedih tak perlu terlalu menyedihkan,”

Aku tak mengerti,

Haruskah aku berpura-pura dan menipu diri

Dia berucap lagi:

“Kepura-puraanmu adalah berkah untukku,

selaksa upacara pelepasan burung-burung

bermahkota tanpa meninggalkan beban.”

Aku diam,

memandangi rintihan air matanya

Ingin kuhapus, namun …….

“Jangan menangis,” ujarnya lagi,

kali ini dengan sisa upayanya

Aku bertanya:

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Cukup berlajar memeluk kesedihan,” jawabnya

“Apa itu mungkin?” tanya bibir keringku

“Kenapa tidak?” tatapnya menusuk dukaku.

“Separti kayu dalam sampah yang tak berguna,

jika kau merubahnya menjadi sesuatu,

ia akan menjadi sesuatu. Itu murni urusan

kehendakmu.”

Dalam suasana,

yang semacam neraka

dalam satu kamar surga,

aku duduk,

tak sambil meringis dan menganga,

hanya kesedihan

yang tak mampu kuusir pergi

“Ibu, kau ini aneh,” ujarku,

mataku dan hatiku menjadi cermin rindu

“Keanehan tidak selamanya terkutuk,

terkadang ketakjuban, keingin-tahuan

dan ketulusan muncul darinya,”

 tutupnya sebelum tertutup

Aku

diam dalam tangis

yang mekar melayang,

memandangi bujuran bunga

Inikah yang dinamai guguran bunga?

Saat tangkainya terasa asing

karena tertinggal mawarnya

Oh Ibu….

Dengan rusak yang memilukan,

kututup matamu dengan rindu

****

(Jakarta 2012)

*) diambil dari buku “Ibuku, Surgaku: Sebuah Catatan Seorang Anak” hlm 9-10 (Penerbit Pacumedia, Yogyakarta)

_______________

*) Muhammad Afiq Zahara


Kepada para pembaca setia Tangga.id dan para penulis. Tangga.id mengundang Anda semua untuk menjadi kontributor, menyumbangkan pemikiran dan gagasan Anda melalui web Tangga.id. Ingin tahu bagaimana aturan mainnya, klik di sini

Share this...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestEmail this to someonePrint this page
Tangga.id
Trending